Terjebak di Pulau Sampai Berhasil Membuat Perahu Layar: Upaya Jimmy dan Teman-temannya yang Gagal di Lima Persen Terakhir
MrBeast ミスタービーストVideo ini berangkat dari pertanyaan sederhana yang diajukan Jimmy: kalau ia dan teman-temannya terdampar di sebuah pulau, apakah mereka bisa kabur? Dalam tantangan ini, Jimmy, Chandler, Nolan, Hase, dan Darius ditinggalkan di sebuah pulau di tengah Samudra Pasifik. Satu-satunya jalan keluar adalah membuat perahu layar sendiri lalu menyeberangi laut terbuka ke pulau lain. Mereka tidak boleh pergi sebelum perahu itu jadi. Hampir tidak ada di antara mereka yang pernah berlayar. Video ini merekam sekitar seminggu kerja di pantai, uji coba yang nyaris gagal, dan hampir dua belas jam pelayaran yang berakhir hanya beberapa ratus meter dari tujuan.
Premis: sekumpulan YouTuber tanpa pengalaman berlayar
Sejak awal Jimmy mengakui posisi mereka. Ia sendiri, Nolan, dan Chandler belum pernah berlayar, apalagi membuat perahu layar. Hase diajak karena di video sebelumnya ia pernah membuat perahu layar, jadi dialah satu-satunya yang punya gambaran tentang apa yang harus dikerjakan. Jimmy memperlihatkan animasi 3D perahu yang harus mereka bangun. Salah satu temannya langsung menyebut target itu mustahil, tetapi Jimmy menjawab bahwa kalau perahu itu tidak dibangun, mereka akan tetap terjebak.
Prioritas pertama bukan perahu. Mereka harus mengumpulkan persediaan dan membuat tempat berlindung lebih dulu, "supaya pulau ini nggak ngebunuh kami sebelum kami kabur." Di hari pertama mereka membuat gubuk yang mirip rumah pohon dan membuka sebuah peti berisi sedikit perlengkapan bertahan hidup. Jimmy menekankan bahwa air di peti itu memang terlihat banyak, tetapi harus cukup sampai perahu selesai. Masalahnya, ia sama sekali tidak tahu berapa lama pembangunan akan berlangsung, karena mereka "cuma sekumpulan YouTuber yang mencoba membangun gubuk dari nol." Membangun kamp saja sudah membuat mereka kewalahan, dan beberapa dari mereka langsung memperkirakan prosesnya akan lama sekali.
Prototipe Hase dan skala yang dibutuhkan
Pagi hari kedua, ketika yang lain baru bangun, Hase sudah mulai bekerja sendirian. Ia membuat miniatur perahu: dua lambung, balok penghubung di atasnya, dan sebuah tiang. Untuk layar miniatur itu, Hase meminta sebagian baju Nolan. Nolan sempat protes, tetapi akhirnya memberikannya. Miniatur itu diuji di air dan mengapung.
Namun prototipe kecil itu baru menunjukkan seberapa besar pekerjaan yang tersisa. Menurut mereka, perahu sungguhannya harus sekitar 40 kali lebih besar, mampu menahan beban sekitar 500 kilogram, dan membawa mereka semua sampai ke pulau seberang.
Mencari bahan: bambu, hutan, dan sampah laut
Bahan utama yang mereka cari adalah bambu, karena sangat ringan sehingga mudah mengapung. Masalahnya, bambu ada jauh di dalam hutan. Sebelum mereka masuk, Hase mengadakan "rapat darurat" untuk memperingatkan tiga ancaman yang harus diwaspadai: ular Fer-de-Lance, ular viper bulu mata kuning, dan laba-laba pisang pengembara. Di hutan, baju salah satu dari mereka dikerubungi semut, ada sarang lebah yang hampir disodok, dan Jimmy berkomentar bahwa semua yang ada di sana seperti ingin membunuh mereka.
Sumber bahan kedua ternyata sampah. Menurut penjelasan di video, kapal-kapal besar sering lewat di sekitar pulau dan membuang sampah ke laut, yang akhirnya terdampar di pantai. Bagi mereka, sampah itu justru berguna. Mereka menyisir pantai mencari wadah, terutama wadah atau tong biru yang masih utuh dan tertutup, karena wadah semacam itu bisa menjadi pelampung. Ada wadah yang ditemukan sudah hancur dan tidak bisa dipakai, ada juga yang masih utuh dan langsung diuji apakah bisa mengapung. Di sela-sela itu mereka berkelakar bahwa sambil berusaha pergi, mereka sekaligus membersihkan pantai.
Panas menjadi hambatan besar. Salah satu dari mereka mengaku hampir pingsan karena kepanasan. Di akhir hari kedua, bahan untuk mulai membangun sudah cukup, tetapi tidak ada yang punya tenaga untuk mulai mengerjakannya. Ketika ditanya apakah puas dengan pencapaian hari itu, Jimmy menjawab bahwa kalau terus begini, prosesnya bisa memakan waktu sebulan. Malamnya, Nolan terbangun karena ada laba-laba besar yang mereka anggap berbahaya. Kekacauan menangkap dan membuang laba-laba itu membuat Nolan tidak yakin bisa tidur lagi.
Pindah ke tempat teduh dan rangka mulai terbentuk
Belajar dari hari sebelumnya, mereka memindahkan area kerja ke bagian pantai yang lebih teduh. Jimmy menjelaskan bahwa mereka harus pindah supaya bisa bekerja seharian, bukan hanya beberapa jam. Dalam perjalanan ke lokasi baru, Chandler menemukan tong ketiga yang menambah daya apung perahu.
Pembagian kerja juga berubah. Chandler mengambil alih kamera dari Darius dan menyuruh Darius ikut membangun. Dengan Darius di tim pembangun dan Chandler di belakang kamera, rakit mulai terbentuk. Jimmy mengingatkan risikonya: jika satu simpul saja lepas ketika mereka dihantam ombak, mereka semua bisa tenggelam di tengah laut. Bambu disusun menjadi dek, termasuk bagian yang mereka sebut "dek poop", disertai lelucon soal namanya. Pada titik ini perahu mulai terlihat seperti perahu sungguhan. Ketika diberi pilihan antara melanjutkan mengikat, merapikan, membuat layar, atau makan malam, semuanya memilih makan malam.
Strategi pasang surut
Keesokan paginya, Hase menjelaskan rencana yang menurutnya bisa menjadi keuntungan. Saat air surut, arus akan menarik air menjauh dari pantai. Kalau mereka bisa masuk ke arus itu, perahu akan terseret ke laut ke arah yang mereka inginkan. Hase juga memberi peringatan yang kelak terbukti relevan: jika angin dan arus sama-sama berlawanan, mereka tetap tidak akan sampai ke pulau itu, bahkan seandainya ia diberi mesin.
Hase merasa semua orang menggantungkan harapan padanya. Ia mengatakan bahwa jika idenya berhasil dan mereka bisa mewujudkan rencana itu bersama orang-orang yang belum pernah berlayar, ia akan menghargai kenangan itu seumur hidup.
Tong keempat, krisis di bawah terik, dan air yang menipis
Rangka perahu belum seimbang. Menurut mereka, tanpa tong keempat salah satu ujungnya akan bermasalah. Pencarian tong keempat menjadi bagian yang paling melelahkan. Jimmy berkomentar bahwa sebagian besar video ini isinya hanya mereka mengubek-ubek sampah, tetapi sampah itulah harapan mereka untuk keluar. Ia menyebut suhunya sekitar seratus derajat. Mereka sudah menyisir pantai selama dua jam ketika akhirnya menemukan tong biru, sekaligus sebuah benda yang bisa dipakai sebagai kemudi.
Membawa tong itu kembali melewati bebatuan hampir membuat Nolan tumbang. Nolan tidak membawa air, jari-jarinya kesemutan, dan penglihatannya mulai menyempit. Darius berjalan membawa tong biru, sementara Hase berlari menolong Nolan dan menyuruhnya minum banyak-banyak. Meski begitu, mereka menilai hasilnya sepadan karena tong dan kemudi berhasil dibawa pulang. Jimmy menyebut momen ini sebagai saat mereka sadar bahwa semuanya harus bekerja sama supaya berhasil. Pada titik ini mereka juga sudah memakai lebih dari setengah persediaan air, sehingga tidak bisa tinggal lebih lama lagi.
Keempat tong lalu dipasang ke rangka penyangga sebagai mekanisme pengapung. Kalau tong itu lepas, kata mereka, perahu akan tenggelam dan semuanya harus diulang dari awal. Berikutnya mereka membuat balok silang dengan pola ikatan yang sama untuk 17 balok di kedua sisi. Di tengah proses itu, sebuah tali justru putus, padahal tali itulah yang mereka andalkan untuk menahan semua orang saat menyeberangi laut.
Uji apung: titik balik pertama
Tali yang putus itu menempatkan mereka di persimpangan. Pilihan pertama adalah terus membangun sambil berharap semuanya berhasil, dengan risiko perahu hancur di hari keberangkatan. Pilihan kedua adalah berhenti sebentar, memasukkan rakit ke air, dan memastikan perahu mengapung sebelum melanjutkan. Mereka memilih menguji. Hase mengingatkan bahwa ia bukan pembuat kapal dan hanya "tahu beberapa hal".
Rakit itu mengapung. Mereka bersorak, dan Jimmy mengatakan ini pertama kalinya dalam video ia merasa tantangan ini benar-benar mungkin. Mereka membayangkan perahu itu nanti dilengkapi lantai sungguhan, layar, kemudi, dan dayung.
Di sela-sela pekerjaan, Jimmy merefleksikan jenis video ini. Di channel-nya, kata Jimmy, banyak video berupa set besar dengan ratusan peserta dan hadiah besar seperti satu juta dolar. Kadang ternyata menyenangkan juga diturunkan di sebuah pulau bersama empat teman untuk membuat perahu layar. Ia mengakui ini salah satu video paling sulit karena panas dan serangga, tetapi menyenangkan bisa nongkrong lagi bersama teman-temannya. Dulu mereka sering membuat video seperti ini dan ia tidak tahu kenapa mereka berhenti. Jimmy memperkirakan, jika mereka fokus sampai sore berikutnya, perahu bisa selesai, lalu sehari setelahnya mereka bisa berlayar kalau arusnya tepat.
Dari rakit menjadi perahu layar: dayung, skeg, dan layar kepiting
Mereka menyadari bahwa yang mereka punya masih rakit, bukan perahu layar, karena belum ada apa pun untuk menangkap angin. Sementara itu tekanan bertambah. Air semakin menipis, dan kondisi Nolan memburuk. Ia menghitung lebih dari 60 gigitan serangga di lengan dan tangannya saja, dan mengatakan tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan kalau mereka tidak pergi besok.
Tidak semua rencana berhasil. Mereka menemukan benda logam yang terdampar dan berniat merebus potongan plastik di atasnya untuk dibentuk menjadi dayung. Plastik itu tidak meleleh meski airnya benar-benar mendidih. Mereka bercanda bahwa eksperimen semacam itu sebaiknya diserahkan pada Mark Rober, sedangkan di video ini penonton hanya melihat "orang-orang bodoh" bertahan hidup di pulau.
Rencana pun diganti. Mereka membuat dayung dari bahan lain. Awalnya dayung itu ikatannya longgar sehingga mereka bercanda dayungnya lebih mirip bendera, lalu mengikatnya lebih kencang. Mereka membuat empat dayung. Ada juga skeg, yang dijelaskan berfungsi menjaga perahu tetap lurus bahkan ketika perahu sendiri cenderung berbelok. Hase membuat layar dari bambu yang sangat tipis tetapi kuat dan menyebutnya layar kepiting, "kayak orang Polinesia kuno." Setelah layar diikat ke tiang, mereka mengebor lubang untuk engselnya. Jika engsel itu gagal, seluruh layar akan rusak.
Waktu juga menjadi faktor penentu. Menurut penjelasan mereka, sedang terjadi pasang ekstrem karena bulan baru. Jika mereka berangkat saat air mulai surut, arus akan menyeret mereka langsung ke pulau tujuan. Dengan kurang dari 12 jam sebelum pasang berubah, mereka bekerja tanpa henti. Layar dipasang dan langsung menangkap angin. Mereka juga menunjukkan bahwa layar bisa diturunkan dengan menarik satu tali jika arah angin tidak menguntungkan. Pekerjaan berlanjut hingga hampir tengah malam, jauh melewati jam tidur biasa. Chandler bahkan sudah tidak yakin sedang mengerjakan apa sebelum menyadari ia sedang membuat kemudi. Belakangan disebutkan bahwa mereka membangun perahu enam hari berturut-turut, 12 jam sehari.
Keberangkatan dan jam-jam pertama di laut
Malam sebelum berangkat, salah satu dari mereka bercerita bahwa yang ia pikirkan hanyalah pulang dan bertemu keluarga. Satu-satunya jalan ke sana adalah perahu darurat ini. Sebelum berlayar, mereka membuat "janji" lewat yel-yel: kalau capek, tetap mendayung; kalau semakin capek, tetap mendayung; kalau ingin berhenti, tetap mendayung. Video ini juga memuat segmen sponsor sebelum keberangkatan.
Begitu turun ke air, arus langsung menarik perahu keluar. Mereka mendayung untuk melewati ombak, lalu membuka layar dan mendapat angin sepoi-sepoi. Mereka mencatat kecepatan sekitar 1,5 km per jam, yang menurut mereka setidaknya cukup untuk sampai. Pulau tujuan belum terlihat karena jaraknya masih sekitar delapan kilometer, dan mereka tidak tahu berapa lama perjalanan akan memakan waktu.
Hase memperingatkan bahwa arus yang membantu ini tidak akan bertahan lama. Dalam beberapa jam mereka akan memasuki sebuah jalur di mana arus akan menarik mereka ke samping, langsung ke laut lepas. Karena itu mereka harus memakai seluruh tenaga untuk mendekat ke pulau sebanyak mungkin sebelum mencapai jalur itu. Dua puluh menit setelah berangkat, beberapa dari mereka sudah sangat lelah, dan salah satunya mulai mabuk laut. Mereka juga mendapati diri bergerak melawan arah angin. Hase lalu menerapkan rotasi 15 menit: tiga orang mendayung di sisi kanan sementara satu orang beristirahat bergantian. Setelah sekitar 45 menit, mereka memperkirakan sudah menempuh sekitar 20 persen perjalanan.
Dayung patah, perahu berputar, dan jalur arus
Mendekati jalur arus, keadaan memburuk. Sebuah dayung patah, sebagian bagian perahu jatuh, dan Hase sendiri sempat tercebur. Perahu mulai berputar ke samping, sehingga setiap kali keluar jalur mereka harus mendayung keras dengan tarikan panjang untuk meluruskan arah. Angin juga semakin kencang. Setelah berhasil kembali ke arah yang benar, mereka sempat menemukan ritme. Pulau asal sudah tidak terlihat lagi, dan seseorang berkata ia tidak mau terjebak di tengah lautan dengan siapa pun selain mereka.
Namun kemajuan dibayar dengan kelelahan. Ada yang dehidrasi, Chandler mual, ada yang mengeluh bahunya seperti terbakar, dan mereka menggambarkan diri seperti lobster yang dimasak di bawah matahari. Di jalur itu ombak semakin besar. Hase menyuruh Darius berhenti mendayung, tetapi Darius menolak karena menurutnya jika ia berhenti lima detik saja, perahu akan berbelok. Hase menjelaskan bahwa di bagian ini arus paling kuat dan angin paling kencang, sehingga tenaga mereka diperlukan agar perahu tidak terlalu jauh keluar jalur.
Selama berjam-jam arus menarik perahu ke kiri, lalu ke kanan, lalu memutarnya dalam lingkaran. Mereka sadar tidak ada kemajuan sama sekali dan merasa sudah kalah, terlalu jauh untuk kembali tetapi semakin putus asa untuk maju. Setelah enam jam mendayung, Jimmy mabuk laut dan Chandler tampak tertidur. Hase sibuk mengarahkan dan memegang layar, sementara Darius disebut mendayung tanpa henti. Misi kini bergantung pada Hase, Nolan, dan Darius. Darius melaporkan pulau masih 5,6 kilometer lagi. Menurut Hase, jika mereka bisa masuk ke arah angin yang benar dari pulau itu, mereka bisa mengikuti arus dan angin, tetapi karena banyak jarak hilang di awal, mereka seperti "mendaki bukit supaya bisa menuruni bukit."
Pada jam ketujuh, setiap kali berhenti mendayung perahu justru bergerak mundur dan tersedot ke arah samudra. Seseorang mengusulkan untuk menembakkan flare, dan yang lain tidak menolak. Darius, yang mengaku mendayung non-stop selama tujuh jam, berkata ia sudah tidak sanggup lagi. Yang paling menyebalkan bagi mereka, pulau itu terlihat begitu dekat tetapi terasa begitu jauh.
Pasang berbalik: harapan kembali
Sambil berbaring lemas di perahu, Jimmy teringat ucapannya dua hari sebelumnya bahwa kadang menyenangkan ditinggalkan di pulau bersama empat teman untuk membuat perahu. Lalu, seperti keajaiban kata mereka, alam mulai membantu. Air mulai pasang, arus menarik mereka ke arah daratan, dan tanpa mereka sadari mereka sudah keluar dari jalur arus tadi. Perahu bergerak menuju pulau tanpa didayung.
Alat yang dipegang Darius kini menunjukkan 4,7 km. Ketika ditanya apakah mau mencoba sekali lagi, mereka menjawab layak dicoba. Darius mengatakan ia memang sempat bilang ingin menyerah, tetapi tidak akan menyerah sebelum semuanya benar-benar berakhir. Setelah delapan jam di laut, terbakar matahari, lapar, dan dehidrasi, mereka kembali mendayung. Angka di alat terus turun dari 4,2 ke 2,7, lalu ke satu kilometer, sementara mereka menghitung bersama 1,6, 1,5, 1,4, 1,3. Daratan sudah terlihat jelas dan mereka bersorak.
Dua puluh menit sebelum arus berubah
Kegembiraan itu, menurut narasi video, membuat mereka lengah, karena masih ada satu perubahan pasang terakhir. Mereka hanya punya sekitar 20 menit sebelum arus berbalik. Video memutar ulang peringatan Hase di awal: jika angin dan arus sama-sama salah, mesin pun tidak akan menolong. Sudah sebelas jam di perahu, mereka mengerahkan semua tenaga di 15 menit terakhir sambil saling menyemangati soal kerja tim.
Ketika mereka sudah sekitar 95 persen menuju tujuan, angin samping yang kencang mengubah arah perahu dan membuat mereka melenceng terlalu jauh ke kanan. Terjadi perdebatan soal layar. Ada yang menilai layar justru membuat mereka semakin menjauh dan sebaiknya diturunkan. Hase berpendapat mereka tidak bisa melawan angin tanpa layar, dan sempat menyarankan menaikkan layar. Yang lain menyebut itu tidak masuk akal karena angin datang tepat dari depan. Sambil menghitung mundur waktu yang tersisa, mereka mendayung sekuat tenaga di sisi kanan, diterpa ombak besar.
Arus kemudian berubah. Air yang tadinya mendorong dari belakang kini mendorong dari depan, dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Alat menunjukkan pulau tinggal 0,8 km. Ada yang menyeletuk bahwa mereka bisa berenang ke sana, tetapi tak lama kemudian mereka mengakui bahwa usaha ini sudah selesai.
Akhir: gagal karena lima persen terakhir
Setelah hampir 12 jam mendayung dan berlayar, mereka gagal mencapai pulau. Menurut Jimmy, seandainya mereka 20 menit lebih cepat, mereka pasti sudah sampai. Hase meminta maaf dan mengatakan seharusnya ia bisa melakukannya lebih baik. Flare akhirnya ditembakkan.
Jimmy menyebut ini tantangan tersulit yang pernah ia lakukan di channel-nya. Menurutnya, kegagalan ini terasa lebih berat karena mereka sudah begitu dekat dan gagal hanya karena arus berubah di lima persen terakhir. Ia mengaku benci kalah, tidak suka perasaan ini, dan merasa telah mengecewakan semua orang. Ia menutup video dengan janji bahwa di video tantangan berikutnya ia tidak akan gagal lagi, lalu naik ke helikopter.
Kami lagi terdampar di pulau ini, di tengah-tengah Samudra Pasifik. Dan cara buat keluar dari pulau ini dengan membuat perahu layar, terus berlayar melewati lautan terbuka ke pulau yang satunya lagi.
Kenapa? Soalnya mereka suka kita menderita. Ayo kita mulai aja. Ayo deh.
Kita nyari apaan? Barang buat bikin perahu layar. Tunggu, kalian udah pernah berlayar belum? Belum. Belum. Tapi aku tahu kita butuh kamp.
Iya, aku udah keringetan nih. Menurutku tempat ini bagus buat bikin kamp. Iya, ayo.
Kalian nggak bisa soalnya ini animasi 3D, tapi itu yang harus kita bangun. Itu nggak mungkin. Tapi, kalo nggak dibangun, kita terjebak. Kayaknya kamu benar-benar udah gila.
Sebelum kami mulai membangun perahu layar, kami harus kumpulin persediaan dan mulai bikin gubuk, supaya pulau ini nggak ngebunuh kami sebelum kami kabur.
Alasan kami melakukan tantangan ini soalnya aku penasaran, kalau aku dan teman-temanku terdampar di pulau, apa kami bisa kabur? Iya, setiap cowok pernah mikirin itu. Supaya kami nggak terjebak di pulau ini sampai kakek-kakek.
Bentengnya sekarang udah lumayan jadi. Kami buka petinya, yang berisi sedikit perlengkapan bertahan hidup.
Air ini mungkin kelihatannya banyak, tapi harus cukup sampai kami berhasil bikin perahu layar. Dan aku benar-benar nggak tahu bakal butuh waktu berapa lama, karena sebenarnya kami cuma sekumpulan YouTuber yang mencoba membangun gubuk dari nol.
Harusnya sih lebih tinggi. Chandler, aku punya ide. Oke, ayo. Oke. Aku tahan nih.
Oke, Chandler, simpul talinya gimana? Jangan bunuh aku. Tunggu. Oke, udah selesai. Turunin aku. Gimana nuruninnya? Jongkok.
Bikin kamp aja kita kewalahan. Bayangin waktu bikin perahu nanti. Iya. Hadeeh. Kayaknya bakal lama nih. Mantap. Iya, ini bakalan lama banget nih.
Tapi itu baru permulaan. Kami belum tahu, tantangan ini bakal mendorong kami melewati batas kemampuan, menguji tekad kami bertahan hidup sebagai kelompok.
Pikiran kami mulai sempit. Kita harus mendayung. Ombak besar, ombak besar!
Matahari terbenam cepat, jadi kami nyalain api dengan aman… Jatuhin! Lalu membuat rencana.
Nolan, pernah bikin perahu layar? Nggak. Chandler, kamu pernah? Nggak. Aku juga belum pernah. Itu sebabnya Hase di sini, karena di video sebelumnya dia sempat bikin. Dan besok kita mulai bikin perahu layarnya. Oke, gas! Yeeah!
Aku nggak tahu gimana bikinnya. Tapi kami terjebak sampai berhasil. Hari pertama, kita udah bikin gubuk. Kayak rumah pohon. Aku nggak sabar buat berlayar bareng orang-orang yang belum pernah berlayar.
Karena cuma Hase yang tahu apa yang harus dikerjain, di pagi hari kedua… dia mulai bikin perahunya sendirian.
Hase, kamu ngapain, bro? Bikin perahu kita. Orang-orang baru aja bangun tidur, tapi kamu udah kerja.
Kamu lagi ngapain? Ini adalah miniatur kita. Ada dua lambung. Terus di atasnya ada balok penghubung, dan di sini ada tiangnya.
Layarnya di mana? Nolan, kita butuh bajumu. Kenapa bajuku? Aku nggak butuh semuanya kok. Bro, iya aku kasih, iya aku kasih, oke?
Apa akan mengapung? Mengapung! Mengapung! Hei!
Kita udah punya prototipe yang berfungsi, tapi kita butuh yang 40 kali lebih besar, bisa tahan 500 kilogram, dan bawa kita semua sampai ke pulau itu. Kita bakal di sini sampai berhasil bikinnya. Ya udah, ayo mulai bikin.
Pertama, kami harus mengumpulkan bahannya. Tahu yang bagus buat perahu layar? Bambu. Bambu itu ringan banget, jadi mudah mengapung. Jadi kami harus cari ini yang banyak.
Tapi semua bambunya berada jauh di dalam hutan, dan aku nggak tahu bahaya apa yang mengintai di dalam sana.
Hase manggil buat rapat darurat. Kenapa? Oke, jadi, sebelum kita masuk ke hutan… Oke. Ada yang harus kalian waspadai. Ular fer-de-lance, ular viper bulu mata kuning, dan laba-laba pisang pengembara. Kamu serius? Tenang aja. Ayo kita mulai cari bambu.
Bro, bajuku disemutin banyak banget. Gimana kalo aku sodok sarang lebah ini? Jangan, jangan, jangan ya. Aku… Ya nggak bakalanlah. Semua yang di sini kayak pengen bunuh kita deh.
Apa tuh? Cuma burung!
Bro, peti ini bisa buat nyimpen barang nih. Ya, itu pasti bakal berguna banget, kan? Semoga. Tapi baliknya lumayan jauh nih.
Guys, kalian dapat banyak! Iya! Iya! Ini bagus. Wadah apa aja, kalo masih tertutup, itu berharga banget.
Kapal besar sering lewat sini dan membuang sampah ke laut, yang akhirnya terdampar di pulau ini. Sampah yang bisa kami manfaatkan. Kita bisa pakai buat bikin perahu layar. Ya, kita bersihin pantainya sambil usaha pergi.
Mungkin ada barang terdampar di sana. Kita harus menyisir seluruh pulau. Barang-barang ini harus yang sempurna.
Aku lagi nggak salah lihat kan? Aku nemuin satu wadah biru lagi, tapi kalo yang ini udah hancur. Payah.
Hei, Jimmy! Lihat ini. Bro, cek apa bisa mengapung. Mengapung nggak? Ngapung. Oke, itu penting.
Yo, wadah biru lagi. Yang ini masih utuh. Aku nggak percaya. Aku udah hampir pingsan karena kepanasan, tapi jadi terasa sepadan.
Kami udah punya cukup bahan untuk mulai membangun perahu layar, tapi karena panas, kami nggak punya tenaga buat mulai bikin hari ini.
Aku mulai ngerasa, pencapaian kita hari ini sedikit. Aku nggak percaya orang yang di topinya ada ikan ngomong begitu. Jangan lancang, Topi Matahari! Itu udah kelewatan.
Bilang perahu layar. Tu, wa, ga, perahu layar! Perahu layar!
Hari kedua, semua kecapekan. Jimmy, kamu puas sama pencapaian kita hari ini? Kalo gini bakal butuh sebulan sih. Istirahat, guys. Besok pagi kita harus bikin perahu layar. Selamat malam.
Ya ampun! Nolan baru aja… Lihat yang jalan itu? Nolan kebangun gara-gara ada laba-laba. Tunggu, tunggu, tunggu. Di sana! Di sana! Wah, itu besar banget. Itu yang bahaya.
Nolan, tangkap! Dia ke arahku! Kamu mau aku ngapain? Ya Tuhan! Keluarin dari sini! Aduh, kamu malah lempar sembarangan!
Oke, udah diberesin. Bisa kamu tidur lagi dan jangan caper terus? Aku nggak yakin bisa tidur. Selamat malam. Laba-labanya masih berkeliaran.
Besok paginya, kami nggak mau meleleh di bawah matahari kayak kemarin, jadi kami pindahin area kerjanya ke tempat yang lebih teduh di sepanjang pantai. Nggak bisa dijelasin betapa panasnya cuaca di pulau ini.
Nggak bisa dijelasin betapa panasnya cuaca di pulau ini. Kami harus pindah ke tempat teduh supaya bisa kerja seharian, jadi bukan cuma beberapa jam aja.
Waktu perjalanan ke tempat baru… Tambang emas! Chandler nemuin tong ketiga, yang bisa bikin perahu kami semakin mengapung.
Semua udah capek nyari barang, tapi akhirnya kami punya cukup bambu dan kayu buat bikin perahu layar yang bagus.
Ayo mulai bikin. Ayo bikin! Kita mulai! Ya, bro. Terus kita pergi. Kalo bisa secepat mungkin.
Emang kelihatannya nggak seberapa, tapi kayu-kayu dan sampah ini nantinya bakal jadi perahu layar. Tapi emang butuh kerja keras.
Aku capek. Sini kameranya! Darius, kamu yang kerja sana. Aku yang rekam aja. Tunggu, apa? Chandler mau ngerekam. Aku rekam kamu. Kamu mau aku… Chandler? Aku lagi istirahat. Kamu gantian sama kameramen kita? Sana, sana bantuin mereka. Ya ampun.
Darius, kamu yang harus kerja. Bro. Ya udah. Iya. Oke, semoga kamu tahu cara bikin perahu. Soalnya kami nggak.
Dengan Darius ditugasin bikin perahu layar dan Chandler di belakang kamera, rakitnya akhirnya mulai terbentuk. Tapi kalau satu simpul aja lepas waktu kami kena ombak nanti… Kami semua bakal tenggelam di tengah lautan.
Waktunya buat bikin dek poop! Dek poop? Sebutannya emang begitu kan? Nggak tahu. Terus kenapa disebut dek poop? Itu tempat buat 'poop'. Biar jelas, nggak ada yang boleh buat poop selama berlayar.
Bambu yang ini bakal jadi dek kapal kita. Sekarang mulai kelihatan kayak perahu layar beneran. Iya, mulai terbentuk. Keren. Hore. Hore. Lihat tuh! Ayo!
Kita bisa mulai ngikat, ngerapiin semua, bikin layarnya, atau kita makan malam aja. Makan malam aja. Makan, seratus persen. Oke.
Kita udah punya nama kapalnya belum, atau itu nanti aja? Itu nanti aja? Chandler, namanya apa? Oke, itu namanya. Sip.
Besok paginya, Hase sadar ada kemungkinan keuntungan dari air pasang.
Waktu air pasang, waktu air surut, itu bakal narik air menjauh dari pantai. Jadi kalau bisa kena arus itu, kami bakal diseret keluar ke laut. Tapi kalau anginnya salah dan arusnya juga salah, meski aku dikasih mesin, kami tetap nggak bakal sampai ke pulau itu.
Kayaknya semua lagi berharap sama aku. Jadi kalau ideku berhasil, dan kami berhasil lakuin yang kami rencanain dengan orang-orang yang sama emang belum pernah berlayar, aku bakal menghargai kenangan itu seumur hidupku.
Bro, gimana kalian? Capek. Badanku sakit banget. Aku capek kemasukan pasir di mana-mana. Aku sih segar. Tidurku nyenyak. Diam deh.
Tujuan hari ini sangat jelas. Kami bakal ikat dek poopnya, kumpulin bahan-bahan buat bikin dayung. Terus kita bikin layar? Bukan. Terus kami tes dulu, pastiin mengapung. Kalau mengapung, baru kita bikin layar. Kalau nggak mengapung, aku berenang.
Waktu Chandler dan aku pergi cari bahan, aku sadar… Sebagian besar video ini cuma kami lagi ngubek-ngubek sampah, nyari yang kami butuhin buat bikin perahu layar. Tapi sampah ini harapan kami buat keluar dari pulau ini… Soalnya kami masih butuh tong keempat itu.
Nggak seimbang. Ujung yang situ bakalan aneh. Kita butuh tong keempat. Ya… iya. Aku rasa di titik ini kami cuma harus jalan-jalan sampai nemuin itu.
Asal kalian tahu sekarang, suhunya sekitar seratus derajat. Aku keringetan. Pulau ini bener-bener kayak cobaan.
Gimana, Chandler? Dapat yang kamu butuhin? Kayaknya mood dia lagi jelek.
Kamu harus kencengin semuanya seimbang. Salah satu ikatan aja, seluruh benda ini bisa hancur. Ikatan simpulku mungkin lebih baik dari semua yang di sini, jadi aku yang harus ngelakuin dan ngecek itu.
Kami masih nyari tong biru. Kami udah sisir pantai ini selama dua jam. Ini konyol banget.
Tunggu, sebentar. Kamu lihat sesuatu? Nggak mungkin nih. Nggak mungkin. Boom! Sini! Yo, ini gila. Ayo! Wah, bro. Ya ampun.
Kami harus bawa balik. Bawa balik. Ngelewatin bebatuan. Ya ampun. Aku bakal pingsan. Kamu nggak apa-apa? Kayaknya aku nggak kuat sih. Seriusan, kayaknya aku bisa pingsan kalo ngegotong itu. Sial, harusnya aku bawa air.
Kami nemuin benda logam ini terdampar… Kami bakal bikin api di bawahnya, supaya bisa merebus potongan plastik yang nanti bisa kami bentuk jadi dayung. Oke. Ayo cari kayu bakar lagi dan lihat yang terjadi sama plastiknya.
Nggak bawa air itu ide yang buruk. Iya, jari-jariku mulai kesemutan dan penglihatanku mulai sempit.
Ya ampun. Ini… panas banget. Darius! Darius! Darius! Darius!
Aku nggak bakal pergi cari-cari lagi. Atau ngegotong itu balik lagi setelah ini.
Hase. Hase! Itu salah satu hal paling indah yang pernah aku lihat. Darius lagi jalan bawa tong biru.
Hase, Nolan butuh bantuan. Kayaknya dia kecapekan. Aku datang, bro. Aku datang. Tenang. Dia bakal pingsan. Air. Aku butuh air. Minum, minum, minum. Minum yang banyak.
Tapi jujur, dia balik bawa tong dan kemudi. Sepadan. Kayaknya kita beneran bisa bikin ini, Nolan. Nolan?
Ini salah satu momen di mana kami sadar, kami semua harus bisa bekerja bareng supaya berhasil. Kami udah pakai lebih dari setengah persediaan air kami, jadi kami benar-benar nggak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Dan setelah kami punya tong terakhir yang kami butuhin, ini waktunya buat diikat.
Semua tong sekarang udah dipasang ke rangka penyangga. Ini bakal jadi mekanisme yang bikin kami mengapung, dan ini nggak bakal ke mana-mana. Semoga. Kalau lepas, kami bakal tenggelam. Terus kami harus mulai dari awal lagi.
Jadi karena udah selesai, waktunya bikin balok silang. Ini ikatan yang bakal kami tiru buat semua 17 balok. Bagus. Dan kami harus ngelakuin itu di kedua sisi.
Dan malah putus. Kami percayain ke tali ini buat nahan kami semua, waktu kami berlayar menyeberangi laut.
Sekarang kami di titik yang krusial. Ada dua pilihan. Terusin bikin, sambil berharap ini berhasil. Dan kalau ini hancur di hari-H… kita tamat. Atau, istirahat sebentar, masukin ini ke air… Dan ngecek apa ini mengapung sebelum bikin lebih jauh.
Harus mengapung. Ayo berenang. Ayo lakuin. Oke. Semua waktu kita di pulau ini, mengarah ke momen ini!
Ayo! Kita harus percaya simpulnya. Kita bakal berlayar ke pulau di sana. Dan malah putus. Aku tuh bukan pembuat kapal. Aku cuma tahu beberapa hal.
Mengapung! Hore! Ini mengapung! Yoi, bro! Ya! Perahunya benar-benar mengapung! Ya! Ya! Kita lolos tes mengapung. Ini gila.
Sekarang, bayangin ini ada lantai beneran, layar, beberapa kemudi, dan beberapa dayung. Bro, kita bakal keren banget. Kita bakal ke pulau itu. Ini pertama kalinya di video ini aku merasa kalo ini benar-benar mungkin.
Di channel ini, banyak video kami waktu kami bikin set besar, dan kami datengin ratusan peserta, dan kami kasih hadiah besar, kayak satu juta dolar. Dan jujur saja, kadang enak juga buat diturunin di pulau bareng empat temanmu dan bikin perahu layar.
Memang panas, ada serangga. Ini jelas salah satu video paling sulit. Jangan salah paham. Ini nggak mudah, tapi ini tuh menyenangkan bisa nongkrong bareng teman-teman lagi. Dulu kami sering bikin video kayak gini, dan nggak tahu kenapa kami berhenti, tapi aku bakal senang-senang lagi.
Aku rasa kalau kami fokus sampai besok sore, perahu layar bisa selesai. Terus pas besok lusanya, kalau arusnya pas, kami bisa berlayar ke pulau itu. Tapi bisa dilihat, kami kurang satu bagian penting dari teka-teki ini. Sekarang kami punya rakit, bukan perahu layar.
Intinya, kami harus bikin sesuatu yang bisa nangkep angin buat mendorong kami menyeberangi laut. Jadi, hari ini kami bikin layar. Kami harus pergi dari sini. Situasi air makin menipis. Nolan semakin parah. Gigitan serangganya bikin aku agak khawatir.
Ada 60 lebih gigitan serangga di lengan dan tanganku doang. Jujur aja, kalau kami nggak pergi besok, aku nggak tahu berapa lama lagi aku bisa tahan. Aku bakal pastiin ini selesai. Kami bakal pergi besok.
Kami gagal. Plastiknya nggak bisa meleleh. Padahal, airnya benar-benar mendidih, jadi secara teori plastiknya harusnya mendidih, kan? Kalo masak mi sih begitu. Aku nggak ngerti, itu di Mark Rober aja, jangan kami. Iya. Di sini nontonin orang-orang bodoh bertahan di pulau aja. Tunggu, apa?
Jadi, fungsi skeg itu buat bikin perahunya tetap lurus, bahkan saat perahunya sendiri nggak mau. Sempurna. Aku punya rencana baru, Chandler. Gimana kalo… Kamu lihat? Apa kamu mulai nangkep maksudku? Oke. Tunggu, putar ke samping. Sekarang kita punya dayung.
Oke. Nanti akan kami ikat. Kalian paham kan? Ini cuma prototipe. Kita lihat kerjanya. Sedih nggak sih dayung kita lebih mirip bendera daripada dayung? Nanti kita ikat lebih kencang. Oh iya, kami bikin empat benda ini. Kami bakal mendayung.
Kayaknya bahuku udah mulai capek nih, padahal kita harus lakuin ini berjam-jam.
Aku butuh bambu yang super tipis tapi kuat. Ini dia nih layar kita. Layar kepiting, kayak orang Polinesia kuno. Keren.
Setelah Hase selesai ngikat layar ke tiang-tiangnya, saatnya mengebor lubang buat engsel layarnya. Kalau itu gagal, seluruh layar bakal rusak. Iya, ini bakal menarik sih. Iya.
Dalam sekejap, kami semua bekerja dan jadi semacam mesin kerja yang terasah di pantai ini.
Bagi baju kamu. Makasih. Lagi ngerjain skeg-nya. Semoga aja layar ini berhasil. Dayungnya hampir selesai. Talinya malah nyangkut. Aku nggak tahu bakal bisa lepas atau nggak.
Bagian terakhir ini benar-benar penentu hidup atau mati, kalau kami mau punya kesempatan sampai ke pulau itu besok. Karena sekarang lagi pasang ekstrem karena bulan baru. Kalau kami pergi waktu airnya mulai surut, arusnya bakal nyeret kami langsung ke pulau itu. Waktunya sempurna. Kalau bisa selesai hari ini, besok bakal jadi sempurna banget.
Dengan kurang dari 12 jam sebelum pasang berubah, kami terus berusaha. Dan sekarang saatnya memasang layar. Iya! Ini nih… Ya! Whoa, lihat, kita dapat angin.
Dayungnya udah selesai. Oke, lumayan. Lumayan bagus sih. Udah selesai.
Angin bakal kena layar dan mendorong kami. Tapi kalau kami nggak suka arah anginnya, tinggal tarik tali ini… Boom, layarnya hilang. Mantap.
Sebentar lagi di sini bakal gelap. Ada sekitar satu setengah jam lagi buat kelarin apa pun yang ada sebelum gelap. Dan kami terus kerja berjam-jam sampai malam, memaksakan diri sampai kami benar-benar kelelahan.
Hampir tengah malam. Ini updatenya. Chandler, kamu lagi ngerjain apa? Aku aja nggak tahu. Apa namanya? Kayaknya otak semua orang udah nggak berfungsi lagi. Apa aku lagi bikin kemudi? Biasanya jam segini kami udah tidur. Kayaknya aku lagi bikin kemudi.
Aku bakal pakai gergaji. Kamu sehat? Selesai. Dan selesai. Pada titik ini, kita lakuin yang kami bisa bersama agar bisa pergi dari pulau ini selamanya.
Saat tidur di malam hari, yang bisa aku pikirin cuma ninggalin pulau ini, pulang ke rumah, ketemu keluargaku. Tapi cara buat kembali ke mereka cuma dengan perahu darurat ini, bisa menyeberangi lautan yang penuh dengan bahaya.
Hari ini, nasib hidup kami ada di tangan Ibu Alam. Di akhir hari ini, kami bakal ada di pulau itu. Dan satu-satunya hal yang memisahkan kita dari kekuatannya adalah perahu layar ini dan satu sama lain.
Ayo! Lihat laut itu. Akhirnya bakal kejadian juga, bro. Aku nggak percaya. Setelah seminggu kerja kayak budak, ini adalah kendaraan yang berhasil kami buat. Saatnya.
Sebelum kita berlayar dan mendarat di pulau itu atau di tengah Samudra Pasifik kayak Titanic… Titanic ada di Atlantik. Kamu ngerusak nih.
Aku mau kasih tahu kalian soal Typeless. Keyboard suara pintar yang mengubah ucapanmu jadi tulisan sempurna di setiap aplikasi. Karena ada kemungkinan kami bisa tenggelam di laut, kita harus kirim pesan ke Tareq.
Tareq, kami mau berlayar ke sebuah pulau. Dan kalau kami nggak berhasil, aku benci kamu.
Dan berkat Typeless, kamu lihat dia nerjemahin pesannya, ngilangin kata-kata yang nggak penting, dan menyusun ulang kalimat kamu. Bagus tuh. Kata-kataku banyak yang gak penting. Bener sih.
Tareq, ini Chandler. Kamu di mana? Kami butuh bantuanmu. Lihat deh, kata yang nggak penting udah kebuang. Wow, beneran hilang. Dan ada tanda bacanya.
Tareq, aku ngirim pesan pakai Typeless, yang tersedia di iOS dan Android, juga di Mac dan Windows. Menghapus kata nggak penting, menyusun ulang kalimatmu, dan bikin mengetik empat kali lebih cepat. Scan kode QR ini, lalu nggak perlu mengetik lagi berkat Typeless.
Oke. Siapa yang siap keluar dari pulau ini? Ya! Kalau kamu capek, kamu bakal ngapain?
Tetap mendayung. Kalau kamu semakin capek, kamu bakal ngapain? Tetap mendayung. Kalau kamu pengen berhenti mendayung, kamu bakal ngapain? Tetap mendayung! Ayo bilang dayung. Tu, wa, ga. Dayung! Aku nggak punya dayung.
Momen kebenaran. Oh! Ya Tuhan! Oke. Kita udah terlalu jauh, guys. Sekarang atau nggak sama sekali. Arusnya lagi bagus.
Bro, arusnya narik aku keluar. Siapin dayung kalian. Dayung kayak nggak pernah ngedayung! Dayung, dayung, dayung. Ayo, kita harus lewatin ini. Sisi kanan, dayung lebih kuat. Lagi aku coba. Nolan, kamu gimana? Nggak baik. Ini nggak berhasil. Tetap mendayung.
Angkat! Angkat! Ayo. Angkat! Angkat! Ya ampun, ini bakal jadi hari yang paling panjang. Kita mendarat di pulau itu atau kita mati.
Air pasang ngebantu kita. Kita bakal sampai. Cari ritmenya. Arusnya udah pengen bawa kita keluar, itu ngebantuin kita.
Tapi arus ini nggak membantu lama, karena dalam beberapa jam, kami bakal masuk ke jalur ini di mana arus akan menarik kami ke samping langsung ke laut lepas. Jadi kami harus pakai semua tenaga untuk mendekat ke pulau itu semaksimal mungkin.
Buka layarnya. Hati-hati. Oke, kita lihat apa bisa menangkap angin dan berlayar ke pulau itu. Bagus nih, guys. Kita dapet angin sepoi-sepoi nih. Iya, benar. Mantap. Kita bergerak 1,5 km per jam. Kalo segitu seenggaknya bakal berhasil. Aku tahu enggak terasa, tapi sekarang kita lagi bergerak.
Ini jarak kami sekarang dari pulau pertama, tapi pulau yang satu lagi tetep belum kelihatan. Itu karena kami harus menempuh delapan kilometer lagi, dan kami nggak tahu akan butuh berapa lama.
Udah 20 menit, gimana keadaan kalian? Udah capek banget. Buruk. Aku mulai mabuk laut. Maaf ya, guys. Kalian harus tetap terus ngedayung.
Tapi jelas kalau kami berempat mendayung tanpa henti berjam-jam… Bro, tanganku capek banget… Aku sih nggak iri sama kalian. Kita bakal kehabisan tenaga sebelum bisa sampai ke jalur itu.
Kami bergerak melawan arah angin, dan itu gila banget. Jadi sebagai kapten kapal kami… Sisi kanan, tetap mendayung. Aku coba. Jangan berhenti ya. Punggungku capek, jadi aku ngedayung kayak tidur. Hase membuat sebuah strategi.
Kayaknya cara dayung begini nggak guna, guys. Kita bakal rotasi per 15 menit. Ada istirahat sebentar. Ayo tiga orang di kanan. Nolan, ke sini. Ya. Kami gantian mendayung dan kasih satu orang istirahat.
Sekarang aku lagi istirahat. Aduh, bahuku sakit banget. Jimmy, bisa tukeran? Giliranku buat masuk di depan. Ayo gas, guys! Sekarang mulai lancar. Hidup atau mati, baby.
Sekarang kira-kira udah 45 menit, dan kelihatannya kita udah jalan sekitar 20 persen. Tapi sekarang, saat kami semakin dekat ke jalur itu, keadaannya malah mulai memburuk.
Gawat. Dayungnya patah. Aduh, dayung dia patah. Bro, ini masalah besar. Aku tahu! Aku bakal coba masukin saja, mudah-mudahan bisa. Nggak bakal bisa. Tau deh, yang penting dayung terus.
Kalau soal dayung belum cukup… Oh nggak. Tunggu. Nggak. Bagian perahu ada yang jatuh. Bahkan Hase juga jatuh. Aku harus tetap ngedayung. Maaf, guys. Jadi susah nih.
Dan lebih parah lagi, kami bahkan nggak mengarah ke arah yang benar. Oh tunggu, kita kayaknya mulai muter ke samping. Setiap kali keluar jalur, kita harus mendayung.
Siap? Ayo mulai. Tarikan panjang. Sekuat yang kamu bisa. Anginnya juga makin kencang. Aku kasih semua yang aku punya… Semakin keras narik, kita semakin belok. Bagus. Nah begitu, guys. Kita udah muter lagi. Oke, arah kita udah bener.
Kami udah mengarah ke arah yang benar. Kami berlayar. Whoo! Awalnya emang berat, tapi kami mulai dapat ritmenya.
Aku nggak mau kejebak di tengah lautan selain sama kalian. Sama. Ya, kita udah jauh banget dari pulau tempat berangkat. Aku bahkan nggak bisa lihat pantai kita lagi. Mulai dari sini pelayaran udah lancar. Tapi tetap kerja keras.
Situasinya nggak sesimpel itu. Karena dengan banyak kemajuan, datang juga kelelahan lebih besar.
Aku tahu. Aku dehidrasi. Chandler, kamu gimana, bro? Kamu kayak nggak sehat. Kamu baik-baik aja? Aku mual. Aku nggak tahu kita masih sejauh apa. Rasanya udah berjam-jam, mungkin dua jam. Dan kita bikin perahu selama enam hari berturut-turut, 12 jam sehari, jadi kami semua capek.
Nggak tahu kenapa, bahuku kebakar. Chandler, tolong gantiin aku dulu. Aku ngeliat bintang, soalnya aku kesakitan sekarang. Tapi beef stick dulu.
Bro, mataharinya terang banget. Kami kayak lobster yang dimasak di bawah matahari. Ini menyiksa banget. Saat ini, aku nggak tahu apa kami bakal berhasil nanti.
Tapi kayak yang aku bilang dari awal, arus yang akan kita hadapi dalam jalur ini sangat kuat sampai melakukan segalanya buat mendorong kami ke laut lepas yang mematikan. Dan sekarang, bukan berjam-jam lagi, tapi hitungan menit.
Whoa, ombaknya udah makin besar. Ini jalurnya. Kita sekarang udah di laut lepas. Arusnya menarik kita. Darius, berhenti sekarang. Berhenti. Nggak usah ngedayung lagi.
Kamu nggak ngerti. Kalau aku berhenti ngedayung lima detik aja, kita bakal menghadap ke arah ini. Aku tahu, tapi kita bakal belok ke arah angin, dan itu nggak boleh terjadi. Kita udah hampir kena putar tadi… Oke, guys. Ayo.
Kita harus lewatin jalur ini. Di sini arusnya paling kuat, paling berangin, dan tenaga kalian jagain kita supaya nggak terlalu keluar jalur, supaya kita berhasil nyeberangin nanti.
Aku belum berhenti mendayung. Bagus. Rasanya kita mulai kehilangan tenaga. Oh, sekarang beneran kehilangan tenaga. Angkat. Ini angin kedua kita. Ayo. Dayung mundur, dayung mundur, dayung mundur. Lagi kami dayung, lagi kami dayung. Aku mendayung sekuat yang aku bisa. Aku hargai itu.
Kami kehabisan tenaga. Kami capek, tapi kami nggak menyerah. Aku kayak mau muntah. Menyerah bukan pilihan. Kita udah kerja keras supaya nggak kalah. Seratus persen kita bakal berhasil. Aku yakin.
Tanganku sekarang jadi kayak mi. Dari tadi udah begitu. Bro, jangan sampai aku ke sana. Aku bakal putar kapal ini. Ayo!
Selama berjam-jam, arus benar-benar tanpa henti menarik kami ke kiri. Bersama-sama, bersama-sama! …menyeret kami ke kanan… Dayung. Harus kembali ke jalur. Ayo. Dan memutar kami dalam lingkaran. Aku pusing banget. Ayo! Sama-sama, sekaligus.
Kami sadar kami nggak membuat kemajuan apa pun. Kayaknya kita lagi agak terjebak nih. Kita terdampar. Di sini, di tengah lautan lepas, kami mulai merasa sudah kalah.
Menurutmu ada hiu di bawah kita sekarang? Seratus persen.
Di titik ini, kami udah terlalu jauh buat kembali. Bahkan lebih putus asa buat terus maju. Kayaknya Jimmy udah mau muntah. Dan kayaknya Chandler udah tidur.
Kami udah mendayung terus selama enam jam. Darius malah ngelakuinnya nonstop. Hase sibuk ngarahin dan megangin layar. Jimmy mabuk laut. Dan semua badan kami habis. Aku udah nggak kuat lagi.
Setelah aku dan Chandler nggak berguna, misi ini sekarang ada di tangan Hase, Nolan, dan Darius.
Darius, kamu gokil. Makasih, bro. Pulaunya 5,6 kilometer lagi.
Kalau kita bisa masuk arah angin yang benar dari pulau itu, kita bisa ikutin arah arus dan anginnya. Tapi masalahnya kita kehilangan banyak jarak di awal, jadi sekarang kita kayak mendaki bukit supaya bisa turunin bukit.
Sekeras apa pun usahanya, kami jelas nggak bakal berhasil tanpa seluruh tim bekerja bersama.
Rasanya kayak kita nggak bergerak. Aku gemetar. Aku udah gemetar.
Kami udah di sini selama tujuh jam. Perahu ini nggak bergerak kayak yang kami kira.
Aku pikir kita bakalan bisa. Aku juga. Kita udah buat kemajuan bagus. Dan saat seperti ini waktu berhenti mendayung, kita malah bergerak mundur. Sekarang kita malah kesedot ke Samudra Pasifik.
Kurasa udah waktunya kita pake flare. Aku nggak bakal nolak.
Bro, aku udah nggak sanggup lagi. Aku udah ngedayung secara nonstop selama tujuh jam kami di sini. Sekarang… nggak bisa, aku nggak bisa. Aku udah nggak kuat lagi.
Yang nyebelin, pulaunya udah ada di sana. Deket banget, tapi terasa jauh banget.
Sebelum berlayar, kami semua membuat janji. Kalau ingin berhenti mendayung, kamu bakal ngapain? Tetap mendayung!
Berbaring lemas di perahu layar ini, aku mulai mikirin yang aku ucapin dua hari lalu. Kadang emang seru ditinggalin di sebuah pulau sama empat temanmu dan bikin perahu. Jadi seminggu ini, aku usah senang-senang.
Dan waktu harapanku udah mulai kembali lagi, kayak ada keajaiban, Ibu Alam mulai mendorong kami.
Kalian sadar nggak sih? Kita lagi menuju ke pulau itu, tanpa lakuin apa pun. Soalnya air mulai pasang. Jadi arusnya narik kita ke daratan. Dan pada titik ini, tanpa kami sadari, kita udah keluar dari jalur itu.
Darius, apa kita makin dekat? Tulisannya 4,7 km. Apa kalian mau coba sekali lagi? Layak dicoba sih. Aku kerahin semuanya.
Aku emang bilang mau menyerah, tapi sebelum kejadian, aku nggak akan menyerah. Bilang dayung. Tu, wa, ga. Dayung. Kayaknya sekarang udah mungkin nih.
Kami udah delapan jam mendayung perahu. Kami terbakar matahari, kami lapar, dehidrasi, tapi kami menolak untuk menyerah.
Oke, guys. Tinggal 4,7 kilometer lagi. Kalau terus begini, bakal sampai. Apa masih ada yang ngerasa kita nggak akan berhasil? 2,7.
Menurut perkiraan kami udah tinggal beberapa kilometer lagi. Kamu senang kita hampir sampai? Ya! Dayung. Dayung.
Darius, ingat waktu alat itu bilang 4,2? Pasti ingat. Sekarang bilang satu. Dan lihat betapa dekatnya pulau itu sekarang.
Kamu tahu habis 1,6 berapa? 1,5. Kamu tahu habis 1,5 berapa? 1,4. Kamu tahu habis 1,4 berapa? 1,3.
Kami hampir sampai, kami hampir sampai! Aku udah seneng banget nih! Daratan! Whoo!
Tapi kegembiraan malah membuat kami lengah, karena di depan ada satu perubahan pasang terakhir.
Kita punya 20 menit sampai arus berubah. Waktu kita hampir habis. Tapi kalau anginnya salah dan arusnya juga salah, meski aku dikasih mesin, kami tetap nggak bakal sampai ke pulau itu.
Ini dia, guys. Kerahin semuanya. Angkat.
Kami di bagian akhir, tapi ini benar-benar penentuan. Kami mungkin tinggal sepertiga jalan lagi, tapi kalau kami kebawa arus, kami bakal ngejauhin pulau itu dan video ini bakal rusak.
Kita terlalu jauh ke kanan. Bro, kita bakal kelewatan. Itu lucu ya? Ayo, guys, kita butuh tenaga. Ini akhirnya. Ini 15 menit terakhir. Ayo. Tenaga, tenaga, tenaga. Angkat.
Sebelas jam di perahu ini. Kita nggak akan kalah sekarang. Angkat! Dayung! Dayung! Ini waktunya. Kita bisa lihat pulau itu. Kita bisa sampai ke pulau itu. Lakuin bersama. Kerja tim. Tinggal 10 menit lagi. Aku benar-benar mau muntah, bro.
Waktu kami udah 95 persen sampai di sana, dengan hampir nggak ada tenaga, semuanya malah jadi kacau.
Anginnya ngerubah arah kita. Kita kena angin samping yang ganas. Perlu turunin layar nggak? Kayaknya layar malah bakal bikin kita semakin jauh. Aku rasa kita nggak bisa ngelawan angin tanpa itu.
Tapi kamu nggak bisa rasain anginnya datang dari mana? Anginnya tepat di depan wajah kita. Hei, kayaknya kita harus naikin layar. Menurutku itu nggak masuk akal banget. Kita semakin menjauh.
Lima. Kita harus dorong atau kelewatan. Sisi kanan, sisi kanan, sisi kanan. Ayo. Empat. Kenapa lautan susah banget? Tiga. Kita harus dorong. Dayung. Dua. Kita harus mendayung.
Aku udah ngedayung sekuat tenaga, terus… Ombak besar. Ombak besar. Ombak besar. Ayo. Dayung aja sekuat yang kamu bisa. Angkat. Aku ngedorong, bro. Dayung. Dayung. Dayung. Dayung.
Aku khawatir kita udah nggak bisa bergerak maju lagi.
Arusnya berubah dan langsung menyeret kami. Air yang tadi mendorong kami dari belakang, sekarang malah mendorong dari depan. Dan kami nggak bisa apa-apa. Padahal udah dekat.
Kita makin jauh ya? 0,8 km lagi. Kita bisa berenang ke sana. Udah nggak ada harapan ya?
Selesai. Maaf ya, guys. Aku nggak percaya ini. Kita udah dekat sama pulau itu. Sekarang kami malah makin jauh. Melihat yang kami coba ingin capai, malah lepas dari tangan kami.
Aku mau nih nangis, bro. Aku nggak percaya kami udah lakuin semua itu tapi nggak berhasil. Ini nyebelin. Kami hampir berhasil.
Setelah hampir 12 jam mendayung dan berlayar dengan perahu darurat ini. Andai aja kami 20 menit lebih cepat, kami pasti di pulau itu.
Tadi kita di sana. Maaf, guys. Harusnya bisa lebih baik. Ayo tembakin flare-nya. Aku benci benda ini.
Ini tantangan yang paling sulit yang pernah aku lakuin di channel ini. Padahal kami udah dekat, tapi gagal, semua hanya karena arus berubah di lima persen terakhir, membuat ini lebih berat. Aku nggak tahu harus apa. Aku benci kalah dan nggak suka perasaan ini.
Aku nggak tahu harus apa. Aku benci kalah dan nggak suka perasaan ini. Dan aku kayak ngecewain kalian semua. Maaf banget.
Jadi, aku janji. Di video tantangan berikutnya, aku nggak akan gagal lagi. Aku mau naik ke helikopter, sampai ketemu lagi.
Artikel diterbitkan
