Terjebak di Pulau Sampai Berhasil Membuat Perahu Layar: Upaya Jimmy dan Teman-temannya yang Gagal di Lima Persen Terakhir

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Video ini berangkat dari pertanyaan sederhana yang diajukan Jimmy: kalau ia dan teman-temannya terdampar di sebuah pulau, apakah mereka bisa kabur? Dalam tantangan ini, Jimmy, Chandler, Nolan, Hase, dan Darius ditinggalkan di sebuah pulau di tengah Samudra Pasifik. Satu-satunya jalan keluar adalah membuat perahu layar sendiri lalu menyeberangi laut terbuka ke pulau lain. Mereka tidak boleh pergi sebelum perahu itu jadi. Hampir tidak ada di antara mereka yang pernah berlayar. Video ini merekam sekitar seminggu kerja di pantai, uji coba yang nyaris gagal, dan hampir dua belas jam pelayaran yang berakhir hanya beberapa ratus meter dari tujuan.

18 menit baca

Premis: sekumpulan YouTuber tanpa pengalaman berlayar

Sejak awal Jimmy mengakui posisi mereka. Ia sendiri, Nolan, dan Chandler belum pernah berlayar, apalagi membuat perahu layar. Hase diajak karena di video sebelumnya ia pernah membuat perahu layar, jadi dialah satu-satunya yang punya gambaran tentang apa yang harus dikerjakan. Jimmy memperlihatkan animasi 3D perahu yang harus mereka bangun. Salah satu temannya langsung menyebut target itu mustahil, tetapi Jimmy menjawab bahwa kalau perahu itu tidak dibangun, mereka akan tetap terjebak.

Prioritas pertama bukan perahu. Mereka harus mengumpulkan persediaan dan membuat tempat berlindung lebih dulu, "supaya pulau ini nggak ngebunuh kami sebelum kami kabur." Di hari pertama mereka membuat gubuk yang mirip rumah pohon dan membuka sebuah peti berisi sedikit perlengkapan bertahan hidup. Jimmy menekankan bahwa air di peti itu memang terlihat banyak, tetapi harus cukup sampai perahu selesai. Masalahnya, ia sama sekali tidak tahu berapa lama pembangunan akan berlangsung, karena mereka "cuma sekumpulan YouTuber yang mencoba membangun gubuk dari nol." Membangun kamp saja sudah membuat mereka kewalahan, dan beberapa dari mereka langsung memperkirakan prosesnya akan lama sekali.

Prototipe Hase dan skala yang dibutuhkan

Pagi hari kedua, ketika yang lain baru bangun, Hase sudah mulai bekerja sendirian. Ia membuat miniatur perahu: dua lambung, balok penghubung di atasnya, dan sebuah tiang. Untuk layar miniatur itu, Hase meminta sebagian baju Nolan. Nolan sempat protes, tetapi akhirnya memberikannya. Miniatur itu diuji di air dan mengapung.

Namun prototipe kecil itu baru menunjukkan seberapa besar pekerjaan yang tersisa. Menurut mereka, perahu sungguhannya harus sekitar 40 kali lebih besar, mampu menahan beban sekitar 500 kilogram, dan membawa mereka semua sampai ke pulau seberang.

Mencari bahan: bambu, hutan, dan sampah laut

Bahan utama yang mereka cari adalah bambu, karena sangat ringan sehingga mudah mengapung. Masalahnya, bambu ada jauh di dalam hutan. Sebelum mereka masuk, Hase mengadakan "rapat darurat" untuk memperingatkan tiga ancaman yang harus diwaspadai: ular Fer-de-Lance, ular viper bulu mata kuning, dan laba-laba pisang pengembara. Di hutan, baju salah satu dari mereka dikerubungi semut, ada sarang lebah yang hampir disodok, dan Jimmy berkomentar bahwa semua yang ada di sana seperti ingin membunuh mereka.

Sumber bahan kedua ternyata sampah. Menurut penjelasan di video, kapal-kapal besar sering lewat di sekitar pulau dan membuang sampah ke laut, yang akhirnya terdampar di pantai. Bagi mereka, sampah itu justru berguna. Mereka menyisir pantai mencari wadah, terutama wadah atau tong biru yang masih utuh dan tertutup, karena wadah semacam itu bisa menjadi pelampung. Ada wadah yang ditemukan sudah hancur dan tidak bisa dipakai, ada juga yang masih utuh dan langsung diuji apakah bisa mengapung. Di sela-sela itu mereka berkelakar bahwa sambil berusaha pergi, mereka sekaligus membersihkan pantai.

Panas menjadi hambatan besar. Salah satu dari mereka mengaku hampir pingsan karena kepanasan. Di akhir hari kedua, bahan untuk mulai membangun sudah cukup, tetapi tidak ada yang punya tenaga untuk mulai mengerjakannya. Ketika ditanya apakah puas dengan pencapaian hari itu, Jimmy menjawab bahwa kalau terus begini, prosesnya bisa memakan waktu sebulan. Malamnya, Nolan terbangun karena ada laba-laba besar yang mereka anggap berbahaya. Kekacauan menangkap dan membuang laba-laba itu membuat Nolan tidak yakin bisa tidur lagi.

Pindah ke tempat teduh dan rangka mulai terbentuk

Belajar dari hari sebelumnya, mereka memindahkan area kerja ke bagian pantai yang lebih teduh. Jimmy menjelaskan bahwa mereka harus pindah supaya bisa bekerja seharian, bukan hanya beberapa jam. Dalam perjalanan ke lokasi baru, Chandler menemukan tong ketiga yang menambah daya apung perahu.

Pembagian kerja juga berubah. Chandler mengambil alih kamera dari Darius dan menyuruh Darius ikut membangun. Dengan Darius di tim pembangun dan Chandler di belakang kamera, rakit mulai terbentuk. Jimmy mengingatkan risikonya: jika satu simpul saja lepas ketika mereka dihantam ombak, mereka semua bisa tenggelam di tengah laut. Bambu disusun menjadi dek, termasuk bagian yang mereka sebut "dek poop", disertai lelucon soal namanya. Pada titik ini perahu mulai terlihat seperti perahu sungguhan. Ketika diberi pilihan antara melanjutkan mengikat, merapikan, membuat layar, atau makan malam, semuanya memilih makan malam.

Strategi pasang surut

Keesokan paginya, Hase menjelaskan rencana yang menurutnya bisa menjadi keuntungan. Saat air surut, arus akan menarik air menjauh dari pantai. Kalau mereka bisa masuk ke arus itu, perahu akan terseret ke laut ke arah yang mereka inginkan. Hase juga memberi peringatan yang kelak terbukti relevan: jika angin dan arus sama-sama berlawanan, mereka tetap tidak akan sampai ke pulau itu, bahkan seandainya ia diberi mesin.

Hase merasa semua orang menggantungkan harapan padanya. Ia mengatakan bahwa jika idenya berhasil dan mereka bisa mewujudkan rencana itu bersama orang-orang yang belum pernah berlayar, ia akan menghargai kenangan itu seumur hidup.

Tong keempat, krisis di bawah terik, dan air yang menipis

Rangka perahu belum seimbang. Menurut mereka, tanpa tong keempat salah satu ujungnya akan bermasalah. Pencarian tong keempat menjadi bagian yang paling melelahkan. Jimmy berkomentar bahwa sebagian besar video ini isinya hanya mereka mengubek-ubek sampah, tetapi sampah itulah harapan mereka untuk keluar. Ia menyebut suhunya sekitar seratus derajat. Mereka sudah menyisir pantai selama dua jam ketika akhirnya menemukan tong biru, sekaligus sebuah benda yang bisa dipakai sebagai kemudi.

Membawa tong itu kembali melewati bebatuan hampir membuat Nolan tumbang. Nolan tidak membawa air, jari-jarinya kesemutan, dan penglihatannya mulai menyempit. Darius berjalan membawa tong biru, sementara Hase berlari menolong Nolan dan menyuruhnya minum banyak-banyak. Meski begitu, mereka menilai hasilnya sepadan karena tong dan kemudi berhasil dibawa pulang. Jimmy menyebut momen ini sebagai saat mereka sadar bahwa semuanya harus bekerja sama supaya berhasil. Pada titik ini mereka juga sudah memakai lebih dari setengah persediaan air, sehingga tidak bisa tinggal lebih lama lagi.

Keempat tong lalu dipasang ke rangka penyangga sebagai mekanisme pengapung. Kalau tong itu lepas, kata mereka, perahu akan tenggelam dan semuanya harus diulang dari awal. Berikutnya mereka membuat balok silang dengan pola ikatan yang sama untuk 17 balok di kedua sisi. Di tengah proses itu, sebuah tali justru putus, padahal tali itulah yang mereka andalkan untuk menahan semua orang saat menyeberangi laut.

Uji apung: titik balik pertama

Tali yang putus itu menempatkan mereka di persimpangan. Pilihan pertama adalah terus membangun sambil berharap semuanya berhasil, dengan risiko perahu hancur di hari keberangkatan. Pilihan kedua adalah berhenti sebentar, memasukkan rakit ke air, dan memastikan perahu mengapung sebelum melanjutkan. Mereka memilih menguji. Hase mengingatkan bahwa ia bukan pembuat kapal dan hanya "tahu beberapa hal".

Rakit itu mengapung. Mereka bersorak, dan Jimmy mengatakan ini pertama kalinya dalam video ia merasa tantangan ini benar-benar mungkin. Mereka membayangkan perahu itu nanti dilengkapi lantai sungguhan, layar, kemudi, dan dayung.

Di sela-sela pekerjaan, Jimmy merefleksikan jenis video ini. Di channel-nya, kata Jimmy, banyak video berupa set besar dengan ratusan peserta dan hadiah besar seperti satu juta dolar. Kadang ternyata menyenangkan juga diturunkan di sebuah pulau bersama empat teman untuk membuat perahu layar. Ia mengakui ini salah satu video paling sulit karena panas dan serangga, tetapi menyenangkan bisa nongkrong lagi bersama teman-temannya. Dulu mereka sering membuat video seperti ini dan ia tidak tahu kenapa mereka berhenti. Jimmy memperkirakan, jika mereka fokus sampai sore berikutnya, perahu bisa selesai, lalu sehari setelahnya mereka bisa berlayar kalau arusnya tepat.

Dari rakit menjadi perahu layar: dayung, skeg, dan layar kepiting

Mereka menyadari bahwa yang mereka punya masih rakit, bukan perahu layar, karena belum ada apa pun untuk menangkap angin. Sementara itu tekanan bertambah. Air semakin menipis, dan kondisi Nolan memburuk. Ia menghitung lebih dari 60 gigitan serangga di lengan dan tangannya saja, dan mengatakan tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan kalau mereka tidak pergi besok.

Tidak semua rencana berhasil. Mereka menemukan benda logam yang terdampar dan berniat merebus potongan plastik di atasnya untuk dibentuk menjadi dayung. Plastik itu tidak meleleh meski airnya benar-benar mendidih. Mereka bercanda bahwa eksperimen semacam itu sebaiknya diserahkan pada Mark Rober, sedangkan di video ini penonton hanya melihat "orang-orang bodoh" bertahan hidup di pulau.

Rencana pun diganti. Mereka membuat dayung dari bahan lain. Awalnya dayung itu ikatannya longgar sehingga mereka bercanda dayungnya lebih mirip bendera, lalu mengikatnya lebih kencang. Mereka membuat empat dayung. Ada juga skeg, yang dijelaskan berfungsi menjaga perahu tetap lurus bahkan ketika perahu sendiri cenderung berbelok. Hase membuat layar dari bambu yang sangat tipis tetapi kuat dan menyebutnya layar kepiting, "kayak orang Polinesia kuno." Setelah layar diikat ke tiang, mereka mengebor lubang untuk engselnya. Jika engsel itu gagal, seluruh layar akan rusak.

Waktu juga menjadi faktor penentu. Menurut penjelasan mereka, sedang terjadi pasang ekstrem karena bulan baru. Jika mereka berangkat saat air mulai surut, arus akan menyeret mereka langsung ke pulau tujuan. Dengan kurang dari 12 jam sebelum pasang berubah, mereka bekerja tanpa henti. Layar dipasang dan langsung menangkap angin. Mereka juga menunjukkan bahwa layar bisa diturunkan dengan menarik satu tali jika arah angin tidak menguntungkan. Pekerjaan berlanjut hingga hampir tengah malam, jauh melewati jam tidur biasa. Chandler bahkan sudah tidak yakin sedang mengerjakan apa sebelum menyadari ia sedang membuat kemudi. Belakangan disebutkan bahwa mereka membangun perahu enam hari berturut-turut, 12 jam sehari.

Keberangkatan dan jam-jam pertama di laut

Malam sebelum berangkat, salah satu dari mereka bercerita bahwa yang ia pikirkan hanyalah pulang dan bertemu keluarga. Satu-satunya jalan ke sana adalah perahu darurat ini. Sebelum berlayar, mereka membuat "janji" lewat yel-yel: kalau capek, tetap mendayung; kalau semakin capek, tetap mendayung; kalau ingin berhenti, tetap mendayung. Video ini juga memuat segmen sponsor sebelum keberangkatan.

Begitu turun ke air, arus langsung menarik perahu keluar. Mereka mendayung untuk melewati ombak, lalu membuka layar dan mendapat angin sepoi-sepoi. Mereka mencatat kecepatan sekitar 1,5 km per jam, yang menurut mereka setidaknya cukup untuk sampai. Pulau tujuan belum terlihat karena jaraknya masih sekitar delapan kilometer, dan mereka tidak tahu berapa lama perjalanan akan memakan waktu.

Hase memperingatkan bahwa arus yang membantu ini tidak akan bertahan lama. Dalam beberapa jam mereka akan memasuki sebuah jalur di mana arus akan menarik mereka ke samping, langsung ke laut lepas. Karena itu mereka harus memakai seluruh tenaga untuk mendekat ke pulau sebanyak mungkin sebelum mencapai jalur itu. Dua puluh menit setelah berangkat, beberapa dari mereka sudah sangat lelah, dan salah satunya mulai mabuk laut. Mereka juga mendapati diri bergerak melawan arah angin. Hase lalu menerapkan rotasi 15 menit: tiga orang mendayung di sisi kanan sementara satu orang beristirahat bergantian. Setelah sekitar 45 menit, mereka memperkirakan sudah menempuh sekitar 20 persen perjalanan.

Dayung patah, perahu berputar, dan jalur arus

Mendekati jalur arus, keadaan memburuk. Sebuah dayung patah, sebagian bagian perahu jatuh, dan Hase sendiri sempat tercebur. Perahu mulai berputar ke samping, sehingga setiap kali keluar jalur mereka harus mendayung keras dengan tarikan panjang untuk meluruskan arah. Angin juga semakin kencang. Setelah berhasil kembali ke arah yang benar, mereka sempat menemukan ritme. Pulau asal sudah tidak terlihat lagi, dan seseorang berkata ia tidak mau terjebak di tengah lautan dengan siapa pun selain mereka.

Namun kemajuan dibayar dengan kelelahan. Ada yang dehidrasi, Chandler mual, ada yang mengeluh bahunya seperti terbakar, dan mereka menggambarkan diri seperti lobster yang dimasak di bawah matahari. Di jalur itu ombak semakin besar. Hase menyuruh Darius berhenti mendayung, tetapi Darius menolak karena menurutnya jika ia berhenti lima detik saja, perahu akan berbelok. Hase menjelaskan bahwa di bagian ini arus paling kuat dan angin paling kencang, sehingga tenaga mereka diperlukan agar perahu tidak terlalu jauh keluar jalur.

Selama berjam-jam arus menarik perahu ke kiri, lalu ke kanan, lalu memutarnya dalam lingkaran. Mereka sadar tidak ada kemajuan sama sekali dan merasa sudah kalah, terlalu jauh untuk kembali tetapi semakin putus asa untuk maju. Setelah enam jam mendayung, Jimmy mabuk laut dan Chandler tampak tertidur. Hase sibuk mengarahkan dan memegang layar, sementara Darius disebut mendayung tanpa henti. Misi kini bergantung pada Hase, Nolan, dan Darius. Darius melaporkan pulau masih 5,6 kilometer lagi. Menurut Hase, jika mereka bisa masuk ke arah angin yang benar dari pulau itu, mereka bisa mengikuti arus dan angin, tetapi karena banyak jarak hilang di awal, mereka seperti "mendaki bukit supaya bisa menuruni bukit."

Pada jam ketujuh, setiap kali berhenti mendayung perahu justru bergerak mundur dan tersedot ke arah samudra. Seseorang mengusulkan untuk menembakkan flare, dan yang lain tidak menolak. Darius, yang mengaku mendayung non-stop selama tujuh jam, berkata ia sudah tidak sanggup lagi. Yang paling menyebalkan bagi mereka, pulau itu terlihat begitu dekat tetapi terasa begitu jauh.

Pasang berbalik: harapan kembali

Sambil berbaring lemas di perahu, Jimmy teringat ucapannya dua hari sebelumnya bahwa kadang menyenangkan ditinggalkan di pulau bersama empat teman untuk membuat perahu. Lalu, seperti keajaiban kata mereka, alam mulai membantu. Air mulai pasang, arus menarik mereka ke arah daratan, dan tanpa mereka sadari mereka sudah keluar dari jalur arus tadi. Perahu bergerak menuju pulau tanpa didayung.

Alat yang dipegang Darius kini menunjukkan 4,7 km. Ketika ditanya apakah mau mencoba sekali lagi, mereka menjawab layak dicoba. Darius mengatakan ia memang sempat bilang ingin menyerah, tetapi tidak akan menyerah sebelum semuanya benar-benar berakhir. Setelah delapan jam di laut, terbakar matahari, lapar, dan dehidrasi, mereka kembali mendayung. Angka di alat terus turun dari 4,2 ke 2,7, lalu ke satu kilometer, sementara mereka menghitung bersama 1,6, 1,5, 1,4, 1,3. Daratan sudah terlihat jelas dan mereka bersorak.

Dua puluh menit sebelum arus berubah

Kegembiraan itu, menurut narasi video, membuat mereka lengah, karena masih ada satu perubahan pasang terakhir. Mereka hanya punya sekitar 20 menit sebelum arus berbalik. Video memutar ulang peringatan Hase di awal: jika angin dan arus sama-sama salah, mesin pun tidak akan menolong. Sudah sebelas jam di perahu, mereka mengerahkan semua tenaga di 15 menit terakhir sambil saling menyemangati soal kerja tim.

Ketika mereka sudah sekitar 95 persen menuju tujuan, angin samping yang kencang mengubah arah perahu dan membuat mereka melenceng terlalu jauh ke kanan. Terjadi perdebatan soal layar. Ada yang menilai layar justru membuat mereka semakin menjauh dan sebaiknya diturunkan. Hase berpendapat mereka tidak bisa melawan angin tanpa layar, dan sempat menyarankan menaikkan layar. Yang lain menyebut itu tidak masuk akal karena angin datang tepat dari depan. Sambil menghitung mundur waktu yang tersisa, mereka mendayung sekuat tenaga di sisi kanan, diterpa ombak besar.

Arus kemudian berubah. Air yang tadinya mendorong dari belakang kini mendorong dari depan, dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Alat menunjukkan pulau tinggal 0,8 km. Ada yang menyeletuk bahwa mereka bisa berenang ke sana, tetapi tak lama kemudian mereka mengakui bahwa usaha ini sudah selesai.

Akhir: gagal karena lima persen terakhir

Setelah hampir 12 jam mendayung dan berlayar, mereka gagal mencapai pulau. Menurut Jimmy, seandainya mereka 20 menit lebih cepat, mereka pasti sudah sampai. Hase meminta maaf dan mengatakan seharusnya ia bisa melakukannya lebih baik. Flare akhirnya ditembakkan.

Jimmy menyebut ini tantangan tersulit yang pernah ia lakukan di channel-nya. Menurutnya, kegagalan ini terasa lebih berat karena mereka sudah begitu dekat dan gagal hanya karena arus berubah di lima persen terakhir. Ia mengaku benci kalah, tidak suka perasaan ini, dan merasa telah mengecewakan semua orang. Ia menutup video dengan janji bahwa di video tantangan berikutnya ia tidak akan gagal lagi, lalu naik ke helikopter.