Tujuh Hari Terdampar di Arktik: Shelter Salju, Es Setebal 180 Senti, dan Dua Ekor Ikan

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Jimmy dan lima temannya ditinggalkan di Arktik selama tujuh hari. Mereka hanya membawa barang yang melekat di badan dan dalam tas. Dari awal tantangan ini punya beban pribadi bagi Jimmy, karena video survival mereka sebelumnya berakhir gagal, dan ia menyebut perjalanan kali ini sebagai upaya "balas dendam". Ia juga menetapkan satu prioritas: tidak boleh ada yang mati. Di sepanjang video, rombongan itu bergulat dengan dingin, salju, dan lapar, dan pertanyaan yang terus menggantung adalah apakah mereka bisa mendapatkan makanan sebelum persediaan habis.

14 menit baca

Hari Pertama: Berpacu dengan Matahari Terbenam

Mereka mendarat di salju setebal sekitar 60 sentimeter. Jimmy sengaja tidak menyuruh teman-temannya membawa tenda karena rumah mereka akan dibuat dari salju. Hari itu ada dua tujuan, yaitu membangun shelter dan menyalakan api. Menurut penjelasan dalam video, suhu malam di sana bisa begitu rendah sampai sepuluh menit terkena angin saja cukup untuk menyebabkan frostbite, dan kalau mereka belum berlindung saat gelap, mereka bisa mati kedinginan.

Sebagian besar anggota menggali benteng salju. Fungsinya untuk menahan angin Arktik sekaligus memungkinkan mereka berbagi panas tubuh. Mereka mendapati salju makin keras semakin dalam digali. Sementara itu Jimmy mencari kayu bakar dan menemukan banyak pohon mati, yang ia anggap sebuah keberuntungan. Ketika Hase kembali, mereka mencoba masuk ke benteng dan ternyata sempitnya bukan main. Kaki tidak bisa diluruskan, dan ada yang bahkan belum bisa masuk. Padahal sinar matahari tinggal dua jam.

Api akhirnya menyala. Mereka mencairkan salju untuk air minum, tetapi airnya tetap dingin karena salju terus ditambahkan ke panci. Malam itu juga ada insiden kecil: jaket seseorang terbakar, lalu celananya ikut terbakar. Lewat tengah malam, yang berarti secara teknis sudah hari kedua, shelter masih belum cukup besar. Hase dan kameramen Darius tidak kebagian tempat, dan salah satu dari mereka memilih tidur di luar.

Malam Terburuk dan Tawaran untuk Pulang

Mereka tidur berdesakan di gua kecil "seperti sarden". Para peserta menyebutnya tidur paling parah yang pernah mereka alami. Pagi harinya tas dan barang-barang mereka diselimuti embun beku, kamera nyaris membeku, dan Darius, yang tidak punya sarung tangan, mengeluh tangannya beku karena memegang kamera. Ada juga yang tidak bisa merasakan jari kakinya.

Lalu aturan keluar dijelaskan. Sebuah pesawat melintas sekali sehari. Siapa pun yang ingin pulang boleh menembakkan flare, tetapi harus mencukur kepalanya sampai botak lebih dulu. Hari itu tidak ada yang mengambil tawaran tersebut. Satu peserta mengaku tidak yakin akan sanggup kalau malam seperti tadi terulang. Karena itu target hari kedua adalah memperbesar shelter sampai keenam orang bisa tidur berjajar di dua sisi. Ada yang bercanda bahwa kalau target ini gagal, ia akan pulang dalam keadaan botak.

Masalah-Masalah yang Tidak Terduga

Setelah berjam-jam mengukir shelter, muncul masalah yang lebih sepele tetapi nyata. Tenda toilet yang tercantum dalam daftar barang bawaan ternyata tidak dibawa, karena orang yang seharusnya membawanya tidak punya ruang di tas. Mereka terpaksa mencari area buang air yang jauh dari camp, sebab menurut mereka kotoran di dekat camp bisa menarik beruang. Satu peserta mengaku hal paling menyeramkan baginya adalah selalu menemukan jejak hewan tetapi tidak pernah melihat hewannya, sehingga ia merasa terus diawasi.

Jimmy bilang hari kedua terasa seperti hari keenam atau ketujuh di tantangan biasa, dan ia tidak yakin semua orang akan bertahan. Ada pula masalah yang selama ini belum dibicarakan: mereka hanya membawa makanan untuk tiga, mungkin empat hari. Kalau tidak memancing atau berburu, menurut Jimmy, mereka tidak akan bertahan. Menjelang hari ketiga, Jimmy merasa hidungnya mulai terkena frostbite karena beberapa bagiannya keunguan.

Hari Ketiga: Jari Kaki Putih, Kayu Basah, dan Trik Bulu

Pagi hari ketiga, Chandler tidak bisa merasakan jari kakinya. Warnanya putih pucat. Mereka menduga itu frostnip, sehingga kakinya harus segera dihangatkan sebelum berubah menjadi frostbite, dan caranya dengan menaruhnya di ketiak teman. Hari itu Chandler bilang ia serius mempertimbangkan untuk pulang, tetapi evakuasi tidak mungkin dilakukan karena pilot menyatakan salju terlalu tebal untuk terbang. Seorang peserta menyoroti ironinya: hari terburuk dalam tantangan ini justru satu-satunya hari mereka tidak bisa dievakuasi. Jawaban yang mereka dapat, hari-hari ketika peserta paling mungkin cedera memang biasanya hari-hari ketika pesawat tidak bisa datang.

Salju semalaman mengubur camp dan membasahi semua kayu. Seseorang mendapat ide memakai bulu, dan dengan bulu itu percikan api berhasil ditangkap sampai api menyala. Peserta yang menyalakannya mengatakan tanpa api ini hari itu tidak akan bisa berjalan.

Percobaan Memancing Pertama: Es Terlalu Tebal

Fokus berikutnya adalah makanan. Jimmy membawa auger, bor es, untuk melubangi es di danau dekat camp dan memancing. Chandler sudah membaik dan warna kakinya mulai kembali, jadi Jimmy dan Hase berangkat, sementara Nolan tinggal sebagai "dokter" yang menjaga Chandler dan anggota lain melanjutkan pekerjaan shelter.

Di atas danau angin bertiup sangat kencang sampai mereka tidak bisa melihat. Mereka memilih titik yang tampak gelap dengan harapan esnya lebih tipis. Teknik mengebornya adalah tidak menekan terlalu keras dan membiarkan mata bor yang memotong. Lubangnya terus bertambah dalam, tetapi air tidak juga terlihat. Akhirnya alat itu tinggal sekitar 3 sentimeter lagi sebelum tidak bisa diputar, dan mereka menyimpulkan bor itu tidak cukup panjang untuk menembus es setebal itu. Pakaian mereka sudah basah kuyup dan risiko hipotermia mulai tinggi, jadi mereka pulang dengan tangan kosong.

Kegagalan ini membuat Jimmy teringat pada video survival terakhir, dan ia berjanji tidak akan gagal lagi. Di camp keadaannya juga memburuk. "Dapur" mereka tertimbun salju dan sebagian besar perlengkapan masak hilang. Salju diperkirakan sudah setinggi 80 sentimeter, yang menurut mereka kira-kira setengah tinggi badan Tareq.

Ranting Spruce sebagai Penyelamat

Malam itu bahaya terbesar datang dari pakaian yang basah total sampai ke lapisan dalam. Mereka menjelaskan bahwa kalau air itu membeku di badan, akibatnya bisa fatal, dan satu dari mereka bisa terkena hipotermia jika tidak segera bertindak. Mereka berpendapat sebagian besar dingin di malam hari berasal dari badan yang menempel ke tanah. Karena itu mereka mengambil ranting pohon spruce untuk dijadikan alas tidur yang memberi sedikit isolasi. Waktu Hase datang membawa lebih banyak ranting, Jimmy menggambarkannya seperti menerima hadiah Natal lebih awal, karena akhirnya ada harapan untuk tetap hangat semalaman.

Hari Keempat: Drone, Ski, dan Sungai yang Jauh

Hari keempat dimulai dengan cuaca cerah, tetapi tak lama kemudian awan gelap pertanda badai salju tampak di kejauhan. Persediaan makanan tinggal untuk sehari. Untuk mencari tempat memancing yang lebih baik, mereka menerbangkan drone milik Darius. Logika mereka begini: es di atas air yang mengalir seharusnya lebih tipis, dan sungai besar berarti ikan lebih banyak. Drone memperlihatkan sungai berkelok yang jelas, tetapi letaknya jauh, harus menyeberangi danau lalu menembus hutan.

Mereka membawa ski lintas alam untuk menyeberangi danau. Jimmy dan Darius tidak bisa bermain ski, dan Darius berkali-kali jatuh. Gerakannya diajarkan sebagai "shuffle, shuffle, meluncur", dan Jimmy akhirnya bilang ini anehnya malah seru. Di hutan mereka berganti ke sepatu salju. Mereka menemukan jejak kaki besar yang menurut Hase milik moose, lalu memutuskan mengambil arah yang tidak ada moose-nya. Perjalanan itu menguras tenaga. Satu kaki bahkan sempat terperosok ke lubang dan hanya tertahan oleh sebatang dahan. Ketika ditanya seberapa dekat dengan titik menyerah, seorang peserta menjawab ia sudah menyerah, sebelum akhirnya sungai terlihat.

Di camp, Chandler menemukan cara baru membuat atap dengan memotong balok salju yang sangat besar. Anggota lain memperingatkan agar atapnya jangan sampai ambruk, dan para pembuatnya mengaku sebenarnya mereka juga tidak tahu sedang melakukan apa.

Godaan Flare dan Kegagalan Kedua

Jimmy menegaskan bahwa seluruh perjalanan itu berangkat dari asumsi bahwa es di sungai lebih tipis. Ia bilang optimismenya hanya untuk menyemangati diri, karena sebenarnya ia takut semua waktu, tenaga, dan kalori itu terbuang sia-sia. Ketika pesawat melintas, beberapa peserta tergoda menembakkan flare. Ada yang mengaku jarinya sudah siap menarik pelatuk dan mengajak semuanya pulang meski harus botak. Flare tetap tidak ditembakkan.

Lubang yang mereka bor sudah sedalam lengan, tetapi air belum juga muncul. Sepatu boot seseorang penuh salju basah setelah terjatuh di dekat sungai, dan jari kakinya mulai keunguan, jadi kaki itu dihangatkan di ketiak Darius. Setelah tiga jam di tengah dingin dan dengan awan badai mendekat, Jimmy memutuskan kembali karena kalau tidak, menurutnya ada yang bisa celaka. Mereka sudah menggali sampai 180 sentimeter selama empat jam penuh ketika matahari mulai tenggelam. Rencana mereka adalah kembali besok dan menggali sampai mendapat ikan. Di camp seseorang menyesal tidak menembakkan flare, karena sekarang mereka tidak punya makanan. Shelter yang sudah diperluas setidaknya memberi jarak tidur yang rata sehingga tidak ada yang saling menyenggol.

Hari Kelima: Badai, Makanan Terakhir, dan Taruhan Terakhir

Pada hari kelima mereka hanya punya makanan terakhir dan beberapa camilan cadangan. Badai salju sedang berlangsung, tidak ada pesawat, dan tidak ada penyelamatan. Salju yang basah berarti siapa pun yang keluar akan langsung basah kuyup. Jimmy tetap memutuskan kembali ke lubang pancing, dan meminta yang tinggal di camp menyiapkan air panas sebagai semacam pos darurat seandainya ada yang pulang dalam keadaan hipotermia. Alasannya, ia mengenal teman-temannya. Kalau hari itu tidak ada ikan, menurutnya besok semua akan menyerah dan menembakkan flare. Ia kembali menyinggung video sebelumnya yang gagal padahal sudah "hampir sampai pulau".

Karena badai, mereka tidak membawa ski supaya bawaan lebih ringan, walaupun itu membuat perjalanan lebih lama. Jalur yang dibuat kemarin sudah tertutup salju. Di camp, yang tertinggal kebingungan karena kayu basah, dan salah satunya mengeluh bahwa orang yang tahu segalanya justru pergi. Mereka akhirnya membelah pohon mati yang bagian dalamnya kering, lalu menyerutnya menjadi bahan penyala api.

Ikan Pertama di Tengah Monolog

Di sungai, lubang lama masih ada dan mereka mulai melebarkannya. Sementara itu seorang peserta mencari titik lain berdasarkan dugaan bahwa air di pertemuan arus lebih berputar sehingga esnya lebih tipis. Dugaan itu tepat. Mereka menemukan es yang hanya sekitar 20 sentimeter dan berhasil menembusnya. Umpannya makanan beku.

Empat jam kemudian belum ada hasil. Jimmy, yang kedinginan dan mulai kehilangan harapan, bicara ke kamera. Ia khawatir kalori yang minim akan membuat mereka semakin kedinginan, dan mengakui tantangan ini mungkin harus dihentikan kalau salju makin deras. Namun ia juga bilang tidak mau gagal dua kali berturut-turut dan akan duduk di sana selama yang diperlukan. Tepat di tengah monolog itu, ada ikan yang menggigit. Ikan itu sempat terlepas di lubang. Kailnya tersangkut di bibir dan ikan naik dengan posisi miring. Jimmy kemudian menangkapnya dengan tangan kosong, hal yang menurutnya belum pernah ia lakukan, sampai sarung tangannya basah dan harus diganti dengan cadangan. Prinsip yang mereka pegang adalah "kalau ada satu, berarti ada lagi", jadi mereka segera memancing kembali. Ikan kedua pun didapat.

Setelah tujuh jam memancing mereka membawa pulang dua ekor ikan. Seorang peserta mengaku pusing karena berjam-jam tidak minum. Di camp, api sudah menyala dan air sudah siap. Ikan pertama dimasak malam itu dan ikan kedua disimpan untuk hari keenam. Seorang peserta bilang belum pernah makan ikan sesegar dan seenak itu.

Hari Keenam: Refleksi Hampir Satu Dekade

Hari keenam lebih santai. Saat pesawat datang, ada yang bercanda ingin menembakkan flare karena khawatir hari itu akan terlalu menyenangkan. Jimmy merasa teman-temannya pantas mendapat hiburan setelah lima hari yang brutal, dan menjanjikan kejutan jika mereka sampai di hari ketujuh.

Jimmy menyebut tantangan ini yang tersulit yang pernah ia jalani. Setelah diingatkan soal saat ia disuruh makan acar tujuh tahun lalu, ia meralatnya menjadi tersulit kedua. Ia bercerita mereka sudah membuat video survival semacam ini hampir satu dekade, dengan titik-titik terendah dalam hidupnya dan juga momen-momen terbaiknya. Menurutnya duduk di gua, bercanda bersama teman-teman, jauh dari masyarakat, adalah salah satu bagian paling menyenangkan dari membuat video. Ia memberi apresiasi kepada teman-temannya, karena berkat mereka video yang secara teori menyiksa ini justru dipenuhi momen keren. Ia juga berterima kasih kepada penonton dan mengatakan bahwa semasa kecil ia sering memimpikan hidup seperti sekarang. Hari itu diisi dengan meluncur di salju, dan Jimmy memberinya nilai sepuluh dari sepuluh. Malam terakhir ditutup dengan s'mores yang sudah disimpan untuk momen itu, dan Jimmy memberi petunjuk bahwa besok mereka tidak akan pulang naik helikopter.

Hari Ketujuh: Bersih-Bersih dan Kejutan

Pada hari ketujuh Jimmy sempat bercanda bahwa mereka harus tinggal seminggu lagi. Sebelum pergi, ia mewajibkan semua orang membersihkan setiap sampah sekecil apa pun. Flare kemudian ditembakkan sebagai sinyal kejutan, dan yang datang ternyata sekumpulan anjing Arktik penarik kereta luncur. Dengan itu rombongan meninggalkan Arktik. Mereka berhasil menyelesaikan tujuh hari tanpa ada yang menembakkan flare untuk pulang lebih awal, tanpa ada yang mencukur kepala, dan dengan dua ekor ikan yang mereka dapat setelah dua hari penuh kegagalan memancing.