20 Hari di Hutan: Ahli Survival Tanpa Persiapan vs Amatir dengan Perbekalan, Siapa yang Bertahan?
MrBeast ミスタービーストMrBeast meninggalkan 100 orang di tengah hutan belantara dan membaginya menjadi dua tim berisi 50 orang. Tim Biru berisi para ahli survival. Tim Merah berisi amatir yang, menurut MrBeast, "mungkin nggak cocok di alam liar." Aturannya sederhana: tim dengan anggota terbanyak saat bantuan datang akan membagi hadiah 250.000 dolar. Satu-satunya cara keluar dari tantangan adalah menyalakan flare lalu menunggu dijemput.
Pertanyaan yang diuji video ini adalah mana yang lebih menentukan dalam bertahan hidup: pengetahuan atau sumber daya. Setelah 20 hari, jawaban yang muncul ternyata bukan keduanya.
Ketimpangan yang disengaja sejak awal
Sejak awal MrBeast yakin Tim Biru akan unggul. Salah satu anggotanya mengaku pernah tinggal di hutan paling lama tiga bulan, dan ia melakukannya untuk bersenang-senang. Sebaliknya, ketika MrBeast bertanya kepada Tim Merah siapa yang pernah berkemah atau sanggup bertahan sebulan, reaksinya membuat MrBeast berkomentar, "Tim sana bakal abis sih."
Untuk menyeimbangkan keadaan, MrBeast memberi tahu Tim Merah soal tantangan ini lebih dulu dan mengajak mereka ke toko untuk membeli apa pun yang mereka butuhkan. Mereka pulang membawa tali, terpal untuk alas, satu pak air isi 24 botol, dan korek api. Tim Biru hanya diberi tahu bahwa mereka akan tampil dalam video MrBeast. Salah satu anggotanya bercerita bahwa ia tidak tahu harus membawa apa, jadi ia bersiap untuk segala cuaca. Ia bahkan sempat mengira akan dibawa ke Alaska.
Perbedaan pendekatan kedua tim langsung terlihat. Seorang ahli di Tim Biru menjelaskan bahwa mereka akan membuat shelter sederhana dari ranting yang dilapisi bahan penyekat yang bagus. Ia sudah melatih keterampilan ini sekitar sepuluh tahun, tetapi tetap butuh sepuluh orang untuk mengumpulkan bahan. Menurutnya, membangun bersama juga baik untuk semangat tim. Di Tim Merah, satu orang hanya punya tenda anak-anak dan bercanda bahwa untungnya tingginya cuma 165 cm. Mereka tetap percaya diri bisa mengalahkan para profesional. Api mereka berhasil menyala, meski orang yang menyalakannya mengaku "cuma ngelakuin yang aku lihat di film."
Saat ditanya berapa malam mereka sanggup bertahan, Tim Biru menjawab "semuanya", bahkan sampai Natal kalau perlu. MrBeast menyimpulkan bahwa hobi mereka memang menderita di hutan.
Malam-malam pertama: ahli justru yang pertama tumbang
Hasil malam pertama berkebalikan dengan dugaan. Menurut narasi MrBeast, perbekalan Tim Merah membuat hidup mereka jauh lebih mudah. Para ahli malah sulit tidur karena suhu turun drastis. Seorang anggota Tim Biru mengaku sangat lelah, dehidrasi, dan bertanya-tanya kenapa ia ada di sana. Pada hari kedua ia mengeluh sama sekali tidak bisa tidur karena tanahnya dingin dan semuanya basah.
Dua orang pertama yang menyalakan flare berasal dari Tim Biru. Salah satunya berusia 66 tahun dan pernah dua kali menjalani operasi lutut. Sementara itu, Tim Merah bangun di pagi yang cerah. Salah satu anggotanya bilang kadang enak juga bisa rehat sebentar dari dunia.
Para ahli sadar shelter mereka harus segera diperbaiki kalau tidak mau kehilangan lebih banyak orang. Mereka menjelaskan bahwa shelter seharusnya bukan sekadar tumpukan ranting, tetapi harus ditambah lapisan daun setebal 30 cm supaya tidak basah saat hujan, dan pekerjaan itu butuh semua orang. Tim Merah juga membangun atap sederhana agar makanan tetap kering. MrBeast sampai berkomentar bahwa ia perlu belajar dari mereka kalau membuat video survival lagi.
Keunggulan yang cepat habis
Narasi MrBeast menggambarkan pola yang mulai terbentuk. Para ahli memaksimalkan sumber daya yang terbatas, sedangkan para amatir menghabiskan keunggulan mereka dengan cepat. Upaya Tim Biru mulai berbuah. Mereka menyebut shelternya "lebih bagus dari hotel bintang lima", dan pada hari ketiga mengaku tidur seperti bayi karena shelternya hangat. Meski belum makan, suasana hati mereka baik, bahkan ada yang bersalto.
Tim Merah memulai hari ketiga dengan apa yang MrBeast sebut bagian tersulit dari survival: perut kosong. Mereka menghabiskan semua camilan dalam dua hari pertama. Di sisi lain, berbekal pengetahuan Seth tentang alam liar, Tim Biru bisa "mengubah hutan jadi supermarket". Mereka memetik tanaman yang bisa langsung dimakan, dan Seth membuat perangkap ikan dari ranting untuk dipasang di sungai. Para amatir juga mencoba memancing, tetapi yang mereka dapat hanya sampah.
Persediaan tersembunyi dan pengkhianatan di dalam tim
Pada hari keempat, masalah makanan makin serius. MrBeast lalu mengungkap bahwa ia menyembunyikan persediaan makanan di seluruh hutan, seperti bit, apel, dan kentang. Jumlahnya minimum, tetapi menurutnya cukup untuk bertahan kalau diatur dengan benar. Kedua tim sama-sama mendirikan pantry bersama untuk membagi jatah.
Di Tim Biru, Julia punya rencana lain. Ia menyembunyikan sebagian makanan karena tidak mau orang lain yang memegang kendali. Menurutnya, mereka akan makan kalap sampai tidak ada sisa bagi orang yang bersedia menahan lapar seminggu. Kelompoknya lalu memasak makan malam besar dari simpanan itu, dan ketegangan pun memuncak sampai kelompok itu memutuskan keluar. Setelah mereka pergi, kecurigaan Randy terbukti: anggota lain menemukan simpanan makanan milik rekan setim sendiri. Randy mengaku lega mereka pergi karena tidak berkontribusi, tetapi ia juga sadar tim butuh banyak orang untuk menang. Setelah kehilangan lima orang, ia meminta tidak ada lagi yang keluar besok.
Eliminasi tetap berlanjut, begitu juga pertengkaran. Seseorang memprotes pembagian satu apel per orang untuk 11 orang di kelompoknya karena menurutnya itu konyol. Seorang lagi menyebut timnya berisi "50 survivalist, alias tukang ngatur", yaitu orang-orang yang semuanya ingin jadi pemimpin, lalu memilih keluar. Pada hari kelima, Tim Biru sudah berkurang sembilan orang. Menurut MrBeast, mereka harus mulai belajar bekerja sama.
Tim Merah memilih bersatu dan menjatah makanan
Menurut narasi video, strategi Tim Merah untuk bersatu dan menjatah makanan membantu mereka bertahan. Seorang anggotanya bilang biasanya ia makan enam telur tiap pagi, tetapi sekarang hanya satu apel, demi uang. Tidak semua orang sanggup. Ada yang mengeluh tenaganya habis dan kepalanya pusing, dan ada yang terus membayangkan buffet Waffle House. Menurut MrBeast, rasa lapar membuat Tim Merah kehilangan enam orang pertamanya.
Saat MrBeast berkunjung, anggota Tim Merah menyebut makanan, matahari, dan serangga sebagai bagian tersulit. Mereka menyebut shelternya "udah kayak mansion" untuk empat orang. Tidur mereka makin nyenyak, meski mereka mengakui mungkin itu karena standar mereka sudah turun. Mereka yakin shelternya "seratus persen lebih bagus" dari milik para profesional. Soal kemungkinan air hujan masuk, jawabannya hanya bahwa ia memilih berpikir positif. Mereka juga menebak banyak anggota Tim Biru sudah pulang, karena orang yang semuanya ahli pasti ribut soal cara masing-masing. MrBeast menilai tebakan itu tidak salah.
Tim Biru sendiri memilih disiplin yang keras. Mereka sepakat tidak makan sama sekali hari itu karena persediaan tidak cukup untuk 50 orang. Seorang anggota menegaskan bahwa ini bukan soal nyaman, tetapi soal bertahan.
Tidak semuanya lancar di Tim Merah. Brittany, chef mereka, memasak sarapan untuk mencegah eliminasi, tetapi hasilnya dinilai "sampah" dan membuat perut seseorang sakit. Di Tim Biru, pagi yang santai berubah jadi konflik soal apakah bahan harus dibersihkan sebelum dimasak. Seorang anggota bahkan mengaku dirinya memang susah bekerja dalam tim karena dari dulu suka membantah. Kedua tim terus kehilangan orang. Tim Merah kehabisan buah dan tidak lagi sarapan, dan dua anggota lagi menyerah. MrBeast juga menegaskan bahwa, seperti para peserta yang tidak tahu siapa yang tersisa di tim lawan, penonton pun tidak akan tahu jumlahnya sampai akhir video.
Tantangan 50 kaleng: ujian disiplin yang berakhir seri
Pada hari ketujuh, MrBeast melempar karung makanan dari kendaraan yang melaju kencang ke masing-masing tim. Setiap tim mendapat 50 kaleng makanan. Tim yang mengembalikan kaleng tak terbuka paling banyak dalam 72 jam akan mendapat hadiah. Kalau hasilnya seri, tidak ada yang mendapat apa-apa.
Tim Merah awalnya bersorak ingin memakan semuanya. Lalu seseorang mengingatkan bahwa tim lawan akan mengira mereka membuka kaleng karena kelaparan, dan mereka akhirnya memutuskan mengubur semuanya. Tim Biru juga memilih disiplin. Menurut mereka, jatah yang ada masih cukup untuk 72 jam, jadi tidak boleh ada satu kaleng pun yang dibuka. Kaleng-kaleng itu disembunyikan di hutan supaya hanya sedikit orang yang tahu lokasinya. MrBeast memperkirakan akan ada yang keluar karena larangan itu.
Hari kedelapan memperlihatkan perbedaan suasana. Tim Merah menemukan panggangan tua di hutan, dan seorang anggotanya kagum betapa sedikit makanan dan perubahan cuaca bisa memengaruhi mental. Di Tim Biru, racun tanaman mulai menyebar di tubuh anggotanya, perangkap belum menangkap apa pun, dan seseorang mengaku cukup lapar untuk makan pasta gigi. Keberadaan 50 kaleng berisi daging, kacang polong, dan jagung yang tidak boleh disentuh justru membuat mereka kesal. Seorang anggota bahkan hampir tidak menyadari seekor ular di dekatnya saat mencari udang.
Badai besar dan malam terdingin
Menjelang akhir hari, cuaca berubah. Seorang peserta melaporkan suhu turun sekitar 15 derajat dalam 10 menit. Angin kencang, petir, dan hujan datang, dan ada yang khawatir badai itu bisa menjadi tornado. Anggota Tim Biru yakin Tim Merah tidak mungkin menghadapinya sekuat mereka. Di Tim Merah, sebuah tenda hancur dan penghuninya harus mengungsi ke pesawat yang ada di lokasi. MrBeast menebak hujan ini akan menjadi titik menyerah bagi banyak orang.
Esok paginya, embun beku menutupi daun, pepohonan, kotak uang, bahkan kursi pesawat. Seorang peserta menyebut malam itu yang terdingin selama mereka di sana. Anggota Tim Biru menghibur diri dengan logika bahwa kalau mereka kedinginan, Tim Merah pasti juga. Di Tim Merah, area api unggun sempat kebanjiran. Menurut narasi MrBeast, hujan itu membuat enam orang dari Tim Merah dan dua dari Tim Biru pulang.
Saat hari penentuan tiba, hasilnya mengejutkan semua orang. Tim Biru mengembalikan 50 kaleng, begitu juga Tim Merah. Karena seri, tidak ada yang mendapat hadiah. Tim Merah marah besar. MrBeast melaporkan tiga orang langsung keluar setelah pengumuman, lalu jumlahnya bertambah jadi lima. Salah satunya bilang naluri seorang ibu menyuruhnya pulang. Seorang peserta yang pulang mengaku menyesal tidak memakan isi kaleng itu.
Kepergian Seth dan hitungan uang yang berubah
Semangat Tim Biru juga ikut jatuh, dan mereka kehilangan tiga orang. Kurang tidur dan lapar menjadi keluhan utama. Salah satu yang pergi adalah Seth, ahli yang mengajari semua orang membuat shelter tahan cuaca dan mencari makanan. Ia menjelaskan bahwa waktunya meninggalkan bisnis sudah habis dan bisnisnya harus diprioritaskan. Seorang rekan mengakui bahwa Seth sudah mengajarkan banyak hal, meski menurutnya banyak orang tidak mau mengakuinya.
Beban fisik mulai terasa. Seorang anggota bilang ia bisa melihat berat badannya turun setiap hari dan tidak boleh turun lebih jauh lagi. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan nasi. Mymona keluar karena tubuhnya, terutama pinggulnya, terasa sakit.
Di titik ini muncul motif baru. Seorang peserta terang-terangan bilang makin banyak yang keluar justru bagus karena bagian uang tiap orang makin besar. Tim Merah, sebaliknya, merespons berkurangnya anggota dengan mengambil tanggung jawab lebih besar. Sejak Brittany pergi, anggota lain mengambil alih dapur dan memasak dengan daun bawang dan wortel yang hasilnya dinilai lumayan. Seorang anggota bilang ia sudah membuktikan dirinya mampu melakukan jauh lebih banyak dari yang ia kira.
Badai kedua dan perebutan terpal
Badai kembali datang. Di Tim Biru, seorang peserta menutup celah pintu shelternya dengan daun holly, tetapi hujan deras turun sekitar lima jam tanpa henti. Sepatu, kaus kaki, baju, dan tempat tidur semuanya basah. Konflik pecah soal satu-satunya terpal yang mereka punya. Terpal itu dipakai untuk menjaga kacang dan nasi tetap kering, dan orang dilarang berteduh di bawahnya. Pihak yang dilarang menilai terpal itu seharusnya menjadi shelter bersama. Seorang anggota menyimpulkan bahwa semua orang sudah di batas kesabaran.
Di saat yang sama, seorang anggota Tim Merah santai mengisi ulang air lalu membaca di tenda. Baginya, hari seperti itu justru yang paling mudah.
Tantangan kotak hari ke-14: steak, tombol, dan perpecahan
Pada hari ke-14, MrBeast menaruh satu set kotak yang identik di depan masing-masing tim. Kotak dibuka satu per satu dan berisi barang survival penting. Tim yang pertama menekan tombol mendapat isi kotak itu, dan tim lawan tidak mendapat apa-apa. Kalau kedua tim menolak semua kotak, keduanya mendapat seluruh isinya.
Kotak pertama berisi peralatan memancing. Tim Merah menolak karena menurut mereka sungai itu tidak ada ikannya. Kotak kedua berisi panci dan wajan besi cor. Chef Tim Merah sempat mengusulkan mengambilnya agar lawan tidak mendapatkannya, tetapi tim memilih melewatinya. Kotak ketiga berisi cokelat peanut butter Feastables, yang disebut peserta sebagai godaan yang kejam, dan tetap dilewati. Kotak keempat berisi bahan bangunan, dan keduanya menolak karena sudah punya shelter.
Sebelum kotak terakhir dibuka, Tim Merah menebak Tim Biru akan menekan tombol. Alasan mereka, kalau tidak ada yang menekan, kedua tim kembali imbang, dan tidak ada alasan bagi Tim Biru untuk membantu tim yang punya lebih sedikit. Kotak terakhir berisi steak, Jack Link's, dan bumbu untuk seluruh tim. Patrick dari Tim Biru langsung menekan tombol, padahal rekan-rekannya masih berteriak "tunggu" dan "jangan". Tim Merah tidak menekan karena, menurut seorang anggotanya, mereka masih sibuk berdebat.
MrBeast menilai keputusan cepat Patrick memberi keuntungan bagi Tim Biru, tetapi sikapnya yang tidak peduli pendapat orang lain langsung memicu perpecahan. Seorang anggota yang vegetarian marah karena merasa tidak didengar, lalu keluar. Meski begitu, untuk pertama kalinya Tim Biru punya pasokan lebih banyak dari lawannya. Mereka menyebut steak itu "lebih enak dari Natal, lebih enak dari Thanksgiving" dan merasa punya energi lagi berkat protein. Di Tim Merah, seseorang kesal karena makanan mereka sekarang kotor bercampur jelaga hitam, akibat tim menolak menekan tombol untuk panci.
Uang mulai lebih menentukan daripada survival
Setelah daging habis, Tim Biru menghadapi masalah baru, yaitu uang. Karena banyak yang sudah pergi, bagian masing-masing dari 250.000 dolar kalau menang terus membesar. MrBeast bilang jumlah pastinya belum diketahui karena jumlah anggota yang tersisa belum pasti, tetapi nilainya sudah mencapai ribuan dolar. Menurut narasinya, Trinh lalu membuat rencana untuk memperbesar bagiannya.
Seorang anggota Tim Biru bilang bagian survival-nya sudah bukan yang paling sulit lagi. Pertengkaran soal terpal berulang, kali ini dengan tuduhan egois dan usulan membongkar shelter yang sudah dibangun orang lain. Anggota yang dikenal membawa energi positif dan suka bersalto untuk menghibur tim akhirnya meminta maaf dan pergi. Pada hari ke-16, konflik berlanjut soal siapa yang boleh makan siang. Seorang anggota menegaskan ia "nggak patuh ke siapa-siapa", dan anggota lain berterima kasih secara sinis atas "sikap toksik" itu karena memberinya alasan untuk pergi. Patrick dan Joel juga ikut keluar.
Beberapa anggota Tim Biru mulai pesimis. Mereka merasa makin sedikit orang berarti peluang menang makin kecil. Salah satunya mengira keadaan akan makin mudah, ternyata tidak. MrBeast menggambarkan Tim Biru mulai pecah, sementara Tim Merah makin solid, tidak hanya bertahan tetapi berkembang. Tim Merah mendengar sorakan dari arah Tim Biru dan menebak ada dua orang yang menyalakan flare.
Tim Merah pun tidak sepenuhnya damai. Seorang anggota menyerang rekannya dengan menyebutnya palsu dan tidak berkontribusi apa-apa selain memasak makanan yang tidak enak. Pihak yang diserang menyebut pelakunya pembully dan "cewek jahat", lalu memilih pulang. Di sisi lain, Tim Merah berhasil menangkap ikan yang cukup besar, membersihkannya bersama, dan memasaknya. Rasanya dinilai enak. Satu anggota lagi keluar dengan alasan ia tidak lagi merasa tenang di sana. MrBeast menarik pelajaran bahwa kemampuan bertahan hidup sendirian di alam liar tidak berarti kamu bisa bertahan sebagai tim.
Tim Biru kemudian melewati lima hari berturut-turut tanpa ada yang menyalakan flare. Meski begitu, Amelia keluar, dan seorang anggota menuduh Trin egois. Ia mengingatkan bahwa kalau mereka kalah karena Tim Merah unggul satu orang saja, Trin juga akan kehilangan uang.
Perburuan pistol flare
Setelah tiga minggu, MrBeast mengadakan tantangan terakhir. Setiap tim mendapat peta kamp lawan dan sebuah pistol flare, lalu menandai di mana pistol itu akan disembunyikan di kamp lawan. Tim yang pertama menemukan pistol flare berhak menentukan kapan video berakhir dengan menembakkannya, entah hari itu, lima hari lagi, atau sepuluh hari lagi. Tim lawan tidak punya kendali sama sekali. Tim Biru sengaja menaruh pistol untuk Tim Merah jauh di tepi area supaya lawan harus berusaha keras dan membakar kalori.
Begitu penutup mata dilepas, perbedaan kedua tim terlihat jelas. Tim Merah tidak menyusun rencana selama mata tertutup, dan pencarian mereka kacau. Seorang anggotanya bahkan menyempatkan diri mengambil air lebih dulu. Menurut MrBeast, Tim Biru datang dengan rencana dan membagi area pencarian. Pistol flare akhirnya ditemukan oleh Tim Biru.
Tim Biru menebak Tim Merah tersisa delapan atau sembilan orang. Ditanya apakah mungkin lawan justru lebih banyak, mereka menjawab mungkin, tetapi tidak yakin. Tim Merah berharap Tim Biru terlalu percaya diri dan langsung menembak saat jumlah orang Tim Merah lebih banyak. Ketika MrBeast menawarkan untuk menunggu sampai besok, Tim Biru menolak karena mereka sudah menunggu 20 hari. Flare pun ditembakkan.
Hasil akhir
Setelah 20 hari, Tim Biru tersisa 11 orang dan Tim Merah 9 orang. Tim Biru memenangkan 250.000 dolar, dan menurut MrBeast masing-masing anggotanya membawa pulang 22.000 dolar. Tim Merah tidak pulang dengan tangan kosong karena setiap anggotanya menerima 4.000 dolar karena sudah bertahan. Seorang anggota Tim Merah mengaku emosional, tetapi bangga timnya bisa bertahan sejauh itu melawan para ahli survival.
Pertanyaan awal, pengetahuan atau sumber daya, dijawab di penutup video. Keterampilan dan persediaan sama-sama berpengaruh, tetapi menurut kesimpulan yang disampaikan, yang akhirnya paling menentukan adalah kerja sama.
Aku baru ninggalin 100 orang ini di tengah hutan belantara. Dan tim mana pun yang punya anggota terbanyak saat bantuan datang bakal bagi-bagi 250.000 dolar.
Orang-orang yang pakai biru adalah tim ahli survival, dan yang pakai merah adalah amatir yang mungkin nggak cocok di alam liar.
Tim Biru. Ambil tas kalian dan ikut aku. Kamu pernah berapa lama di hutan? Paling lama? Tiga bulan! Buat seneng-seneng? Iya.
Ya ampun. Berapa dari kalian yang udah pernah kemping? Berapa dari kalian yang kuat sebulan di sini? Ya ampun, tim sana bakal abis sih.
Aku tahu Tim Biru bakal punya keunggulan. Jadi sebelum mulai, aku kasih tahu Tim Merah tantangannya dan ngajak mereka ke toko buat beli yang mereka butuhin buat bertahan hidup.
Oke, tunjukin barangnya. Aku punya tali, aku punya terpal ini buat alas. Wah, kamu beli air yang isi 24 botol? Udah pasti. Aku langsung ngambil korek api sih. Yap, itu. Pintar. Oke!
Tapi Tim Biru cuma dikasih tahu kalau mereka ikut dalam video MrBeast.
Aku nggak tahu harus bawa apa, jadi aku siapin buat segala cuaca. Kirain kamu bakal ngajak ke Alaska.
Buat shelter kita bakal bikin yang simpel aja dari ranting. Kita cuma perlu lapisan penyekatan yang bagus. Aku udah latihan skill ini sekitar sepuluh tahun, tapi aku butuh tim sepuluh orang buat ngumpulin bahan. Kalian bakal ngebangun. Itu bagus buat semangat tim.
Cuma ada tenda anak-anak. Untungnya tinggiku cuma 165 cm.
Dengan semua keuntungan tim kamu, yakin bisa ngalahin Tim Biru? Iya. Walaupun mereka profesional. Kami nggak peduli. Kami profesional dengan cara sendiri. Iya. Iya.
Udah nyala nih! Aku cuma ngelakuin yang aku lihat di film.
Mereka ngelakuin ini buat senang-senang? Kalian bakal nginep berapa malam? Semuanya. Kalo perlu sampai Natal. Sampai mereka nyuruh kami pergi. Hobi mereka itu menderita di hutan.
Selamat malam.
Dan selama malam pertama, kelihatan banget kalau keuntungan Tim Merah bikin hidup mereka jauh lebih mudah. Tapi para ahli kesulitan buat bisa tidur karena suhu udaranya turun drastis.
Aku capek banget, dehidrasi, dan mikir kenapa aku di sini.
Aku beneran nggak bisa tidur. Tanahnya dingin banget, semuanya basah.
Dan cara keluar dari tantangan ini cuma nyalain flare dan nunggu diselamatkan. Baru aja ada orang pertama yang menyerah.
Satu keluar. Empat puluh sembilan lagi.
Tapi itu bukan satu-satunya.
Maaf, guys. Aku 66 tahun, udah operasi lutut dua kali. Maaf banget.
Ternyata, dua eliminasi pertama justru para ahli di Tim Biru. Sementara Tim Merah pakai sumber daya mereka buat tidur dengan nyaman di luar.
Ini pagi yang indah. Matahari bersinar. Beruntung banget bisa di sini. Kadang enak juga ya, bisa rehat sebentar dari dunia.
Sementara itu, para ahli tahu mereka harus segera memperbaiki shelter mereka, atau bakal kehilangan lebih banyak orang.
Shelter ini seharusnya nggak cuma tumpukan ranting-ranting doang. Harus ditambah daun setebal 30 cm. Ini butuh kerja sama semua orang. Pake daun supaya kalau nanti hujan, kami gak kebasahan.
Kalian bertiga tidur di situ? Iya! Iya. Bro, benteng mereka gede banget. Menurut kamu ini bakal kuat kalau hujan? Cuma ada satu cara buat tahu.
Kami bakalan bikin shelter. Supaya nanti, pas tidur kami nggak kehujanan. Jadi kami bikin atap, yang penting makanan kami tetep kering.
Kalian bikin ini? Iya. Kita harus belajar dari mereka kalo bikin video survival lagi. Iya, bener. Tinggal telepon aku aja. Kami butuh sih.
Sementara para ahli coba memaksimalkan sumber daya mereka yang terbatas, para amatir malah ngabisin keuntungan mereka dengan cepat.
Kalian cuma bikin ini? Pokoknya janji ya jangan ada yang mati. Kami janji. Aman kok. Janji!
Saat siang berganti malam, para amatir terus-terusan bertindak sangat boros.
Mereka pasti masih kerja keras, make semua tenaganya, dan nggak bakal bertahan.
Tapi kerja keras para ahli udah mulai membuahkan hasil.
Lihat nih. Lebih bagus dari hotel bintang lima. Malam ini kami bakal jauh lebih nyaman. Pasti.
Kami lagi di hutan. Tapi tidur kayak bayi. Soalnya kami bikin shelter yang bagus, yang hangat. Tim Merah palingan punya tenda, pake sleeping bag. Kami punya ini. Kami di luar sini belum sempet makan, tapi tetap senang. Salto, Bro.
Sementara para ahli memulai hari dengan istirahat cukup dan penuh energi.
Nah, itu dia maksudku!
Para amatir memulai hari dengan bagian tersulit dari survival. Perut yang kosong.
Ada camilan nggak? Nggak!
Tim Merah ngabisin dua hari pertama dengan makanin semua camilan mereka. Dan sekarang…
Kami laper banget. Hari ini kami udah mulai kelaperan. Jadi kita bakal cari makanan sama air.
Sementara itu, kelas nyari makan, udah dimulai! Dengan pengetahuan survival di alam liar dari Seth, Tim Biru bisa mengubah hutan belantara jadi kayak supermarket.
Bisa langsung dipetik, terus dijadiin camilan.
Dia bahkan bikin perangkap ikan dari ranting buat dipasang di sungai terdekat. Sementara itu, para amatir nyobain buat mancing juga, tapi cuma berhasil nangkepin sampah.
Tapi di hari keempat, masalah makanannya udah jadi nggak lucu lagi.
Masuk. Empat. Sembilan. Makanan habis. Kita masih punya makanan nggak sih? Nggak ada sama sekali. Aku bakal ngemilin ini semaleman. Kita harus nyari lagi.
Karena camilan mereka gak bisa bertahan lama…
Apaan nih? Aku punya rencana buat itu. Bit! Apel!
Aku ngumpetin persediaan makanan di seluruh hutan. Bro! Apa! Dengan jumlah minimum buat bertahan, kalau diatur dengan benar.
Kayaknya di hutan ini ada banyak makanan. Tinggal kami cari aja. Aku nemu banyak banget makanan di hutan. Kita bakal makan enak nih.
Kedua tim mendirikan pantry bersama buat bagi jatah makanan.
Menurutku kami bakal aman buat sementara. Asal kami kerja sama sebagai tim. Soalnya penting banget, supaya jangan ada yang nusuk dari belakang. Bro.
Tapi di Tim Biru, Julia udah punya rencana lain.
Umpetin ini. Aku nggak mau mereka pegang kendali. Mereka bakal makan kalap,
dan nggak ada sisa buat kita yang mau bertahan lapar seminggu dibanding yang nggak mau.
Dengan simpanan makanan mereka, para ahli bikin makan malam yang besar.
Bikin makan malam? Ini gila.
Dan ketegangan mulai memuncak.
Kita udah berusaha semaksimal mungkin. Nggak semua orang bakalan senang, tapi bakal gitu terus kalo nggak mau ngasih tau kami.
Kami cabut! Malam!
Gudang mereka di mana, Chelsea?
Kecurigaan Randy mengungkap masalah baru di tantangan baru.
Nggak mungkin. Seriusan nih? Ada kentang.
Anggota timnya sendiri.
Lihat nih. Ini simpanan mereka yang kami temuin setelah mereka pergi. Mereka nggak kontribusi ke tim, jadi aku senang mereka udah pergi. Tapi di sisi lainnya, kami butuh banyak orang, soalnya kami harus menang.
Randy benar. Tim dengan anggota terbanyak di akhir kompetisi akan menang dan bagi-bagi hadiah 250.000 dolar.
Kita kehilangan lima orang. Jadi dengar, besok nggak ada yang keluar, oke?
Meski Randy udah nyemangatin,
Aku nggak pernah main game yang nggak bisa percaya tim sendiri.
Marco, jangan nyerah.
tapi eliminasi terus terjadi.
Aman!
Dan juga pertengkarannya.
Jangan nentuin orang lain makan apa.
Ada 11 orang di sini, kalo satu orang dapet satu apel. Itu konyol.
Ada 50 survivalist, alias tukang ngatur, jenis orang-orang yang pengen jadi pemimpin. Tapi aku, aku pergi. Keluar.
Baru hari kelima, dengan tim ahli berkurang sembilan orang, mereka harus mulai belajar kerja sama supaya bisa bertahan.
Ayo makan! Aku tahu kamu belum dapat apel kan.
Strategi Tim Merah buat bersatu dan ngejatah makanannya, ngebantu mereka buat bertahan.
Tolong ambil satu aja. Nih ambil. Ambil satu. Makasih.
Aku biasanya makan enam telur kalo pagi, sekarang cuma makan satu apel. Tapi demi uang…
Tapi nggak semuanya mau hidup dengan satu apel sehari.
Makanan kurang. Tenagaku rendah. Rendah banget.
Hari ini aku nggak enak badan, kepalaku pusing banget.
Aku cuma pengen buffet yang di Waffle House.
Ngapain ngomong gitu, bro? Tuh, aku jadi kepikiran kan.
Dan rasa lapar bikin Tim Merah kehilangan enam orang pertama mereka.
Waffle House harus siap-siap, bro.
Apa bagian tersulit buat kalian? Makanan. Matahari. Sama serangga. Itu sih semuanya. Gimana keadaan di sini?
Di sini udah kayak mansion aja. Di sini kami berempat.
Gimana tidurnya? Makin lama sih semakin baik, tapi mungkin karena kami udah nurunin standarnya.
Gimana shelter kalian ini dibanding punya profesional? Jelas, seratus persen lebih bagus. Lebih bagus.
Kamu nggak khawatir kalau hujan, terus air turun ke sini? Soalnya aku udah mikir yang positifnya aja.
Harusnya ini gampang buat mereka. Kalo itu sih nggak tahu, Jimmy! Jimmy!
Gimana sama pengalaman kalian kalo dibanding sama profesional?
Kayaknya mereka udah banyak yang pulang ya. Kalau mereka ahli semua, mereka pasti pada ribut soal cara masing-masing. Soalnya ngerasa cara mereka paling bener.
Dan dia emang nggak salah.
Hari ini kita nggak boleh makan. Ini nggak bakal cukup buat 50 orang. Ini keputusan bersama. Soalnya… Kalau mau bertahan sampai akhir, kita harus bisa buat bertindak lebih disiplin. Ini bukan soal nyaman. Tapi bertahan.
Dan eliminasi terus terjadi di kedua tim.
Aku bakal makan buat kalian semua.
Buat mencegah eliminasi, pagi berikutnya chef Tim Merah Brittany turun tangan buat bikin sarapan.
Ayo ambil! Nggak… Maaf, guys.
Dan review makanannya…
Sampah. Nggak bagus. Sekarang perutku malah sakit dan aku nggak mau makan lagi.
Aku mau pulang!
Bener banget, Sis.
Tolong.
Setelah berhari-hari tegang, Tim Biru memulai paginya dengan santai.
Tapi bahkan keceriaan itu nggak bisa menghentikan konflik.
Aku paham, tapi kalau kita bisa bersihin dulu sebelum masak…
Oke, tunggu. Sebentar ya. Oke, tolong, tolong berhenti dulu sebentar.
Aku cari angin sebentar.
Kamu harus dengar dulu. Tunggu…
Jangan pernah sok ngajarin aku.
Aku orangnya emang susah buat kerja tim. Emang dari dulu aku suka ngebantah.
Dan sekali lagi, itu bikin lebih banyak eliminasi.
Biarkan mereka makan apel!
Hatiku nggak di sini. Aku selesai.
Dan juga di Tim Merah,
Buah kami habis. Jadi kami udah nggak sarapan lagi.
Dan kehilangan sarapan terlalu berat buat dua anggota Tim Merah lainnya.
Nggak. Jangan, jangan, jangan. Nggak, nggak, nggak. Nggaaak.
Aku kangen milkshake. Aku pengen banget milkshake.
Dan kayak mereka yang nggak tahu siapa yang tersisa di tim lawan, sebelum video ini selesai, kamu juga nggak tahu.
HARI 6
HARI 7
Yang bakal kami lakuin bakal mengubah video ini secara drastis.
Wah, tuh dia. Kenapa? Kamu lihat apa? Itu Jimmy? Syukur deh.
Pas aku pencet klakson, lempar tasnya.
Dia ngebut banget. Aku takut.
Ada paket! Ada paket spesial nih! Ya ampun! Ayo, ayo, ayo, ayo. Apa? Gokil!
Sekarang, kita kasih ke profesional.
Kayaknya itu topi Jimmy. Iya, bener. Mereka bawa karung makanan.
Hai, semuanya. Hai!
Kita bakal lihat apa mereka bisa kerja sama, atau malah bikin mereka makin terpecah.
Tulisannya apa? Oke.
Kedua tim punya 50 kaleng makanan. Tim mana pun yang balikin kaleng paling banyak yang belum dibuka dalam 72 jam dapat hadiah. Kalau kedua tim seri, nggak ada yang dapat apa-apa. Nggak ada yang menang.
Kita makan aja semuanya! Iya!
Denger dulu, mereka bakal mikir kita buka makanannya karena kita lapar. Mereka kira kita kelaparan.
Kalo gitu kita kubur aja semua. Iya, kubur aja semuanya.
Kita harus disiplin. Jangan sentuh makanannya. Jangan ada yang ambil diem-diem.
Gini aja. Kita nggak sentuh itu soalnya masih cukup jatah buat 72 jam ke depan.
Satu aja nggak boleh? Nggak boleh.
Kami umpetin kalengnya itu di hutan supaya yang punya akses cuma sedikit.
Aku bener-bener stres soal makanan sama mancing begini. Kayaknya kami harus lebih sabar. Apa menurutku bakal ada yang pergi habis ini?
Gara-gara mereka nggak boleh ngebuka sebagian kaleng ini? Udah pasti.
Matahari udah terbit. Hari kedelapan. Hari ini agak mendung. Lihat nih. Akhirnya nggak bakal kepanasan.
Jadi, kita nemu panggangan lama ini di hutan. Yang sekarang bikin semangat tetap tinggi. Luar biasa sih gimana sedikit makanan dan perubahan cuaca bisa ngaruh ke mental.
Tapi sayangnya keadaan Tim Biru nggak sebaik itu. Racun tanamannya udah mulai menyebar.
Aku laper banget. Hari kedelapan dan belum ada yang kena jebakan. Aku laper banget sampai mau makan pasta gigi. Makanan kaleng itu pasti enak banget deh.
Jujur aja nih, aku bakal makan daging kalengan. Fakta kami punya 50 kaleng di sana isi daging, kacang polong, jagung… Bikin bete.
Pas lagi nyari udang, aku lihat ke kiri. Awalnya, aku kira itu ranting, tapi mulai keliatan bergerak, aku balik badan terus lihat… Hei! Ular!
Tapi di ujung hari, angin buat kedua tim mulai berubah.
Cuacanya berubah. Kayaknya ada badai besar dateng. Bahkan bisa aja jadi tornado.
Kita harus pergi, guys. Harus ke shelterku. Kita bakal kena… Iya.
Ini jelas mau badai. Ini serem banget. Suhunya turun sekitar 15 derajat dalam 10 menit. Wah, anjrit.
Anginnya mendadak kenceng. Shelter kami sampe kayak mau roboh. Aku punya jas huj… itu petir ya?
Hujannya datang. Hujan akhirnya turun. Semua kontestan menuju shelter mereka.
Badai ini kenceng banget. Berarti ini waktunya tidur. Kalau aku tebak, hujan ini bakalan jadi titik menyerah buat banyak orang.
Sekarang badainya parah banget. Kami lagi ngumpul di shelter. Nggak mungkin Tim Merah bisa ngadepin ini sekuat tim kami. Ini bikin tantangannya jadi makin menarik.
Kami harus evakuasi ke pesawat. Soalnya tendaku hancur. Ini bener-bener gila.
Lagi mikir mau ke pesawat, tapi kayaknya semua orang juga di sana.
Tenda kami roboh. Aku cuma pengen pulang.
Semoga aja 250 ribu dolar cukup buat bikin mereka bertahan.
Nyebelin. Aku mulai nggak kuat.
Aku selalu inget-inget, kalo lagi berat, aku bilang, “Aku ini lagi di videonya MrBeast buat dapetin uang banyak. Aku harus bertahan.”
Oke. Aku nggak denger suara hujan lagi. Suhunya sekarang turun parah abis. Dingin banget. Waktunya keluar, buat liat kondisi yang lain.
Jadi semalam itu, malam kami di sini yang paling dingin. Bisa keliatan dari embun beku di daun, kotak uangnya, pohon… beku banget. Dingin banget semalam.
Keluarin aku dari sini. Pernah nggak lihat kursi pesawat beku di luar? Itu gila kan?
Aku sengsara. Aku lapar. Aku nggak yakin bisa lewatin malam kayak gitu lagi. Tapi kabar baiknya, kalau kami kedinginan, berarti Tim Merah pasti juga kedinginan.
Di sini sempet kebanjiran banget. Itu api unggun kami. Kemarin kan panas banget. Ini kenapa sih?
Hujan bikin tantangan ini bener-bener jauh lebih menyiksa…
Aku bebas! …bikin enam orang dari Tim Merah…
MrBeast, kami nggak akan pernah kemping lagi.
…dan dua dari Tim Biru…
Kalian harus menang.
…harus pulang.
Semoga aja badai itu cukup buat ngalihin mereka supaya nggak ngebuka makanan kalengnya.
Ini hari hadiah, semoga aja kami bisa menangin 50 kaleng itu. Harus sabar buat nunggu nanti malam supaya tau apa kami menang tantangannya. Kami semua pengen banget makan makanan itu.
Hari ini rencananya apa, guys? Aku bikin kerajinan sama beberapa orang.
Kalau kita nggak menang, hari ini bakal jadi buruk buat Tim Merah.
Karung aman.
Halo semuanya. Wah! Kalian tinggal sedikit ya! Boleh aku ambil yang belum dibuka? Sesuai janji.
Oke. Makasih kalengnya. Ini walkie-talkie. Aku kabarin hasilnya habis ambil kaleng mereka.
Oke, sekarang ayo kita cek para profesional! Ayo. Ayo.
Kalengnya masih dikubur ya? Oh iya!
Oke. Patrick, kamu bisa bantu aku bawa ini? Kamu kuat banget. Ya. Oke. Nih, pegang.
Tim Biru, ada yang mau kalian bilang nggak ke Tim Merah?
Oke. Berapa kaleng yang kalian makan?
Kepo banget ya? Ya, gitu deh. Kayaknya mereka punya rencana nih.
Ya makanya aku nanya, Tim Biru. Kamu kayaknya jengkel dan kelaperan ya.
Tim Merah dan Tim Biru. Hasil dari tantangan 50 kaleng udah ada. Di depanku ada dua karung. Sekarang kita mulai dengan menghitung hasilnya dari Tim Biru. Tim Biru balikin ke aku…
Aku laper banget. Makanan kaleng itu pasti enak banget deh. Fakta kami punya 50 kaleng di sana… Bikin bete.
50 kaleng makanan. Jatoh dua. Tetap 50.
Dan Tim Merah, para amatir… juga balikin 50 kaleng. Artinya nggak ada tim yang akan dapat hadiah.
Nggak! Nggak nyangka!
Flare. Flare. Flare. Serius, flare.
Tim Biru kelihatan oke. Tim Merah kelihatan marah banget sama hasilnya. Ya ampun. Tunggu. Aku baru aja ngasih hasilnya, tapi tiga orang langsung keluar.
Seru sih.
Wah mereka kacau nih. Aku harus ke sana. Ini ada apaan sih? Tunggu, kamu mau nyalain flare?
Naluri sebagai ibu nyuruh aku pulang.
Wah! Lima orang. Kamu jadi nggak dapat makanan dari sini. Kamu nyesel nggak makan makanan kaleng?
Iya. Itu nyakitin banget.
Semangat Tim Biru langsung turun banget. Kayaknya nanti malam bakal ada flare.
Aku sayang sama kalian semua, tapi aku udah siap pulang.
Keadaannya jadi suram banget.
Semangat dari Tim Biru pagi ini berat banget. Kita kehilangan tiga orang. Kurang tidurnya parah banget. Laparnya juga. Kami lagi kesulitan soal makanan. Aku kelaperan terus.
Waktu Seth coba nyemangatin temen-temennya, nggak semua orang mood-nya lagi bagus.
Jujur aja, guys, mendingan kalian tendang aku daripada denger itu. Kami bisa di sini berminggu-minggu. Aku punya istri dan anak yang nungguin aku.
Patrick dan Malik sekarang lagi pelukan erat banget, semoga bukan lagi ngomongin soal mau pergi.
Aku bakal kangen kalian. Bro.
Hai semuanya, hari ini aku pergi ya.
Kamu sadar kontribusi kamu ke tim ini?
Sadar. Aku ngajarin semua caranya bikin shelter yang bisa tahan cuaca. Aku udah berusaha keras bantuin semua orang. Aku yakin Tim Biru bakal menang.
Aku kehabisan waktu buat ninggalin bisnisku. Pergi itu nggak enak. Tapi bisnisku harus jadi prioritas.
Kami sayang kamu, Seth. Sayang kamu, Seth. Jagoannya! Bro, kamu itu survivalist sejati.
Seth baru nyalain flare. Dia udah ngajarin banyak hal. Banyak banget yang gak mau ngaku soal itu, tapi kenyataannya begitu. Dan banyak juga yang harus pergi. Tapi susah juga soalnya kita nggak tahu situasi dari tim lain.
Aku bisa lihat berat badanku turun tiap hari, dan nggak boleh turun banyak lagi sebelum tubuhku mulai kepayahan.
Kami nggak bisa cuma ngandelin nasi yang ada, jadi kami nyoba peruntungan kami.
Tubuhku udah mulai banyak terasa sakit, pinggulku sakit. Aku sakit.
Kamu siap pulang? Aku siap pulang. Selamat jalan, Mymona. Selalu kami kenang. Dia bukan mati. Aku pengen ambil jatah kacangnya.
Makin banyak yang keluar itu bagus sih, soalnya, cuan cuan. Setiap ada yang keluar… Hadiah makin besar.
Dengan lebih sedikit orang, Tim Merah harus mengambil lebih banyak tanggung jawab.
Grup kami punya sesuatu yang mau dibuktiin. Kayaknya kami bakal bangkit.
Sejak chef Brittany pergi, aku harus gantiin tugas. Cewek-cewek potong daun bawang sama wortel, dan hasilnya lumayan bagus. Kami bisa kok. Kami bisa.
Aku udah buktiin kalau aku bisa ngelakuin jauh lebih banyak dari yang bahkan aku kira bisa.
Karena ini ultahku, aku bakal beliin random subscriber apa pun yang mereka mau. Bisa mobil, liburan impian, atau bayarin sewa rumah. Kamu cuma perlu klik subscribe dan komen mau apa, nanti aku pilih pemenangnya dalam 30 hari. Semoga beruntung!
Kami kedatangan badai besar, dan banyak orang bisa aja pergi malam ini.
Ini Airbn-beast. Iya, ini pintu masuknya. Nahan angin.
Hujannya mulai makin deras. Menurut kamu ini tahan hujan nggak? Menurutku sih tahan air sedikit.
Air mulai masuk, jadi aku lagi memperkuat pintu, dan aku butuh semua daun holly ini buat nutup celah-celahnya.
Tapi setelah aku pergi, hujan deras turun berjam-jam tanpa henti.
Kami kehujanan terus-terusan sekitar lima jam. Sepatu semua orang basah, kaus kaki basah, baju basah. Tempat kami buat tidur juga basah.
Ada air dalam pondokku. Kelihatannya nggak kedap air. Aku pindah buat berdiri di bawah terpal.
Satu-satunya yang muat di bawah terpal cuma kacang dan nasi. Jadi kamu ngelarang orang buat berteduh di sini sekarang. Ini satu-satunya tempat berlindung kita. Yaudah, gapapa.
Mereka ambil satu-satunya terpal yang ada. Dan sekarang ngelarang siapa pun pakai itu. Satu-satunya terpal yang kita punya. Aku bahkan nggak boleh berdiri di bawahnya? Itu nggak bener.
Terpal itu emang ditaruh di sana supaya kita bisa… Sebagai shelter kita bersama. Nggak, supaya jaga kacang dan nasi tetap kering. Tapi itu kan shelter bersama.
Oke, dengerin aku. Mereka lagi coba beresin semuanya supaya bisa masukin orang ke sana. Itu yang mereka lakuin di dalam. Tapi itu tuh shelter bersama.
Kayaknya kami semua udah di batas kesabaran. Kamp kami bener-bener basah kuyup. Ini harus berakhir. Aku cuma berharap Tim Merah juga ngalamin hal yang sama.
Tadi aku isi ulang air. Sekarang aku mau duduk di tenda, baca, dan tidur. Hari-hari kayak gini tuh paling gampang. Ini cuma selingan buat kami.
Dan sementara Tim Merah santai nunggu hujan reda, tantangan hari ke-14-ku mungkin bakal nentuin yang paling unggul selanjutnya.
Semua kumpul. Kumpul di sekitar kotak-kotak. Tim Biru, apa kabar? Iya! Oke.
Satu set kotak yang sama persis udah ditempatin di depan kedua tim. Kita bakal buka satu per satu, memperlihatkan item survival penting. Kalau kedua tim nolak, baru item berikutnya dibuka. Dan tim yang pertama tekan tombol, bakal dapet item itu. Kalau kalian mutusin buat ambil kotak itu, mereka nggak dapet apa-apa. Kalian mengerti? Iya.
Majd, Tareq, buka kotak pertama! Kotak nomor satu. Peralatan memancing.
Nggak ada ikan di sungai itu. Kita nggak bisa mancing. Nggak guna banget. Kita lewatin ini? Lewat total.
Ada yang mau pencet tombol nggak? Aku siap ngejegal siapa aja yang pencet tombol. Kalian yakin? Iya.
Kalian nolak kotak pertama. Tareq, buka kotak kedua. Panci dan wajan besi cor.
Masak pakai besi cor. Chef, menurut kamu? Kayaknya kita udah punya semua, kan? Mungkin ambil aja supaya mereka gak punya.
Ingat, kalau tim lain yang ambil, kalian nggak dapet apa-apa. Dan kalau dua tim nolak semua kotak, maka kedua tim dapet semuanya.
Kita bisa dapet semuanya. Jangan pencet. Kita bisa dapet lima kotak. Tapi mereka dapet juga dong. Oke, iya atau nggak? Nggak. Nggak?
Mereka lewatin kotak kedua. Itu bodoh. Kita nggak butuh apa-apa lagi.
Buka kotak ketiga. Feastables peanut butter cups. Wah banyak banget Feastables-nya! Liat tuh!
Ini kejam. Ini kejam banget. Peanut butter cups, nggak. Peanut butter. Cokelat susu. Mulutku udah ngiler sekarang.
Tim lain mungkin bakal pencet. Mereka mungkin bakal pencet, guys. Jangan lakuin, Carlos. Turunin tanganmu. Tolong pencet. Aku bilang nggak.
Tiga. Dua. Satu. Hilang. Tutup kotaknya. Hilang. Itu susah sih. Itu susah banget.
Buka kotak keempat. Bahan bangunan. Nggak. Nggak. Nggak. Nggak. Kalian bisa bangun shelter lagi. Kami udah bikin kok. Itu lewat banget.
Sejauh ini, kedua tim udah nolak semua kotak. Aku bakal mikir keras buat yang berikutnya.
Kalau nggak ada yang pencet tombol di kedua sisi, kalian dapet semuanya. Tapi kalau mereka pencet tombol di kotak terakhir ini, kalian nggak dapet apa-apa.
Kayaknya mereka gak bakal pencet tombol. Kayaknya pencet deh. Menurutmu mencet? Iya. Kenapa begitu?
Kalau nggak ada yang pencet, kami jadi imbang lagi. Iya bener. Ngapain mereka bantu tim yang punya lebih sedikit, buat dapet semuanya? Jadi menurutku strateginya, kamu nggak mau kasih mereka sesuatu yang mereka butuhin.
Pertanyaan. Ada kemungkinan kamu pencet? Nggak. Kita harus liat dulu isi kotaknya. Tapi nanti kan kita bakal tetep dapet juga.
Mereka nggak mau kita ambil. Jadi mereka bakal pencet tombol terakhir. Itu menurutku. Mereka bakal pencet karena nggak mau kita ambil.
Nggak masalah, kita juga nggak butuh apa-apa. Ini mungkin lebih menguntungkan buat mereka menang. Makanya kita harus pencet buat kotak berikutnya.
Majd, Tareq, buka kotak terakhir. Steak, Jack Link’s, dan bumbu buat seluruh tim kalian.
Ya Tuhan. Aku pencet tombolnya ya. Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu. Tunggu, tunggu.
Jangan! Jangan! Jangan! Jangan! Kalian nggak mencet nih?
Apa… Dia… Nggak! Kamu pencet? Dia langsung pencet tombolnya. Tim Biru mencet tombol. Apa? Tim Biru langsung pencet tombolnya. Tunggu, apa? Kalian ngapain? Tim Biru pencet tombol, dan kalian nggak dapet apa-apa.
Nggak ada yang berani mencet tombolnya? Soalnya semua malah sibuk debat. Kalian bilang jangan. Jangan dipencet dulu! Aku nggak mau di sini lagi.
Meski keputusan cepat Patrick kasih keuntungan ke Tim Biru, sikap yang nggak peduli pendapat orang lain langsung bikin perpecahan.
Kamu bener-bener nggak dengerin, ya? Aku vegetarian! Bodo amat.
Antara kecewa karena kalah tantangan… Kalah itu nyebelin banget. Kami nggak pencet tombol. Atau cuma karena nggak didengerin. Kamu bakal kehilangan lebih banyak orang. Ya udah, pergi sana!
Baik Tim Merah maupun Biru kehilangan beberapa anggota. Tapi buat Tim Biru yang tersisa, ini pertama kalinya mereka dapet pasokan yang lebih dari lawannya. Dan untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua minggu, Tim Biru bisa ngerasain surga sedikit.
Siapa yang mau masak steaknya sekarang? Steaknya kelihatan enak banget. Lebih enak dari Hari Natal! Lebih enak dari Thanksgiving. Enak!
Aku punya energi soalnya makan protein. Semuanya mulai berjalan sesuai kebutuhan.
Tapi keadaan nggak indah di dalam Tim Merah.
Aku pengen panci itu! Panci bakal berguna sih. Aku bilang, Isaiah, tolong percaya aku. Sekarang makanan kita ada kotoran hitamnya soalnya mereka nggak mau pencet tombol buat panci itu. Aku udah muak. Aku kesel banget.
Tapi setelah dagingnya habis, Tim Biru punya masalah yang baru.
Ini soal uang! Aku bukan yang gampang bergaul… Kami mau uangnya lebih banyak! Tapi karena banyak yang udah pergi, uangnya jadi banyak.
Dan karena makin banyak orang yang pergi, bagian mereka dari 250 ribu dolar, kalau mereka menang, semakin besar.
Kamu nggak tau jumlah pastinya karena nggak tau berapa sisa orangnya. Tapi percaya deh, uangnya udah mulai terasa banyak banget. Ribuan dolar.
Jadi Trinh bikin rencana buat nambah bagian uangnya.
Kita bakal keluar dari sini nggak sih? Trinhy udah mulai bikin aku kesal. Aku ada di video MrBeast!
Menurutku bagian survivalnya udah bukan yang paling susah lagi.
Kamu egois karena ngambil terpal! Aku nggak ambil, apa Sonny ngambil? Gimana kalau kita ambil terpalnya buat bikin shelter yang bisa dipakai semua orang… Jadi kamu mau bongkar shelter yang kami tempatin yang udah dibangun orang lain? Kamu tuh gila banget ya. Aku tuh nggak percaya kamu bisa bilang kalau aku yang egois. Kamu terus aja motong omonganku.
Karierku emang soal energi positif, vibes bagus, aku nggak percaya hari buruk. Kalau liat tim lagi down aku bikin mereka ketawa, aku salto. Aku ngerasa udah berusaha buat menang.
Maaf, guys.
Kayaknya ada yang nyalain flare, soalnya ada teriakan terus tepuk tangan. Kayak teriak terus tepuk tangan. Pasti abis nyalain flare. Tim mereka mungkin mulai pecah, apalagi setelah dapet steak, terus sekarang habis… Kita pasti bisa menang.
HARI 16
Aku pengen ubi manis. Kamu tadi makan siang, yang lain nggak. Aku bakal makan kalau lapar. Aku nggak perlu patuh ke kamu. Aku nggak patuh ke siapa-siapa.
Dia tuh paling nggak bisa kerja tim. Sikap toksik yang kayak tadi, makasih ya, emang itu yang aku butuh dan sekarang aku bisa pergi.
Aku nggak suka dia.
Tapi Tim Merah bener-bener saling suka.
Kalau kami bisa kerja sama, kami masih bisa menang! Kami bisa ngalahin Tim Biru! Semoga. Makasih. Sama-sama.
Ya Tuhan. Nggak! Aku pengen nangis.
Kamu harus kerja sebagai tim dan nggak egois. Semua orang masih mau berjuang. Kami masih di sini buat menang, jadi… Kami tim yang kuat banget.
Tapi mungkin Tim Biru nggak ngerasa hal yang sama.
Kalau kita mulai pecah satu per satu, kayak kehilangan Patrick, ya udah deh. Dan kita semua sepakat dia boleh ambil nasi. Aku nggak denger obrolan itu. Kita jelas-jelas ngobrolin itu kemarin soal nasi. Aku nggak denger atau ikut-ikutan.
Aku cuma mau pulang dengan kemenangan, tapi aku ngerasa bakal pulang dengan rasa kecewa. Ini nyebelin banget dan aku nggak mau jadi kecewa. Maaf banget, Joel.
Aku seneng banget mereka pergi.
Kamu denger barusan? Aku denger kayaknya Tim Biru bersorak. Iya. Kedengerannya jumlah mereka cuma sedikit. Yang aku denger juga begitu. Kayaknya flare dua orang ya?
Kami terjebak di sini selamanya. Mungkin nggak, kami punya flare, tapi kalau dipakai, kami kalah, aku nggak mau kalah. Kami bakal menang. Aku nggak tau gimana. Aku nggak tau kapan, tapi kami bakal menang.
Semakin sedikit orang, peluang kami menang bakal makin kecil. Makin susah buat bertahan. Aku sempat mikir kalau ini semakin gampang. Taunya nggak.
Sementara Tim Biru mulai pecah, Tim Merah justru semakin solid. Mereka nggak cuma bertahan, mereka berkembang.
Waktunya buat santai, guys. Mau main di sungai sebentar. Kadang harus cari hal baik dari hal buruk.
Kamu fake banget. Kamu fake banget, asli. Kamu nyebelin banget, parah banget kayak… Aku boleh ngomong nggak? Kamu tuh nggak kontribusi apa-apa selain masak makanan yang rasanya nggak enak. Asli! Itu tuh sampah, jujur aja. Dan maaf, aku harus bilang itu.
Kamu nggak apa-apa kan? Nggak. Nggak bisa. Mau jalan-jalan sebentar? Iya. Mereka tuh emang pembully.
Dia dapet apaan? Lumayan gede tuh! Bagus! Oh, maaf.
Kami bersihin sebagai tim, dan sekarang lagi dimasak.
Mereka bener-bener pembully. Mereka cewek jahat. Aku mau pergi hari ini. Aku emang nggak menang tantangannya MrBeast, tapi aku udah berusaha. Nggak masalah, kamu bertahan lama banget.
Ada yang mau garpu? Ini enak banget. Rasanya enak! Serius? Iya.
Kalau sesuatu emang cocok, kamu bakal tenang. Dan aku udah nggak ngerasa tenang di sini.
Keluarin aku dari sini!
Cuma karena kamu punya kemampuan buat bertahan hidup sendirian di alam liar, bukan berarti kamu bisa bertahan sebagai tim.
Bukan berarti kamu bisa bertahan sebagai tim.
Kita pasti bisa, woo!
Kami udah lima hari berturut-turut tanpa make flare.
Amelia pergi, dan aku rasa Trin itu egois banget. Kalau kami kalah karena Tim Merah unggul satu orang dan kamu malah seneng di sini. Artinya kamu juga bakal kehilangan uang.
Sekarang orangnya jauh lebih sedikit. Tadinya ada 50 orang survivalis. Semoga besok itu hari tantangan atau hari evakuasi. Tapi kami butuh sesuatu.
Tiga minggu di hutan, kita lihat mereka gimana.
Oh, Tim Merah! Apa kabar nih? Halo semuanya! Kalian mau tantangan?
Iya!
Para amatir, jadi kenapa aku bawa ini?
Itu tempat evakuasinya?
Ini adalah peta kamp Tim Merah. Dan ini ada pistol flare. Kalian tandain di mana kalian mau umpetin pistol flare ini di kamp mereka.
Tim mana aja yang nemuin pistol flare duluan, bakal nentuin kapan video ini berakhir dengan nembakin itu. Kalian bisa kelarin hari ini. Bisa juga lima hari lagi. Sepuluh hari, kapan aja kalian mau. Dan tim satunya nggak punya kontrol sama sekali.
Oh, aku merinding.
Kalo nembakin flare-nya di dekat sini, kalian kalah. Jadi, harus ingat itu ya.
Gimana kalau mereka simpan dua minggu?
Berarti mereka sinting dan udah gila.
Mereka bakal muterin batas area. Jadi kita bawa ke sini. Bikin mereka berusaha keras, biar mereka ngebakar kalori.
Iya. Jadi taro di tempat yang jauh.
Ya Tuhan. X tandain tempatnya. Iya, bagus? Ini terjadi. Ini dia.
Ini tempat yang mereka tandai di peta. Flare mereka sekarang di sini. Kita lihat siapa yang nemuin duluan.
Tim pertama yang nemuin flare bakal nentuin kapan video ini berakhir. Kalian siap?
Iya!
Tiga! Dua! Satu! Lepas penutup matanya! Semoga berhasil!
Saatnya mulai! Saatnya mulai! Cari! Ya Tuhan!
Oke, apa rencana para amatir? Apa rencananya?
Aku nggak bisa lihat!
Hei, apa rencananya?
Kami membagi area.
Jadi kalian udah bahas bakal pisah-pisah ke mana?
Aku mau ke hutan yang paling belakang.
Hei, guys. Guys, tunggu! Oke. Kita ke mana? Tunggu sebelum kita nyebar!
Tunggu, kalian nggak bikin rencana pas lagi tutup mata?
Ini kacau sih. Tunggu! Tim Merah kacau nih.
Mereka punya rencana. Mereka bertekad buat jadi yang nemuin flare ini.
Aku ke sudut paling jauh. Kamu ke arah dermaga, aku ke arah lain. Cari flare-nya!
Aku mau ambil airku di sini.
Gimana kalau Tim Biru nemuin pas kamu ambil air?
Santai aja, gapapa. Pasti Tim Biru belum nemuin apa-apa.
Sekarang aku sebenarnya dekat banget sama batas. Aku di bawah batas. Oke. Aku lagi cari flare di sini. Aku bakal nemuin. Aku bakal nemuin.
Aduh. Kita jauh di dalam hutan! Oke, dia ketemu temannya.
Nggak ada yang masuk ke sudut belakang itu. Mereka ke kanan. Jadi kalau kamu ke sana, aku ke arah ini.
Aku bakal menuju ke dermaga. Kamu bisa lihat sekeliling sini. Sekarang tinggal nyari. Aku bisa liat dalamnya. Aku pengen banget nemuin flare ini.
Kami semua fokus banget buat nemuin pistol flare ini.
Nggak ada kameramen yang ikut aku, jadi mungkin tandanya aku di area yang salah. Tapi semoga kita nemuin duluan.
Aku bisa lihat seluruh wilayah di bawah sana, dan nggak ada. Di sini juga nggak ada.
Kamu lihat sesuatu?
Nggak. Nggak ada.
Aku juga nggak! Coba cari lagi.
Oh, kayaknya aku lihat!
Jangan bohongin aku.
Aku bercanda. Aduh.
Kayaknya aku udah cari hampir semua. Tau deh. Harusnya keliatan.
Tunggu, apaan tuh?
Ada yang nemuin. Kalian nemu nggak? Klaksonnya udah bunyi.
Tim kami mungkin nemu. Semoga itu kami yang nemuin.
Para peserta ini udah habisin 20 hari di hutan kehilangan anggota tim…
Keluarin aku dari sini.
Pergi itu nggak enak.
Aliansi saling mendorong sampai batas…
Itu petir ya? Hujan datang!
Untuk momen ini, di sini!
Ketemu! Ketemu! Berhasil! Berhasil! Berhasil! Berhasil! Berhasil! Berhasil! Ini Taylor! Berhasil! Berhasil! Berhasil! Berhasil!
Mereka berhasil nemuin duluan. Menurut kalian berapa sisa para amatirnya?
Sembilan! Delapan!
Aku harap mereka mikir, “Oh, kami udah pasti menang.” Aku harap mereka langsung nembak flare dan orang kita lebih banyak.
Apa ada kemungkinan lebih banyak dari kalian?
Mungkin, tapi kami nggak yakin.
Gimana kalau nunggu aja sampai besok?
Nggak, kami udah nunggu 20 hari! Iya. Tembakin! Tembakin!
Setelah 20 hari, semuanya ditentuin sekarang. Tim dengan jumlah orang terbanyak bakal menang uang itu. Tiga! Dua! Satu! Lepas penutup matanya!
Ya, betul. Tim Biru tersisa 11 orang, tapi Tim Merah cuma 9 orang. Tim Biru, kalian baru menang 250 ribu dolar!
Ya ampun, mereka heboh banget!
Ini emosional, tapi mau gimana lagi? Mereka ahli survival, dan aku bangga kami bisa sejauh ini.
Kami bakal kasih kalian empat ribu dolar karena udah bertahan di sini. Mereka nggak pulang dengan tangan kosong.
Masing-masing bawa pulang 22 ribu dolar!
Mau punya skill atau banyak persediaan, menurutku yang paling penting akhirnya… adalah kerja sama!
Makasih guys udah nonton.
Artikel diterbitkan
