Eksperimen Eliminasi per Menit: 20 Mantan Peserta Beast Games Berebut $500.000

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Video ini dibawakan oleh MrBeast (dipanggil "Jimmy" oleh para peserta). Dua puluh kontestan berdiri di atas platform yang bisa menjatuhkan mereka. Setiap menit, satu orang tereliminasi dan kehilangan peluang memenangkan setengah juta dolar. Semua peserta pernah berkompetisi dan tersingkir di serial Beast Games di Prime Video. Pertanyaan yang terus berulang sepanjang video: di bawah tekanan waktu, apakah para peserta akan bekerja sama, saling menjatuhkan, atau justru berkorban untuk orang lain? Menurut sang pembawa acara, video ini terdiri dari tujuh "eksperimen sosial" yang menegangkan, dan waktu adalah musuh utama para peserta.

16 menit baca
0:22

Menit Pertama: Kebingungan dan Eliminasi Acak

Para peserta tidak diberi penjelasan apa pun. Satu-satunya informasi ada di tablet masing-masing, yang hanya berbunyi "pilih seseorang". Mereka langsung kebingungan. Ada yang bertanya apakah mereka memilih orang untuk bertahan atau untuk pergi, ada yang bertanya apakah mereka cukup berdiri saja. Nomor semua peserta muncul di layar, dan hitungan mundur 10 detik berjalan tanpa keputusan apa pun.

Saat waktu habis, sang pembawa acara mengumumkan bahwa setengah peserta tidak memilih siapa pun, sehingga satu orang dieliminasi secara acak. Aturannya baru dijelaskan setelah itu: lebih dari setengah peserta harus sepakat untuk mengeluarkan satu orang. Kalau tidak tercapai, eliminasi dilakukan secara acak. Ia berharap di ronde berikutnya mereka bisa bekerja sama.

1:40

Menargetkan Mereka yang Pernah Menang Uang

Di ronde kedua, karena takut tereliminasi secara acak, semua peserta memilih. Mereka cepat menemukan kriteria bersama: targetkan orang yang sudah pernah memenangkan uang di Beast Games. Nomor 17, 12, dan 2 disebut sebagai sasaran. Seorang peserta berpendapat bahwa orang yang dulu menerima suap pantas dieliminasi, dan peserta lain menyinggung bahwa ada orang yang "belum pernah jatuh".

Nomor 17 mendapat lebih dari setengah suara. Salah satu pemilih berkata mereka hanya ingin dia merasakan bagaimana rasanya jatuh. Berikutnya nomor 12, yang diketahui semua orang menerima suap $100.000 dan disebut "pengkhianat". Nomor 12 memprotes karena terus dibicarakan, tetapi peserta lain menjawab bahwa dia sudah mendapat uang. Menurut sang pembawa acara, peserta terbaik di Beast Games justru menjadi sasaran termudah. Selama beberapa menit berikutnya para peserta bekerja sama mengeliminasi siapa pun yang mereka anggap pantas, sampai enam orang tersingkir.

3:37

Kubus dan Telepon: Strategi yang Berbeda-beda

Permainan kemudian diubah. Kepala para peserta ditutup oleh penjaga, salah seorang peserta berseloroh "penculikan itu ilegal, Jimmy", lalu mereka dibawa ke kubus-kubus dari episode tiga Beast Games. Di setiap kubus ada telepon untuk menghubungi peserta lain secara pribadi. Waktu ini disebut sebagai kesempatan membentuk kelompok, karena setelahnya tiga peserta akan dieliminasi, dan mungkin ini satu-satunya kesempatan bicara secara pribadi.

Nomor 10, Jenny, memutuskan tidak menelepon siapa pun karena menurutnya tidak jujur itu rasanya tidak enak. Ketika ditanya apakah itu strategi yang tepat, ia sendiri menjawab "tidak". Menurut narasi video, keputusan itu justru membuatnya menjadi target pertama. Peserta 14 sibuk meyakinkan semua orang untuk memilih nomor 10. Salah satu peserta yang ditelepon mengaku tidak bermusuhan dengan Jenny, tetapi ikut karena semua orang bilang akan memilihnya.

Peserta 19 memakai strategi yang berbeda. Ia menelepon peserta lain dan membujuk mereka untuk saling memilih. Kepada nomor 8 ia berkata, "Ayo keluarkan nomor 10." Ketika ditanya pembawa acara, ia mengaku itu kerja sama palsu. Rencananya memilih nomor 8 dulu, lalu 10, lalu 9. Ia sengaja membuat semua orang saling bermusuhan, dan alasannya: mereka bukan temannya, jadi ia tidak peduli.

6:26

Balas Dendam atau Keluar Sendiri

Kembali di platform, para peserta memilih dalam diam, dan nomor 10 mendapat suara terbanyak. Ada aturan baru: sebelum dijatuhkan, peserta yang tereliminasi boleh memilih satu orang untuk keluar bersamanya. Sang pembawa acara menawarkannya sebagai balas dendam. Nomor 10 memilih keluar sendiri.

Di ronde berikutnya, tanpa berbicara, semua peserta memilih orang yang sama, yaitu nomor 8. Nomor 8 juga tidak membawa siapa pun. Sang pembawa acara menyebut keputusan itu pantas mendapat sorakan sebelum Chandler menarik tuas.

Dengan 12 peserta tersisa, sang pembawa acara mengingatkan bahwa siapa pun yang dipilih bisa membalas saat keluar. Ia bahkan menyarankan peserta memakai hal itu sebagai ancaman kepada orang di sebelahnya. Ketegangan terasa: seorang peserta mengaku gugup karena orang yang ia pilih kemungkinan akan membawanya keluar, dan peserta lain berkata tidak sanggup memilih. Suara terbanyak jatuh ke nomor 9. Nomor 9 mengatakan sudah tahu sejak awal di kubus siapa yang ingin mengeluarkannya. Sambil berkata ibunya tidak akan bangga dengan ini, dan bahwa "dendam lebih baik dilakukan di akhir", ia menunjuk nomor 3. Keduanya dijatuhkan bersamaan.

Setelah itu, menurut narasi, muncul dua pemimpin: 19 paling menonjol di dalam kubus, sedangkan 14 memimpin saat pemungutan suara. Namun sang pembawa acara menegaskan siapa pun masih bisa menang.

9:49

Permainan Balok: Menara Jatuh dan Kebohongan Lewat Telepon

Tantangan berikutnya diambil dari episode pertama Beast Games. Setiap peserta menyusun balok di atas balok awal berwarna merah dalam waktu satu menit. Siapa pun yang menaranya jatuh langsung tereliminasi. Peserta juga tidak wajib memakai semua balok, bahkan tidak wajib menyusun sama sekali. Tetapi kalau tidak ada menara yang jatuh, peserta dengan balok terbanyak mendapat kuasa memilih siapa yang tereliminasi.

Menurut narasi, peserta yang gagal di tantangan ini saat Beast Games kini berhati-hati agar tidak terlalu bersemangat dan memilih mengandalkan kerja sama. Nomor 1 berbeda. Ia tidak punya kelompok dan semua tetangganya sudah tereliminasi, sehingga peluang terbaiknya adalah menumpuk balok sebanyak mungkin. Di akhir ronde pertama, satu menara jatuh, sehingga tidak ada pemungutan suara. Peserta yang menaranya jatuh menjelaskan bahwa ia merasa terancam: ia ingin tidak bisa dipilih karena semua orang sudah merencanakan untuk memilihnya.

Situasi ini memicu perdebatan. Seorang peserta berkata kepada Stephanie bahwa ia tadi berusaha menyelamatkannya. Nomor 20 membantah dan menyebutnya bohong, karena menurutnya mereka sudah bicara dan banyak yang sepakat nomor 1 yang akan dikeluarkan. Nomor 11 tampak tidak setuju, sementara peserta yang dituduh berkata, "Mungkin aku ditipu." Cerita mereka tidak sama. Setelah itu sang pembawa acara mengungkapkan bahwa nomor 1 sedang hamil. Ia sempat bercanda menyuruh menjatuhkannya, lalu karena situasinya, nomor 1 dibiarkan keluar lewat pintu depan.

Dua Pemimpin Harus Memilih Bersama

Di ronde kedua tidak ada menara yang jatuh. Peserta 19 dan 14 sama-sama menyusun delapan balok, padahal mereka tidak berada dalam kelompok yang sama. Keduanya harus sepakat memilih satu orang untuk dieliminasi. Masalahnya, bisikan di antara mereka bisa terdengar seisi ruangan, dan membicarakan pilihan secara terbuka bisa membuat mereka terancam di ronde berikutnya. Mereka menginginkan komunikasi yang diam-diam dan elegan, misalnya lewat pandangan mata. Salah satu dari mereka mengusulkan agar mereka sepakat bahwa lawan yang kuat perlu dikeluarkan.

Sebelum keputusan diambil, peserta yang menjadi sasaran mencoba membela diri. Ia bersumpah bahwa sebelum tantangan dimulai, ada orang yang berencana mengeliminasi salah satu dari kedua pemimpin itu, lalu menawarkan kerja sama. Tawarannya ditolak dengan "Maaf, bro."

Ronde Terakhir Balok: Rekor Baru dan Pesan yang Tertangkap

Di ronde ketiga, 19 mengubah strategi dan menggunakan lebih banyak balok, karena menurutnya menang membantunya bertahan dan menara tertinggi mungkin strategi yang tepat. Hasilnya, 19 menyusun 10 balok dan memecahkan rekornya sendiri. Nomor 15 menyusun 9 balok, sedangkan 14 juga mencapai 10. Untuk kedua kalinya 14 dan 19 imbang dan harus memilih bersama.

Kali ini pesan mereka tertangkap oleh peserta lain yang bersekutu dengan target mereka. Seseorang bertanya, "Sifu, kamu pilih aku?" Lalu dijawab bahwa itu bukan karena dendam. Seorang peserta mencoba mengalihkan sasaran ke nomor 15 dengan berargumen bahwa 15 jelas ingin menang dan mungkin akan menargetkan mereka di ronde berikutnya. Ketika ditanya siapa yang akan ia keluarkan seandainya menang, peserta itu menjawab nomor 4, karena menurutnya nomor 4 terus mengambil keputusan sepanjang permainan. Nama 13 juga disebut, dengan alasan "peserta yang tidak pernah main", dan 13 membantah bahwa ia ikut bermain. Ada pula yang meminta agar yang terlemah tidak dikeluarkan.

Peserta 14 akhirnya menunjuk nomor 4, lalu keputusan berpindah ke tangan 19. Peserta yang tersingkir menyebut strategi itu kejam dan mengatakan bahwa 19 tidak peduli. Sang pembawa acara mengaku eksperimen ini sangat seru, dengan tujuh peserta tersisa dan hanya satu tumpukan uang besar.

17:19

Tombol Uang: $69.000 Diambil dari Hadiah Utama

Tantangan berikutnya disebut sebagai salah satu yang paling banyak ditonton di Beast Games. Penghitung uang di layar terus naik. Orang pertama yang menekan tombol memenangkan jumlah yang tertera, tetapi langsung tereliminasi. Kalau penghitung habis tanpa ada yang menekan, semua peserta lanjut dan tidak ada yang tereliminasi.

Sebelum dimulai, para peserta membahas batas masing-masing. Seorang peserta yang anaknya baru lahir mengaku akan menekan kalau angkanya mencapai $100.000. Yang lain mengaku tidak akan menekan, tetapi akan menekan di angka $500.000, dan ragu-ragu di angka $400.000. Tepat sebelum mulai, sang pembawa acara menambahkan kejutan: uang yang dimenangkan lewat tombol akan diambil dari hadiah utama.

Penghitung naik cepat: $18.000, $21.000, $25.000, $30.000. Ada yang berteriak bahwa jumlah itu sudah cukup untuk uang muka rumah. Nomor 13 dan 11 terlihat mendekati tombol, sementara peserta lain bergantian berteriak "jangan" dan "lakukan". Pam akhirnya menekan tombol di angka $69.000 dan meminta maaf karena mengambil uang itu dari yang lain, yang menjawab bahwa mereka ikut senang. Pam menjelaskan bahwa ia stres karena peserta di sebelahnya bilang akan menekan, jadi ia merasa harus menekan duluan. Ternyata peserta itu tidak pernah berniat menekan dan hanya berpura-pura. Hadiah utama kini tinggal $431.000.

20:43

Alasan Enam Peserta Tersisa

Dengan enam peserta tersisa, video menampilkan motivasi masing-masing. Seorang peserta datang untuk mendapat pengalaman dan tampil lebih baik dibanding di Beast Games, dan merasa sudah berhasil. Seorang lagi mengaku belum pernah memberi tahu siapa pun bahwa ia hampir meninggal dua tahun lalu. Perjalanannya untuk bangkit kembali panjang, dan ia ingin kembali mengunjungi cucunya sebagai "Nonni". Peserta lain ingin membawa dampak positif dan membantu orang yang membutuhkan, dan ada yang ingin anaknya melihat bahwa ia selalu berusaha membuat perubahan. Salah satu peserta merasa mendapat kesempatan hidup kedua setelah mengalahkan kanker stadium tiga. Ia ingin membuka layanan salon bus keliling untuk penderita kanker, karena menurutnya kadang orang tidak ingin bangun dari tempat tidur, dan membuat mereka tersenyum adalah hal yang sangat berarti.

21:59

Tombol Merah: Tidak Ada yang Mau Berkorban

Sang pembawa acara mengumumkan bahwa dua peserta akan dieliminasi secara acak, kecuali ada yang menekan tombol merah. Peserta yang menekannya akan mengeliminasi diri sendiri, dan sebagai gantinya boleh memilih satu dari lima peserta lain untuk langsung lolos ke permainan terakhir dengan peluang 50:50 memenangkan $431.000. Waktunya 60 detik. Ia juga menyindir bahwa mereka semua sempat bisa mengambil $69.000 dan tidak ada yang melakukannya.

Ada peserta yang berjanji membantu siapa pun yang mengirimnya ke final, dan ada yang dibujuk dengan iming-iming menjadi pahlawan di depan ratusan juta orang. Seorang peserta sempat menggapai tombol dan mengaku kemungkinan akan menekannya, tetapi waktu keburu habis. Ia lalu berkata, "Seharusnya aku tekan." Mesin acak pun dijalankan. Eliminasi pertama memancing permintaan maaf kepada Sifu dari peserta yang menyesal tidak menekan tombol demi dia, disertai pujian bahwa Sifu bekerja sangat keras. Eliminasi acak kedua jatuh pada nomor 7, yang dilepas dengan pelukan dan kata-kata sayang dari peserta lain. Empat finalis tersisa mengaku menjadi dekat dengan cara mereka sendiri.

25:15

Kubus Berborgol: Plank, Cek Palsu, dan Batu-Kertas-Gunting

Keempat finalis diminta menunjuk pasangan masing-masing tanpa diberi tahu alasannya, lalu tiap pasangan dimasukkan ke satu kubus. Di dinding setiap kubus ada borgol, dan siapa pun yang memborgol dirinya sendiri tereliminasi. Yang lain lanjut ke final dengan peluang 50/50. Mereka bebas meminta barang apa pun lewat telepon atau memainkan permainan apa pun untuk menentukan siapa yang lanjut.

Di satu kubus, kedua peserta sama-sama memahami beratnya taruhan. Satu orang berkata harus membawa pulang uang itu untuk anaknya dan tidak peduli memenangkan permainan, hanya peduli membawa pulang yang ia butuhkan. Yang lain bercerita tentang kehilangan rambut dan alis saat kemoterapi, sehingga ia sangat ingin membantu orang. Di kubus lain, keduanya sempat kesulitan memahami satu sama lain. Ajakan adu plank disangka papan kayu, dan peserta itu mengaku belum pernah melakukannya. Mereka akhirnya sepakat adu menahan beban sampai salah satu menyerah. Mereka meminta dua set barbel 2,2 kg, lalu meminta beban yang lebih berat agar lebih cepat, sehingga beban digandakan. Pam tidak sanggup mengangkat dan berkata kepada lawannya, "Kamu lolos."

Sang pembawa acara mengaku tidak menyangka strategi kubus yang satu lagi. Mereka mencoba meminta uang: $500.000, lalu $400.000, $300.000, $200.000, cek $500.000, sampai imunitas. Dijawab bahwa uang bisa diberikan tetapi tidak boleh dibawa keluar dari kubus. Seorang peserta sempat berkata tidak mau main permainan dan bertanya apakah bisa bertukar pasangan. Akhirnya mereka bermain batu-kertas-gunting (Rochambeau) berulang kali sampai satu orang tereliminasi. Final mempertemukan nomor 11 dan nomor 19.

31:07

Final: Siapa yang Melepas Tangan Lebih Dulu

Di platform terakhir, kedua finalis ditanya rencana penggunaan uangnya. Nomor 19, penyintas kanker, ingin membeli salon bus keliling untuk membantu pasien kanker, mendatangi rumah sakit, dan berkeliling dunia. Nomor 11 mengaku tidak punya rencana sehebat itu. Ia ingin membangun bisnis anggurnya sendiri.

Aturannya, keduanya menekan dan menahan tombol dengan satu tangan selama satu menit. Kalau salah satu melepas tangan, yang lain memenangkan $431.000. Kalau tidak ada yang melepas sampai waktu habis, uang itu jatuh ke jurang dan keduanya pulang dengan tangan kosong.

Begitu waktu berjalan, 19 berjanji akan berinvestasi di bisnis 11 dan bersedia membagi uangnya sebanyak yang 11 mau. Sang pembawa acara mengingatkan bahwa 19 bisa saja berbohong. Nomor 19 menegaskan bahwa yang ia inginkan hanya salon bus kelilingnya, dan bahwa ia sudah jujur kepada 11 sejak hari pertama. Saat tersisa sekitar 13 detik, setelah 19 berulang kali bersumpah akan membantu dan menyinggung bahwa dirinya selamat dari kanker, nomor 11 melepas tangannya. Nomor 19 menang.

Sang pembawa acara menyebut tindakan 11 mungkin hal paling baik yang pernah dilakukan di video mereka. Menurutnya, dari ribuan orang yang pernah berkompetisi, belum pernah ada yang melakukan hal seperti itu. Nomor 11 menjelaskan bahwa ia sudah memenangkan permainan lain, dan memberikan uang ini terasa seperti menang juga. Ia ingin 19 mendapatkan uangnya karena 19 selamat dari kanker dan akan membantu pasien kanker. Nomor 19 berulang kali berjanji akan membantu 11. Video berakhir dengan 11 dijatuhkan dan 19 diminta mengambil uangnya. Apakah janji investasi itu ditepati tidak ditunjukkan dalam video.