Tujuh Hari di Ruang Isolasi: Catatan MrBeast tentang Kebosanan, Waktu yang Hilang, dan Batas Mental

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Dalam video ini, Jimmy (MrBeast) mencoba bertahan selama tujuh hari, atau 168 jam, di sebuah ruangan putih kedap suara tanpa kontak dengan manusia dan hampir tanpa stimulasi. Pertanyaannya sederhana: apa yang terjadi pada pikiran seseorang ketika semua masukan dari luar dicabut? Jimmy memulai tantangan dengan setengah bercanda berharap ia "gak jadi gila". Di akhir video, ia mengakui bahwa ia meremehkan betapa beratnya pengalaman ini.

16 menit baca

Aturan Tantangan dan Peringatan dari Dokter

Karena tantangan ini dianggap berbahaya secara psikologis, tim menempatkan seorang dokter di luar ruangan untuk memantau kondisi Jimmy. Dokter itu mengaku sudah bekerja di rumah sakit jiwa selama 23 tahun, dan menurutnya kondisi ini "jauh lebih buruk" dari apa pun yang pernah ia lihat. Ia memperingatkan bahwa berada lebih dari 50 jam di ruangan putih seperti ini bisa memicu gangguan psikologis permanen, sementara Jimmy berencana menjalaninya selama 168 jam.

Jimmy sendiri menyebut kemungkinan ia kehilangan akal sehat dan mengalami psikosis. Jika itu terjadi, tim harus mengeluarkannya karena risikonya bisa permanen. Dokter menjelaskan bahwa otak yang tidak mendapat masukan informasi bisa mengalami kegilaan, memunculkan halusinasi, dan memicu paranoia. Ketika dibandingkan dengan tantangan Jimmy sebelumnya, yaitu dikubur hidup-hidup selama tujuh hari, jawabannya tegas: ini "jauh lebih sulit", karena kali ini ia sama sekali tidak mendapat kontak sosial.

Perlengkapan yang dimiliki Jimmy sangat terbatas: kasur, buku catatan dan pulpen, botol air isi ulang, sikat gigi dan pasta gigi, sabun batangan, toilet dan kamar mandi, serta wastafel. Makanan dikirim melalui jalur pengantar sepanjang lebih dari 100 kaki agar ia tidak perlu berinteraksi dengan siapa pun.

Hari Pertama: Menghitung Keramik dan Menunggu Makanan

Sejak awal, Jimmy menyadari bahwa menghibur diri akan sangat sulit. Pada jam kesembilan, ia sudah menghitung keramik di ruangan: 1.900 di dinding, atau 2.860 jika atap dan lantai ikut dihitung.

Masalah pertama yang muncul justru rasa lapar. Ia mengira sudah berada di dalam sekitar 14 jam, tetapi perkiraannya sudah meleset dua jam. Ia menyesal tidak makan lebih banyak sebelum masuk. Dari luar, tim menjelaskan strategi mereka: makanan dikirim secara acak supaya Jimmy tidak bisa menebak jam. Contohnya, mereka mengirim sarapan pada pukul 6 sore.

Karena ruangan kedap suara, Jimmy tidak tahu makanan sudah datang dan baru mengeceknya dua jam kemudian. Makanannya dingin dan lembek, tetapi ia tetap menyebut rasanya "luar biasa" karena ia sangat ingin merasakan sesuatu. Ia juga memperhatikan bahwa set ruangan dikelilingi rantai besi, lalu sempat membayangkan bahwa jika terjadi kebakaran, ia mungkin terbakar sebelum pintunya sempat dibuka. Ia memilih untuk tidak memikirkannya.

Benda Sederhana Terasa Seperti iPhone

Selama beberapa jam berikutnya, Jimmy berusaha tetap terstimulasi dengan apa pun yang ada, termasuk piring besi. Melihat ini, dokter meragukan ia bisa bertahan tujuh hari, karena kebutuhannya akan stimulasi dasar sudah tampak sejak awal. Narasi video mencatat bahwa ketika segalanya diambil dari seseorang, benda sesederhana piring besi bisa terasa semenarik iPhone. Dokter memperkirakan Jimmy akan gelisah karena bosan, dan Jimmy sendiri menyebut pengalaman ini "gak manusiawi banget".

Hilangnya Persepsi Waktu dan Insomnia

Ketika Jimmy menebak sudah sekitar 40 jam berlalu, tim mencatat bahwa ia kelebihan enam jam dari waktu sebenarnya. Saat itu sekitar pukul 4 pagi di hari kedua. Kehilangan persepsi waktu membawa masalah baru: ia tidak bisa tidur, dan menurutnya lampu-lampu ruangan mengganggu otaknya. Ia bahkan berpikir untuk berbaring saja selama lima hari ke depan.

Dokter punya penjelasan berbeda. Menurutnya, Jimmy mengalami insomnia karena tubuhnya memang tidak perlu tidur. Jimmy ingin tidur untuk melewati hari, padahal yang seharusnya ia lakukan adalah berkegiatan agar pikirannya tetap sibuk selama terjaga. Ketika Jimmy memanjat dinding, dokter menafsirkannya sebagai kebutuhan alami manusia akan kebebasan, yaitu naluri yang mulai muncul.

Kebingungan soal waktu semakin terlihat. Jimmy bertanya-tanya mengapa ia mengira saat itu pukul 4 sore dan bukan 9 malam, lalu menghitung bahwa makanan pertamanya datang sekitar pukul 4.30 sore. Ketika makanan kedua tiba, ia merasa baru semenit berlalu. Ia bingung apakah harus makan dua-duanya, lalu menduga tim mengirim sarapan kedua karena merasa bersalah ia tidak menghabiskan yang pertama. Dokter menunjuk perilaku ini sebagai awal paranoia yang bisa makin memburuk seiring waktu, padahal saat itu baru hari kedua.

Menghitung Sampai Seribu

Karena tidak tahu harus berbuat apa, Jimmy mencoba menghitung sejauh mungkin dan berhasil mencapai 1.000. Ia sadar ini terlihat gila. Tetapi menurutnya, ketika seseorang tidak bisa melakukan apa-apa, bagian tergilanya adalah harus menerima situasi itu. Dokter memperkirakan bahwa semakin lama tantangan berlangsung, Jimmy akan kehabisan hal acak untuk dilakukan. Dalam narasi, Jimmy mengakui dokter itu benar, karena belakangan ia hampir menjadi gila.

Strateginya untuk banyak tidur membantu melewati waktu, tetapi juga merugikan. Salah satu makanan sudah berada di jalur pengantar selama tujuh jam sebelum ia menemukannya, sehingga makanan itu sudah dingin dan lembek. Ia berkata rela memberikan apa pun untuk es krim yang ada di nampan itu.

Dari Stres Menjadi Gelisah: FOMO

Jimmy membandingkan kondisinya dengan kehidupan sehari-hari. Biasanya ia sangat stres karena mengerjakan banyak video sekaligus. Di dalam ruangan, stres itu hilang sama sekali, tetapi digantikan rasa gelisah yang besar karena FOMO, yaitu takut melewatkan hal penting yang terjadi di dunia. Ia menyebutnya jenis emosi yang berbeda dari biasanya dan menyadari ternyata sangat berat saat tidak bisa melakukan apa pun. Kebosanannya mulai terasa berat bagi mentalnya, sampai ia berseru minta tolong.

Jam ke-65: Handstand dan Taman Imajiner

Sekitar jam ke-65, Jimmy mencoba mencari tahu cara melakukan handstand dan menyesal tidak minta diajari dasar-dasarnya sebelum masuk. Menurut dokter, Jimmy harus menemukan konsep yang hanya ada di dalam pikirannya agar tidak terjerumus ke depresi yang intens.

Jimmy lalu membayangkan dirinya berjalan-jalan di taman dengan rumput hijau, orang yang sedang memancing, suasana cerah, dan kicau burung. Para pengamat di luar terkejut melihatnya mengarang cerita di kepalanya, sementara Jimmy sempat menggerutu bahwa acara jalan-jalannya di taman dikacaukan. Bagi pengamat, ini seperti menyaksikan Jimmy perlahan menjadi gila.

447 Butir Nasi dan Tidur di Kamar Mandi

Makanan berikutnya berisi nasi, ubi, dan steak, yang ia sebut makanan terbaik sejauh itu. Alih-alih langsung memakannya, ia menghitung butir nasinya satu per satu dan mendapati ada 447 butir di nampan besi tersebut.

Ia kemudian merasa cukup lelah dan menebak saat itu mungkin malam kelima. Belakangan ia menyadari belum mencapai separuh tantangan dan sudah salah hitung satu hari. Untuk mengatasi cahaya terang, ia memutuskan tidur di kamar mandi yang tidak terlalu terang. Ia menyebutnya langkah paling pintar sejauh itu, karena ia berhasil tidur di sana selama 12 jam.

Pesan Tersembunyi di SpaghettiOs

Saat tantangan resmi mencapai separuh jalan, yaitu 84 jam, tim memutuskan menyampaikan sesuatu melalui makanan: huruf-huruf acak dalam SpaghettiOs. Mereka menganggap Jimmy masih bisa menyusun huruf. Namun Jimmy tampak tidak mengenali SpaghettiOs, bahkan sempat lupa nama roti dan berkata saus untuk satu roti itu terlalu banyak. Ia akhirnya melihat huruf N, tetapi setiap kali menemukan huruf, ia langsung memakannya. Tim di luar hanya bisa berteriak frustrasi.

Belakangan Jimmy menyadari bahwa ia seharusnya memperhatikan huruf-huruf itu sebelum memakannya, karena mungkin ia harus menyusun huruf tersebut untuk mendapatkan makanan lagi. Tim berkomentar bahwa Jimmy akan merasa sangat bodoh ketika menonton rekamannya nanti.

Lapar yang Bukan Lapar

Cahaya terang makin mengganggu, dan Jimmy mengeluh sangat pusing dan lapar. Dokter menjelaskan bahwa asupan kalori Jimmy sebenarnya sudah cukup sesuai kebutuhan. Namun karena sangat kurang stimulasi, ia mengira dirinya lapar. Jimmy pun berulang kali mengecek jalur pengantar, dan anehnya kegiatan itu justru menenangkan. Ia juga sempat bertanya apakah ia mengalami gegar otak karena sesuatu yang ia lakukan, lalu memutuskan berhenti.

Ketika menemukan kantong McDonald's yang terasa ringan, ia berkata akan depresi jika isinya bukan McDonald's sungguhan, dan lega ternyata asli. Ia menggambarkan pola emosinya dengan jelas: setiap kali mendapat makanan, ia merasakan sekitar 20 menit kebahagiaan dan merasa seperti manusia lagi. Begitu makanan habis, gelombang depresi kembali datang dengan pertanyaan, "Sekarang harus ngapain?" Ia juga mengaku makin kehilangan persepsi waktu, sama sekali tidak bisa menebak jam, dan merasa otaknya perlahan "bertambah bodoh".

Olahraga Darurat dan Kamera di Mana-Mana

Untuk menyibukkan diri, Jimmy menciptakan permainan dengan barang seadanya. Ia bermain basket dengan kertas pembungkus cheeseburger dan gelas sikat gigi sambil menyebut nama LeBron, Steph, dan Kobe, lalu menyimpulkan ia tidak berbakat. Ia mencoba bisbol, menggunakan garpu, dan melempar piring anti pecah dari makanan pertamanya sejauh mungkin. Namun ujung-ujungnya ia tetap bosan dan beberapa kali sangat ingin keluar.

Pada hari keempat, ia sudah lebih dulu meminta tim agar tidak membiarkannya keluar sebelum waktunya, seberapa pun ia memohon atau berteriak. Instingnya mengatakan ia sudah melewati 113 jam, sehingga tersisa 55 jam. Ia meminta editor video menunjukkan berapa jam yang sebenarnya tersisa dan berharap angkanya mendekati 55. Dokter memperkirakan Jimmy akan marah sekaligus paranoid ketika tahu kenyataannya.

Paranoia itu kemudian mengarah ke kamera. Jimmy mengeluh tidak punya privasi sambil menunjuk satu per satu kamera yang menyorotnya setiap saat, dan merasa akan gila karenanya. Ia lalu menggelindingkan kamera ke arah jalur pengantar seperti bermain boling, tetapi entah bagaimana justru mengenai jarinya sendiri.

Titik Terendah

Pada fase ini, Jimmy mengatakan ia benar-benar meremehkan betapa sulitnya video ini, dan memikirkannya saja membuatnya ingin menangis. Ia merasa seperti hewan dan kehilangan semua haknya sebagai manusia. Ia menebak saat itu pertengahan hari kelima. Ia sangat merindukan pacarnya, teman-temannya, "bahkan Nolan". Secara mental, ia menyebut dirinya berada di titik terendah.

Ia juga mulai bermimpi tentang ruangan itu. Dalam mimpinya ia sudah berada di hari keenam atau ketujuh, lalu terbangun dan sadar itu hanya mimpi. Ia berkata rela membayar banyak uang hanya untuk tahu jam berapa saat itu.

Jimmy kemudian menyusun tiga alasan mengapa ia yakin hanya tersisa sekitar 33 jam. Pertama, ia sudah tidur lima kali. Kedua, ia biasanya buang air besar sekali sehari dan sudah lima kali melakukannya sejak masuk. Ketiga, janggut di lehernya sudah tumbuh lebat, padahal biasanya itu butuh seminggu. Ia berkata akan gila jika ternyata masih hari kelima, apalagi hari keempat.

Ia juga sempat bermimpi menghitung sampai 100.000. Setelah bangun, ia memutuskan berlari 1.000 putaran mengelilingi ruangan. Saat menonton ulang rekamannya, ia menyebut momen itu benar-benar gila: ia memaksa diri berjalan berkeliling agar tetap waras. Akhirnya ia mengakui 1.000 putaran terlalu banyak dan mulai pusing.

Kunjungan Karl, Bailey, dan Suzie

Menjelang akhir, Karl membawa dua orang dari tantangan "100 Hari Terjebak Bersama", yaitu Bailey dan Suzie, yang pernah dikurung oleh Jimmy. Ketika diminta membandingkan, salah satu dari mereka mengatakan lebih memilih ada orang lain yang menemani. Kini situasinya terbalik, dan mereka merencanakan balas dendam. Mereka mengirim nampan kosong lewat jalur pengantar dan tidak merasa bersalah. Jimmy langsung berani bertaruh seluruh uang di rekeningnya bahwa ini ulah Karl. Mereka juga melempar sesuatu ke arahnya sambil berkata, "Kamu lapar, Jimmy? Makan ini!", sementara Jimmy berteriak meminta mereka berhenti.

Narasi video mencatat bahwa ini adalah stimulasi terbanyak yang Jimmy dapatkan dalam beberapa hari. Jimmy sendiri mengakui mereka pantas dipuji, dan bahwa ia mungkin memang layak mendapatkannya.

Mimpi, Kesepian, dan Penyesalan

Jimmy merenung bahwa membayangkan setelah mati seseorang masuk ke ruangan putih seperti ini untuk selamanya akan sangat menyedihkan. Ia bercerita pernah bermimpi melihat dirinya berada di luar, lalu terbangun dalam keadaan depresi dan kesepian. Karena itu, menurutnya, semakin lama ia tidur, semakin bahagia ia. Ia berkata rasanya seperti mati dan ia benar-benar harus keluar.

Ia membandingkan tantangan ini dengan proyek-proyek sebelumnya: tujuh hari di rakit, tujuh hari dikubur hidup-hidup, dan kini tujuh hari di ruang isolasi. Menurutnya, jika ia tahu akan seberat ini, ia tidak akan mencobanya. Ia bahkan berkata akan gila jika angka jam di kiri atas layar menunjukkan lebih dari 20. Ia kembali mengatakan sangat kesepian, merindukan pacarnya, dan menyebut pengalaman ini penyiksaan.

Para pengamat mencatat bahwa Jimmy tampak menangis dan tidak baik-baik saja. Ia hanya berbaring di lantai, melempar barang, dan marah-marah, dan hanya senang ketika mendapat camilan, seperti anak kecil.

Kenyataan Pahit: Masih 24 Jam Lagi

Jimmy mengira tersisa sekitar delapan jam, lalu dua sampai tiga jam, dan berencana tidur sepanjang sisa waktu. Ia mengumumkan akan menikmati "makanan terakhirnya" sebelum keluar. Tim menilai ucapan itu ironis, karena saat itu sisa waktunya tepat 24 jam.

Ia mulai membersihkan ruangan sambil mengakui bahwa itu hanya alasan karena ia bosan. Ia juga merenung bahwa ia sempat berharap eksperimen ini memberinya ketenangan mental dan membuatnya belajar sedikit tentang dirinya. Kenyataannya, katanya, satu-satunya yang ia dapat adalah kemampuan baru melempar barang ke pintu jalur pengantar.

Ketika memikirkan kemungkinan masih ada 24 jam lagi, ia menolak mempercayainya dan menyebut itu sudah batasnya. Untuk membuang waktu, ia kembali menghitung, kali ini sampai 5.425. Ia sempat yakin mendengar sesuatu di luar, lalu berulang kali berkata "aku sedih", bahwa ia tidak mau berada di sana, dan bahwa ini tidak manusiawi.

Dokter menggambarkan Jimmy berbaring di kasur sambil menutupi matanya, tanpa semangat. Menurutnya, Jimmy akan menjadi "manusia yang baru", dan ia khawatir Jimmy akan menjadi seperti kondisinya saat itu. Ia menyebut Jimmy mulai tidak berfungsi, dan tim mengakui mereka tidak pernah mendorongnya sejauh yang terjadi di video ini. Karena Jimmy sangat kekurangan kontak manusia, dokter menyarankan ia dibangunkan perlahan, seperti membangunkan anak kecil dari tidur.

Keluar dari Ruangan Putih

Jimmy diberi tahu tersisa sepuluh menit. Sambil berkata "aku bakal mati" dengan nada bercanda, ia menunggu hitung mundur. Di tengah hitungan ia baru sadar belum memakai celana. Setelah pintu terbuka, kesan pertamanya adalah dunia luar tidak seterang di dalam. Kepalanya agak pusing, dan ia mengaku setelah tantangan ini ia seperti lupa cara berinteraksi dengan manusia.

Ia merasa sangat lega tidak perlu melihat cahaya terang lagi, bahkan menganggap langit-langit di luar keren. Seseorang yang menyambutnya berkata itu adalah Jimmy paling bahagia yang pernah ia lihat setelah sekian lama. Jimmy mengaku tadinya ia mengira 24 jam terakhir akan berlangsung selamanya. Ia lalu mengajak keluar karena ingin melihat matahari, dan baru sadar hari sudah malam. Video ditutup dengan kekagumannya pada hal yang sebelumnya biasa saja: "Indahnya bisa lihat dunia luar."