Di Dalam Akademi Pramugari: Kebakaran, Hipoksia, Pendaratan Darurat, dan Pendaratan di Laut
Michelle KhareDiterjemahkan dari English
Dalam episode Challenge Accepted kali ini, Michelle Khare pergi ke Dubai untuk berlatih di Dynamic Advanced Training, sebuah fasilitas yang mempersiapkan awak kabin menghadapi situasi ekstrem. Episode ini menegaskan bahwa pramugari bukanlah "pelayan di langit", melainkan petugas tanggap darurat pertama. Setiap latihan dirancang untuk menunjukkan apa artinya hal itu: memadamkan kebakaran, menangani dekompresi, mengevakuasi pesawat yang jatuh, dan bertahan hidup di laut.
Saat Michelle bertanya kepada instruktur Hasan apa yang harus ia harapkan, jawabannya singkat: "Kejutan. Hanya itu yang perlu kamu harapkan."
Dari Glamor ala Pan Am hingga Petugas Tanggap Darurat
Episode ini menyertakan komentar dari seorang pramugari yang masih aktif bekerja. Video tersebut mencantumkan Taylor Tippett sebagai bintang tamu. Komentar itu membandingkan citra lama pekerjaan ini dengan kenyataannya. Menurut narasumber tersebut, menjadi pramugari dulu dianggap glamor dan diromantisasi, "seperti Pan Am." Namun, awak kabin tidak hadir terutama untuk menyajikan minuman. Tujuan utama mereka adalah melindungi penumpang jika terjadi sesuatu, "dan ada banyak hal yang bisa terjadi." Sudut pandang ini mewarnai seluruh episode, dan setiap modul pelatihan disajikan sebagai bukti atas hal tersebut.
Latihan Kebakaran di Tiruan Kabin Tahan Api
Latihan pertama berlangsung di sebuah tiruan kabin pesawat yang seluruhnya tahan api. Hasan memperlihatkan kepada Michelle sebuah alat pemadam api dan PBE (protective breathing equipment, peralatan pelindung pernapasan) yang melindungi pemakainya dari asap. Ketika Michelle bertanya kapan ia akan menggunakannya, Hasan menjawab "tidak pernah."
Michelle melihat sebuah komputer di dalam tiruan kabin itu. Hasan berkata komputer itu tidak akan berada di sana "lama-lama." Sambil bertanya apa yang akan Michelle lakukan jika melihat api saat sedang melayani penumpang, Hasan membakar komputer itu tanpa peringatan. Michelle meraih alat pemadam dan menerima instruksi sambil bertindak: arahkan ke pangkal api lalu semprotkan. Ia berhasil memadamkannya, dan Hasan mengatakan ia melakukannya dengan baik.
Lalu kebakaran kedua muncul di bagian lain kabin, kali ini di bagasi kabin atas. Michelle gagal dalam percobaan ini. Hasan menjelaskan kesalahannya: jangan pernah membiarkan rak bagasi terbuka, karena hal itu membuat api terpapar lebih banyak oksigen dan membantunya membesar.
Michelle bertanya mengapa bisa ada kebakaran di kompartemen bagasi atas. Hasan mengatakan ada banyak kemungkinan penyebab dan menceritakan sebuah kisah dari masa ketika mereka sendiri menjadi pramugara. Seorang penumpang yang berprofesi sebagai ilusionis membawa piroteknik ke dalam pesawat untuk digunakan dalam pertunjukan sulapnya, dan benda-benda itu meledak di dalam bagasi. Hasan mengaku masih bertanya-tanya bagaimana orang itu bisa membawanya masuk ke pesawat. Michelle berseloroh bahwa para pesulap pastilah ancaman sesungguhnya bagi keamanan bandara.
Hasan juga mengajak Michelle berkeliling singkat ke tiruan kabin jet pribadi di fasilitas tersebut.
Simulator Gerak dan Penumpang yang Ingin Kopi
Selanjutnya adalah simulator kabin yang menurut Hasan dapat bergerak dalam empat derajat. Simulator ini dapat menyimulasikan kecelakaan, turbulensi, atau dekompresi, dan menurut Hasan rasanya "sangat mendekati aslinya," bukan seperti wahana taman hiburan. Michelle sendiri yang menutup pintu kabin yang berat itu. Kemudian Hasan duduk sebagai penumpang dan menunggu Michelle melayaninya.
Lepas landasnya terasa meyakinkan: Michelle merasakan guncangan dan saat pesawat menanjak. Seketika itu juga, Hasan meminta minuman panas. Michelle menjawab bahwa mereka belum mencapai ketinggian jelajah dan berterima kasih atas kesabaran penumpang tersebut, yang menurut Hasan merupakan respons yang baik. Hasan terus meminta seiring berubahnya status tanda sabuk pengaman, lalu simulator berguncang karena turbulensi sementara permintaan itu terus berlanjut.
Komentar dalam video menjelaskan maksudnya. Pekerjaan ini tidak biasa karena awak kabin diharapkan tetap memberikan layanan pelanggan yang baik di tengah keadaan darurat. Anda mungkin mengira tidak ada orang yang akan memesan kopi saat turbulensi begitu parah sampai sulit berdiri. Namun, sebagian penumpang tidak berpikir seperti itu dan tidak tahu apa yang masuk akal bagi awak kabin. Narasumber mengatakan bahwa memahami hal ini dengan empati adalah hal yang membuat seorang pramugari menjadi hebat.
Mereka memberikan contoh dari pengalaman pribadi. Terkadang mereka merasa kesal ketika penumpang menggantung barang di lemari depan tanpa meminta izin. Namun, mereka harus menahan diri, karena sebagian penumpang itu ternyata sedang menggantung jas yang akan mereka kenakan di pemakaman putra mereka. "Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami seseorang."
Latihan pelayanan berlanjut dengan percakapan bercanda. Michelle menawarkan "kopi, teh, atau susu", Hasan meminta cappuccino, dan Michelle menjawab bahwa mereka tidak menyediakannya.
Dekompresi: Pasang Masker Sendiri Terlebih Dahulu
Kemudian masker oksigen berjatuhan. Michelle bingung apakah ia harus membantu Hasan atau memasang maskernya sendiri, dan ia mulai dengan membantu Hasan lebih dulu.
Komentar dalam video menjelaskan dekompresi sebagai hilangnya tekanan udara kabin secara cepat, yang disebabkan misalnya oleh jendela yang pecah atau retak, atau pintu yang terbuka. Ketika itu terjadi, masker langsung berjatuhan. Peragaan keselamatan menginstruksikan penumpang untuk memasang masker sendiri sebelum membantu orang lain, karena jika awak kabin tidak dalam kondisi baik, mereka tidak bisa menolong siapa pun.
Michelle mengakui bahwa ia mungkin sudah ratusan kali mendengar pengumuman itu, tetapi pada saat kejadian ia membeku. Ia diberi tahu bahwa reaksi membeku itu wajar, dan justru karena itulah orang berlatih, agar mereka bisa merespons dengan benar dalam situasi nyata. Ia pun berhasil memperbaiki tindakannya. Michelle diberi tahu bahwa jika tidak segera memasang masker, seseorang bisa mengalami hipoksia.
Simulator Hipoksia
Hal itu mengantar ke modul berikutnya, yaitu ruang simulator hipoksia. Di sini, oksigen yang tersedia bagi Michelle dikurangi agar ia bisa merasakan dampak dekompresi pada tubuh. Michelle bertanya apakah ini aman. Ia diberi tahu bahwa ini "benar-benar aman", dan seseorang di pusat kendali akan memantau tanda-tanda vitalnya sepanjang waktu.
Saat oksigennya dikurangi, Michelle harus menyelesaikan tes kognitif: menuliskan nama lengkapnya dan sebuah kalimat, serta membacakan kembali arah dan ketinggian terbang, seperti "heading 225, flight level 310." Para instruktur menjelaskan mengapa hipoksia berbahaya. Gejalanya muncul secara bertahap, sehingga Anda mungkin tidak menyadarinya sampai terlambat. Gejalanya meliputi pusing ringan dan menurunnya kemampuan motorik. Michelle diberi tahu bahwa ia boleh berhenti jika merasa tidak enak badan, tetapi ia bersikeras menyelesaikannya.
Hasilnya jelas. Di awal, ia dengan benar menulis "Michelle is invincible" (Michelle tak terkalahkan). Pada percobaan kedua, ia diminta menulis "Michelle is invisible" (Michelle tak terlihat), dan tulisannya tidak masuk akal. Tulisan tangannya pun terlihat jelas memburuk di antara kedua percobaan itu. Setelahnya, Michelle bercanda bahwa banyak tugas tersebut mengingatkannya pada Among Us, dan kini ia punya keunggulan jika suatu saat memainkannya dalam keadaan hipoksia.
Kursi Panas Baris Darurat: Tips dan Kisah Paling Gila
Dalam segmen tanya jawab bertajuk "Exit Row Hot Seat" (Kursi Panas Baris Darurat), Michelle meminta tips terbang. Ada dua yang menonjol:
- Duduklah sedekat mungkin dengan awak kabin. Menurut narasumber, hal ini sangat meningkatkan peluang Anda untuk selamat dalam kecelakaan, karena awak kabin berada tepat di dekat Anda untuk membantu.
- Periksa jaket pelampung Anda. Saat naik pesawat, narasumber meraba ke bawah kursi untuk memastikan jaket pelampungnya ada. Menurut mereka, jaket itu bisa saja hilang karena ada orang yang mengambilnya.
Saat ditanya tentang hal paling gila yang pernah terjadi di pesawat, narasumber menjawab perempuan bertelanjang dada. Namun, mereka menambahkan bahwa situasi tersulit adalah keadaan darurat medis. Insiden medis terjadi "setiap saat," kata mereka, dan kejang sangat sering terjadi. Mereka menyebut anggapan bahwa pekerjaan ini hanya gemerlap dan romantis sebagai kesalahpahaman besar. Pekerjaan ini memang seperti itu, tetapi juga jauh lebih dari itu.
Episode ini kemudian menayangkan cuplikan berita: pramugari yang mengevakuasi 150 penumpang, seorang pramugari yang dianggap berjasa membantu persalinan bayi, dan seorang pramugari yang menggendong orang-orang dua kali ukuran tubuhnya ke tempat aman. Jika bisa menyampaikan satu hal kepada publik, kata narasumber, itu adalah agar orang menghargai apa yang sebenarnya dilakukan pramugari. Pekerjaan ini menuntut dan meninggalkan dampak.
Rangkaian Kecelakaan dan Evakuasi
Kembali ke simulator, Michelle mempelajari posisi brace, dengan siku dirapatkan agar benda apa pun yang jatuh dapat tertahan. Kemudian rangkaian kecelakaan dimulai. Selama benturan, awak kabin mengulang perintah "heads down, stay down" (kepala menunduk, tetap menunduk). Setelah itu, mereka memeriksa kondisi di luar dan di pintu, lalu memerintahkan evakuasi: "evacuate" (evakuasi), "stay back" (mundur) untuk menahan penumpang sementara pintu darurat disiapkan, lalu "jump" (lompat) ke perosotan.
Hasan meluncur di perosotan tanpa ragu, dan Michelle mengaku yakin bahwa Hasan tidak punya rasa takut. Michelle membandingkan pengalaman itu dengan tantangan terakhir di Legends of the Hidden Temple, dan Hasan ternyata tahu acara tersebut.
Hasan memberikan gambaran yang lebih luas tentang latihan ini. Michelle mengevakuasi satu penumpang. Awak kabin sungguhan mungkin harus mengevakuasi sekitar 300 orang sambil menghadapi trauma mereka sendiri, dan evakuasi harus dilakukan dalam waktu kurang dari 90 detik.
Skenario Bertahan Hidup: Arktik, Hutan, dan Laut
Pelatihan evakuasi juga mencakup apa yang terjadi setelah meninggalkan pesawat. Para peserta pelatihan diberi skenario seperti mendarat di Arktik, yang disebut Michelle sebagai mimpi buruknya secara harfiah, atau di hutan. Para instruktur memperlihatkan peralatan bertahan hidup, termasuk alat pembuat air yang dioperasikan dengan tangan. Komentar dalam video menekankan bahwa orang tidak menyadari betapa banyak informasi yang harus dipelajari pramugari.
Menurut Hasan, bertahan hidup di hutan lebih mudah dan Arktik "masih tidak terlalu buruk", tetapi bertahan hidup di laut adalah yang paling berbahaya.
Tantangan Terakhir: Pendaratan di Air
Untuk tantangan terakhir, Michelle menjalani skenario ditching, yaitu pesawat yang melakukan pendaratan darurat di air. Hasan mengatakan mereka akan menambahkan ombak, hujan, guntur, dan petir. Skenario dimulai setelah kecelakaan dan evakuasi, dengan Michelle berada di rakit penyelamat. Tugasnya adalah memasang kanopi rakit, hal yang perlu dilakukan saat hujan atau cuaca buruk, dan mencari tahu sendiri cara melakukannya. Ia diminta memberi isyarat jika situasinya sudah terlalu berat.
Sementara badai simulasi menerpanya, para instruktur meneriakkan arahan: memanjat menggunakan jaring, memakai pegangan, membentangkan kanopi dari sisi lain, menutup ritsletingnya, dan menjaganya tetap tertutup. Ketika ditanya bagaimana keadaannya, perjuangan Michelle memperlihatkan betapa sulitnya tugas itu dalam kondisi seperti tersebut.
Episode ini ditutup dengan pesan utamanya. Alam tidak selalu bersahabat, sehingga awak kabin harus siap menghadapi kemungkinan terburuk, dan saat Anda terbang berikutnya, Anda sebaiknya berterima kasih kepada pramugari atas pengabdian mereka.
Artikel tidak ditemukan.
Artikel diterbitkan · Diperbarui
