100 Orang, Lima Jebakan, dan Satu Piala Emas: Bagaimana Baylie Bertahan sampai Akhir
MrBeast ミスタービーストVideo ini mempertemukan 100 peserta dengan lima jebakan besar yang, menurut pembawa acara, dirancang untuk menguji mereka sampai batas maksimal. Peserta terakhir yang bertahan mendapat sebuah piala unik. Belakangan pembawa acara mengungkap bahwa piala itu terbuat dari emas asli senilai 100.000 dolar. Sepanjang lima babak, persaingan bergeser dari adu cepat dan adu nyali menjadi kerja sama tim, lalu berakhir sebagai duel saling menjatuhkan antara orang-orang yang sebelumnya saling menolong.
Jebakan Pertama: Langit-Langit Berpaku yang Turun
Para peserta membuka penutup mata dan mendapati diri mereka berada di bawah langit-langit penuh paku yang perlahan diturunkan. Pembawa acara menegaskan bahwa paku itu bukan paku sungguhan. Namun, peserta diminta menganggapnya nyata. Untuk lolos, mereka harus melepas pengait yang menahan mereka lalu keluar sebelum langit-langit mencapai bawah. Siapa pun yang masih di dalam langsung tereliminasi.
Suasananya kacau. Peserta saling mendorong untuk menerobos keluar sementara pembawa acara terus berteriak bahwa waktu hampir habis. Hasilnya, 49 orang tereliminasi dan 51 orang melaju ke babak berikutnya.
Jebakan Kedua: Arena Paintball dan Lampu Hijau
Jebakan kedua adalah arena paintball raksasa. Peserta harus menyeberang ke garis akhir sementara penjaga bersenjata paintball menembaki mereka. Satu tembakan saja sudah cukup untuk menggugurkan seseorang. Hanya 20 orang pertama yang berhasil menyeberang dan berdiri di atas ubin yang boleh lanjut. Ada satu aturan tambahan yang ditekankan pembawa acara: ketika lampu hijau menyala, para penembak berhenti menembak.
Sebagian peserta tampak percaya diri. Salah satunya berkata para penjaga tidak punya cukup peluru untuk menjatuhkannya, dan temannya berencana berlari di belakangnya saja. Begitu permainan dimulai, peserta langsung berjatuhan. Seorang peserta mencoba memakai pintu sebagai tameng, tetapi tetap terkena tembakan. Peserta lain memilih bersembunyi di balik sebuah van dan menunggu lampu hijau.
Setelah satu orang berhasil menyeberang saat lampu hijau, peserta lain mulai berani mencoba. Satu strategi dipuji pembawa acara: sekelompok peserta memakai selimut sebagai tameng dan mengalihkan perhatian penembak supaya yang lain bisa berlari. Ketika sepuluh orang sudah lolos, tersisa sepuluh tempat. Pada satu titik, 13 orang masih bertahan tetapi hanya ada lima tempat tersisa. Kebanyakan dari mereka terkepung di balik van, sampai akhirnya semua berlari bersamaan dan 20 tempat terisi.
Pembawa acara lalu meminta mereka memperhatikan warna ubin tempat mereka berdiri. Menurutnya, ubin itu sangat penting dan baru akan dijelaskan kemudian. Ternyata warna ubin menentukan tim untuk jebakan berikutnya.
Jebakan Ketiga: Jembatan, Borgol, dan 12 Kunci
Kedua puluh peserta dibagi menjadi empat tim berwarna: pink, biru, hijau, dan oranye. Mereka berdiri di depan sebuah jurang yang dilintasi tali-tali. Setiap tim harus memilih satu kapten, sementara empat anggota lainnya memborgol diri ke podium di belakang. Tim pink memilih Steven dengan seruan "Pink Panthers selamanya". Rekan setimnya menyebut Steven kuat, tangguh, setia, dan tidak akan meninggalkan mereka. Kapten tim biru bercerita bahwa awalnya ia dipilih karena tinggi badannya, tetapi juga karena bisa tenang di bawah tekanan.
Aturannya sebagai berikut. Di tengah jurang ada platform dengan 12 titik borgol. Siapa pun yang berhasil memborgol diri di sana dipastikan lolos. Untuk mencapainya, kapten harus membangun jembatan dari papan. Setiap tim hanya punya lima papan, dan papan yang jatuh hilang selamanya. Setelah menyeberang, kapten bisa langsung mengunci diri, atau mengambil salah satu dari 12 kunci lalu kembali untuk membuka borgol rekan setimnya. Begitu 12 orang terborgol di tengah, permainan selesai dan sisanya gugur. Pembawa acara menekankan bahwa nasib seluruh tim ada di tangan kapten, dan dengan 20 orang berebut 12 tempat, hitungannya jelas tidak cukup untuk semua.
Kapten tim hijau, Tomer, langsung menonjol. Ia memutar papan lalu mendorongnya, cara yang dipuji sebagai cerdas, dan hampir menjadi yang pertama tiba di tengah. Strateginya juga berbeda. Ia berusaha membuka borgol semua rekannya lebih dulu sebelum mereka mulai menyeberang, supaya jembatan tetap kosong dan ia bisa bolak-balik mengambil kunci tanpa terhalang. Menurut pembawa acara, strategi itu membuat Tomer mengambil kunci lebih banyak daripada siapa pun.
Tim pink mengalami hal yang justru dihindari Tomer. Anggota yang sudah dibebaskan ikut berjalan di jembatan sehingga terjadi kemacetan dan kapten tidak bisa lewat. Salah satu anggota bahkan meminta maaf karena tanpa sengaja menahan timnya. Tim pink memang yang pertama berhasil menyeberangkan anggota, tetapi posisinya disebut "serba salah". Tim biru menerapkan pola menunggu lalu membiarkan kapten berjalan cepat, dan pembawa acara menilai cara itu cerdas. Tim oranye tertinggal sejak awal karena belum mendapat satu papan pun ketika tim lain sudah membangun. Belakangan papan mereka terpasang terlalu jauh sehingga pembawa acara ragu kaptennya masih bisa memakainya.
Menjelang akhir, slot di tengah cepat terisi karena seluruh tim hijau bergerak bersamaan. Seorang peserta yang kesulitan menyeberang disuruh rekannya untuk "lari dan lompat saja", lalu jatuh. Peserta lain menenangkannya dan berjanji akan membantu. Hasil akhirnya, seluruh tim hijau berhasil menyeberang. Tim biru dan pink masing-masing mendapat tiga tempat, sedangkan dari tim oranye hanya kaptennya yang sampai. Kapten oranye mengaku harus menebus kegagalan itu untuk timnya dan harus mengalahkan kapten tim hijau, yang ia sebut sebagai ancaman nyata.
Jebakan Keempat: Mesin Pemutar dan Hak Memilih Lawan
Jebakan keempat adalah mesin pemutar raksasa. Di setiap ronde, tiga orang harus menunduk dan melompat untuk menghindari lengan mesin yang berputar. Siapa yang jatuh langsung gugur, dan orang terakhir yang bertahan lanjut ke jebakan final. Jebakan ini berlangsung empat ronde, sehingga hanya empat orang yang masuk final. Sebelum dimulai, seorang peserta bernama Lalo tidak bisa ikut karena alasan medis. Ia diberi 5.000 dolar dan mundur dari tantangan.
Peserta kembali harus memilih kapten. Ada yang menolak dengan alasan tim oranye gagal parah sebelumnya. Sebaliknya, anggota tim hijau mengingatkan bahwa Tomer telah menyelamatkan mereka. Mayoritas memilih Tomer. Di atas platform, kapten ternyata mendapat keuntungan besar: ia memilih jenis permainan (ketahanan, keahlian, atau kekuatan) sekaligus dua lawannya. Pemenang ronde lalu menunjuk kapten ronde berikutnya.
Ronde 1. Tomer memilih kekuatan, yang berarti para pemain harus memakai rompi pemberat. Ia memilih Byan dan Steven dengan alasan ingin tantangan. Jika bisa mengalahkan mereka, keduanya tidak akan ada di tantangan berikutnya. Tomer mengakui mereka jauh lebih muda darinya, tetapi ia mengaku yakin seratus persen akan menang. Salah satu lawannya membalas bahwa Tomer salah pilih lawan kalau ingin menang. Rompi pemberat membuat tantangan jauh lebih berat. Steven kelelahan dan jatuh lebih dulu, lalu Byan juga tampak kepayahan. Tomer sendiri mengaku lelah, tetapi ia bertahan dan masuk empat besar. Ia kemudian menunjuk Baylie sebagai kapten berikutnya.
Ronde 2. Baylie memilih keahlian. Setiap pemain memegang mangkuk berisi 75 bola ping pong sambil bertahan di mesin yang berputar. Pemain dengan bola terbanyak setelah dua menit, atau yang terakhir berdiri, menjadi pemenang. Baylie memilih T. Ruffin, kapten oranye yang sebelumnya bertekad mengalahkan kapten hijau, serta Julian, mantan rekan setimnya. T. Ruffin jatuh hampir seketika, dan Baylie menang. Pembawa acara merangkum bahwa Baylie baru saja mengalahkan kapten oranye sekaligus rekan setimnya sendiri dari tim hijau.
Ronde 3. Dengan tujuh pemain tersisa, Baylie menunjuk Austin. Austin memilih kekuatan dan menantang Joseph serta Matt. Ketika ditanya mengapa tidak memilih dua peserta perempuan yang tersisa, Austin menjelaskan bahwa sejak awal mereka sudah sepakat akan ada dua perempuan di final, dan ia memegang kata-katanya. Salah satu pemain hanya bertahan sekitar lima detik. Dari susunan finalis berikutnya, Joseph yang keluar sebagai pemenang ronde ini.
Ronde 4. Dua pemain terakhir, Kinsley dan Abby, masih harus memilih kapten. Abby menunjuk Kinsley, yang dulu menjadi kapten tim biru, karena Kinsley-lah yang membuka borgolnya dan membantunya menyeberang. Kinsley memilih ketahanan. Keduanya bermain dalam diam dan sangat fokus. Abby sempat menemukan ritme, lalu hampir jatuh, dan akhirnya Kinsley yang menang.
Empat finalis pun ditetapkan: Tomer, Baylie, Joseph, dan Kinsley.
Jebakan Final: Meriam dan Tiga Hati Kaca
Di final, setiap peserta berdiri di balik tiga hati kaca. Mereka bergiliran menembakkan meriam ke hati kaca siapa pun yang ingin mereka targetkan. Pemain yang ketiga hatinya pecah langsung gugur, dan yang terakhir bertahan memenangkan piala emas 100.000 dolar. Pembawa acara menyebut pemenangnya akan menang "di depan ratusan juta orang". Beberapa finalis menyebut aturan ini kejam, karena mereka sebenarnya tidak saling bermusuhan.
Tomer mendapat giliran pertama sebagai pemenang pertama di jebakan keempat. Ia mengaku rencananya jadi rusak karena sebenarnya ia hanya ingin bersenang-senang, sementara sekarang ia harus menyakiti orang lain. Strateginya, menurutnya semua harus "saling bantai" karena situasinya memang begitu. Kinsley sebelumnya membanggakan diri sebagai penembak jitu karena suka berburu dan meriam itu tampak seperti senapan. Karena itu Tomer menganggap Kinsley sebagai ancaman. Kinsley mencoba membujuk: ia mengaku sebenarnya tidak terlalu jago menembak, meriam itu bukan senapan, dan dialah yang ikut membantu memilih Tomer sebagai kapten. Tomer tetap menembak, dan satu hati Kinsley pecah.
Baylie mengaku sangat takut karena merasa berada di posisi terbawah. Ia mengincar Joseph dengan alasan Joseph tidak mau berkomitmen pada rencana bersama. Joseph mengaku agak sakit hati dan menyatakan kata-katanya adalah "harga mati, sebagai pria sejati". Tembakan Baylie meleset ke tanah di bawah hati Joseph. Joseph, yang oleh pembawa acara disebut wild card yang sulit ditebak, lalu membalas dan memecahkan satu hati Baylie. Kinsley kemudian mengincar Joseph sambil meminta maaf. Ia mengatakan harus mulai mengambil keputusan yang lebih strategis, lalu tembakannya kena. Setelah putaran pertama, semua finalis kecuali Tomer sudah kehilangan satu hati. Salah satu finalis menilai strategi itu bukan keputusan terbaik karena Tomer bisa menghabisi mereka semua.
Ronde Kedua Final: Tersingkirnya Joseph dan Tomer
Di putaran kedua, Tomer menyatakan bahwa ia harus mengutamakan "aku, aku, dan diriku sendiri". Joseph lalu mendapat kesempatan membalas dan berhasil mengenai Tomer, sehingga kini semua finalis sudah kehilangan satu hati. Kinsley mengincar hati terakhir Joseph, tetapi pelurunya memantul dan hampir mengenai juru kamera. Tomer kemudian memecahkan hati terakhir Joseph, dan Joseph tereliminasi dengan menyebut permainan itu seru.
Giliran Baylie menjadi momen penuh bujukan. Kinsley memintanya tidak menembak Kinsley, dengan argumen bahwa jika Kinsley keluar, Tomer akan langsung mengalahkan Baylie. Pihak lain mengingatkan Baylie bahwa ia bisa sampai di tahap ini karena pernah ditarik dari jurang di jebakan ketiga. Tomer bahkan berjanji akan mengecat rambutnya merah. Tembakan Baylie meleset. Tomer lalu menembak dan memecahkan hati Kinsley.
Pembawa acara mengingatkan Baylie bahwa keputusan ada di tangannya, dan menurut pendapatnya melawan Tomer satu lawan satu bukan ide bagus. Tomer menaikkan tawarannya: ia akan mengecat jenggotnya semerah baju Baylie. Seseorang menimpali bahwa Baylie datang untuk 100.000 dolar, bukan untuk mengecat jenggot. Baylie akhirnya menembak dan mengenai hati kedua Tomer, sambil berkata bahwa ini sudah final dan ia harus melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Tembakan Kinsley berikutnya meleset. Ia kemudian mengajak Baylie bersekutu menembak Tomer. Baylie melakukannya dan mengenai hati terakhir Tomer. Kedua finalis meminta maaf dan menyebut Tomer orang yang luar biasa sejak awal. Pesan terakhir Tomer sebelum dijatuhkan: "Panjang umur dan sejahtera."
Duel Terakhir: Baylie melawan Kinsley
Tersisa Baylie dengan dua hati dan Kinsley dengan satu hati. Keduanya saling mengingatkan bahwa ini hanya permainan. Kinsley menembak dan langsung kena, sehingga skor menjadi imbang dengan masing-masing satu hati. Kinsley memperingatkan bahwa jika Baylie meleset, ia akan mengeluarkan Baylie. Baylie mengaku jantungnya berdebar keras dan bahwa ia sangat menginginkan kesempatan ini.
Tembakan Baylie mengenai hati terakhir Kinsley. Sebelum dijatuhkan, Kinsley mengatakan ia bangga pada Baylie dan bahwa Baylie pantas menang. Baylie berteriak kepada orang tuanya bahwa ia berhasil menembak. Dari 100 peserta di awal, Baylie menjadi pemenang piala emas senilai 100.000 dolar. Ia berhasil meskipun sempat merasa berada di posisi terbawah dan dua kali meleset di final.
Lepas penutup mata. Aku jebak 100 orang ini di jebakan terbesar di dunia! Turunin langit-langitnya. Wah!
Dan ini baru jebakan pertama dari lima jebakan besar, kayak arena paintball raksasa ini atau mesin pemutar gila yang super nyebelin. Semuanya didesain buat nguji para peserta sampai batas maksimal. Yang terakhir bertahan, dapat piala unik ini!
Nolan! Jangan biarin pialanya kegencet!
Jelas ini bukan paku beneran, tapi buat bisa kabur dari jebakan pertama, anggap aja ini beneran. Soalnya kalau kamu nggak ngelepas pengait dan keluar sebelum langit-langitnya turun, kamu bakal langsung tereliminasi.
Cepetan keluar! Paku-pakunya makin deket! Kita lihat siapa yang bisa keluar duluan.
Terobos, terobos, terobos, terobos! Ayo, ayo, ayo, ayo! Cepetan, cepetan, cepetan, cepetan, buruan. Buruan! Waktumu hampir habis!
Game-nya selesai! 49 orang udah tereliminasi, dan 51 orang lanjut ke ronde berikutnya! Masih ada empat jebakan lagi, dan kamu nggak bakal nyangka jebakan berikutnya.
Oh ya ampun. Ini gila banget sih. Wah, parah! Parah banget.
Selamat datang di jebakan nomor dua! Sekarang kalian terjebak di dalam arena paintball. 20 orang pertama yang berhasil bertahan, nyebrang garis akhir, dan berdiri di atas ubin bakal lanjut ke jebakan berikutnya!
Kelihatannya pada semangat. Nggak takut sama penjaga yang bawa senjata paintball itu? Enggak! Aku sih takut. Soalnya kalau kena tembak sekali aja, kamu langsung gugur.
Mereka nggak punya cukup peluru buat aku, bro. Iya, dan aku bakal lari di belakang dia aja. Biasanya aku yang nembak balik, tapi nggak ada senjatanya, nggak enak juga.
Dan satu lagi: ketika lampu hijau nyala, mereka bakal berhenti nembak. Oh gitu, lumayan. Kalau aku jadi kalian, ingat baik-baik ya. Semoga beruntung, semuanya!
Oke, siap di garis mulai. Ayo! Kabur dan ngeles, bro! Nomor empat, inget, inget, inget!
Para peserta, kalian siap? Siap! Oke! Tiga, dua, satu, jalan, jalan, jalan!
Mereka langsung heboh banget! Oke, mereka mulai! Astaga! Wah, ada yang kena tembak! Dan satu lagi! Mereka masih nembak! Pelurunya banyak banget, nggak ada tempat aman! Mereka ditembakin abis-abisan.
Kayaknya aku bisa lewat. Berlutut. Target kena.
Tunggu, pintu ini bisa buat tameng! Oh! Dia pakai pintu! Tapi kena juga.
Lihat tuh, ada yang aman di balik van sana. Kita ikutin aja. Pas lampu hijau nyala, kita lari ke garis akhir. Ini bener-bener intens. Aku jalan pas lampu hijau, ya.
Berhenti nembak! Ya ampun, ya ampun, ya ampun! Lampu hijau! Jalan, jalan, jalan! Ke garis akhir, kita bisa!
Ada dua orang yang nyoba nyebrang. Dia berhasil! Oh, nggak! Yang kedua kena tembak!
Masih ada 19 tempat tersisa, dan setelah satu orang berhasil, yang lain mulai berani nyoba juga. Oh, banyak banget yang maju sekarang. Oh, dia kena tembak! Oh ya ampun! Nggak ada yang aman. Ada yang kill streak tuh di atas!
Strateginya gimana nih, guys? Lari pas lampu hijau. Oh, ada selimut! Ayo, ayo, ayo, ayo, ayo! Gas terus!
Wah, pinter banget tuh! Mereka pakai selimut buat tameng! Ayo, ayo, ayo! Mereka nge-distract penembak! Sekarang waktunya lari! Ayo, ayo, ayo!
Mereka hampir sampai! Hampir… Aduh! Kena tembak juga! Fiuh! Aman, aman.
Banyak banget yang udah sampai garis akhir. Aduh, kamu kena tembak, bro. Tapi kamu aman. Santai, aman.
Sepuluh orang udah berhasil, jadi cuma tersisa sepuluh tempat lagi! Yang masih nunggu, harus lari sekarang!
Tahan tembakan! Ayo, ayo, ayo!
Tembak mereka! Tembak!
Oh, mereka ditembakin terus! Tinggal 13 orang, tapi cuma ada 5 tempat tersisa! Kebanyakan mereka ngumpet di balik van. Mereka terkepung. Cuma lima tempat lagi. Dikit lagi!
Jangan tembak! Ayo, ayo, ayo! Mereka lari! Semuanya datang! Semuanya datang! Ini kesempatan terakhir kalian, kasih yang terbaik!
Yes! Tinggal empat slot lagi! Satu. Dua. Tiga. Siapa yang bakal jadi terakhir? Kayaknya aku dapet deh! Aman! Dia aman!
Gas, bro! Kita bakal menang! Kita bakal menang! Ayo! Selamat ya, guys, kalian semua masuk 20 besar! Gas terus! Gas terus! Kalian berhasil! Ayo! Itu yang pengen aku denger!
Jadi gini, coba lihat warna tempat kalian berdiri. Oh, warnanya. Ubin yang kalian pilih tadi penting banget, nanti aku jelasin. Sekarang kita lanjut ke jebakan nomor tiga. Ayo lanjut! Deg-degan lagi nih.
Semuanya, lepas penutup mata kalian. Apa-apaan ini? Ya ampun, gila sih ini.
Selamat datang di jebakan nomor tiga! Sekarang tinggal 20 orang, tapi cuma satu yang bakal menangin piala ini yang terbuat dari emas beneran senilai 100.000 dolar.
Jadi di sini ada jurang dan tali-tali. Kira-kira kalian mau ngapain nih? Mungkin nyeberang.
Nanti aku kasih tahu apa jebakan ketiganya, tapi sebelumnya tiap tim harus pilih satu kapten, dan empat orang lainnya borgol diri kalian ke podium di belakang.
Steven, aku percaya kamu. Kalau kamu pede, aku percaya 100%. Jadi, siapa kaptennya? Steven pastinya! Pink Panthers selamanya, bro! Pink Panthers selamanya!
Dia itu kuat, dia tangguh, dia setia, dia gak bakal ninggalin kita. Refleksnya kayak damkar.
Aku yakin kamu bisa jadi kaptennya. Aku gak masalah kamu jadi kapten. Kamu aja deh. Aku percaya sama kamu, bro. Aku bakal lakuin yang terbaik.
Aku jadi kapten karena awalnya gara-gara tinggi, tapi juga bisa tenang di bawah tekanan. Hitung sampai tiga! Satu! Dua! Tiga! Biru!
Kalau semua udah siap, borgol diri kalian. Gak bisa mundur lagi nih.
Game-nya simpel banget. Kalau kalian bisa nyampe ke platform tengah dan ngeborgol diri ke salah satu dari 12 spot itu, kalian pasti lanjut ke ronde berikutnya. Tapi buat bisa nyampe ke tengah, tiap kapten harus membangun jembatan.
Kalau bisa nyebrang tanpa jatuh, bisa langsung mengunci diri. Atau ambil satu dari 12 kunci itu, kemudian nyebrang balik, dan buka borgol temen kalian. Kalau 12 orang udah keborgol di tengah, game-nya selesai. Sisanya dipastikan gugur.
Kekhawatiran terbesar aku sih kalau gak bisa bantu semua tim nyebrang. Tim yang tersisa ini bener-bener solid. Kita udah sejauh ini. Ya, masih ada peluang kita bakal lolos. Bener banget. Aku percaya sama kamu, bro, sumpah. Aku percaya pada Señor Ruffin.
Semua nyawa anggota tim kalian tergantung di tangan kapten kalian. Kalian yang nentuin siapa yang maju dan siapa yang enggak.
Kalian yang nentuin siapa yang maju dan siapa yang enggak. Ayo gas! Tiga, dua, satu, mulai!
Bangun jembatannya! Dorong. Tiap tim cuma punya lima papan. Kalau jatuh, ya hilang selamanya.
Santai, santai. Pelan-pelan. Kalian udah bagus banget, terusin.
Tim hijau semangat banget. Wah, tim oranye belum dapet satu papan pun. Gak apa-apa, dia bisa tuh.
Yo, pinter banget! Dia muter papannya dan didorong. Oke. Pinter sih, pinter banget. Bener, kayak gitu.
Oke, semua papan siap. Rencananya apa nih? Langsung nyebrang aja. Jembatannya kepanjangan, dan papannya dikit banget. Inget, kalau jatoh, tamat riwayat tim kalian.
Kamu bisa, kamu bisa! Kamu paling depan sekarang, lanjut! Semangat, Tomer! Bagus! Bagus! Bagus!
Tim hijau hampir nyampe duluan! Gila sih! Sekarang pertanyaannya, dia bakal borgol diri dan amankan tempatnya, atau dia ambil salah satu kunci dan balik buat nolongin temennya?
Oh! Oke, yang pertama berhasil! Ayo, lanjut, lanjut! Dan siapa dari timnya yang bakal dia tolong duluan? Ada 20 orang di sini, tapi cuma 12 borgol di tengah.
Lebih cepet, tim oranye! Semuanya udah mulai nyebrang! Pelan-pelan aja, hati-hati. Dia harus balik buat ambil yang ini.
Usaha yang bagus, Steve! Kamu hebat! Sip, mantap bro. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Kalau jatuh, kelar deh.
Oke, tim pink! Ayo! Bagus banget, Steve! Tim hijau hampir ngebuka borgol temen pertamanya. Cepet, ayo cepet buka! Aku temenin? Enggak, enggak.
Kapten hijau kayaknya mau buka borgol semua temennya dulu sebelum mereka mulai nyebrang. Biar nanti dia bisa ambil lebih banyak kunci tanpa ada yang menghalangi.
Waktunya nguji keseimbangan kalian. Kalian udah ketinggalan sedikit.
Oh, tim hijau udah balik lagi, sementara oranye belum nyampe juga. Dia udah ambil kunci kedua, kamu baru dapet yang pertama!
Sekarang semua kapten udah mengambil kunci. Tapi inget, cuma ada 12 kunci di antara 20 orang. Bisa hitung sendiri deh.
Tenang, oke? Jaga detak jantung. Austin jadi orang pertama dari tim pink yang berhasil dibuka. Ayo terus. Ayo terus. Ayo terus. Ayo terus. Kamu udah bagus banget. Ayo terusin!
Tunggu. Ini bakal jadi macet nih. Kaptennya gak bisa lewat karena kehalang. Ayo, ayo, ayo! Ini nih yang Tomer coba hindarin dari awal.
Bagus, bagus banget. Kamu bisa, bro, terusin! Tomer gila sih. Hati-hati, hati-hati…
Tim pink yang pertama berhasil nyebrangin temennya. Ayo! Eh, bentar. Oh! Dia malah bikin kacau! Posisi tim pink serba salah. Guys, sumpah aku gak sengaja nahan kalian.
Pink dapet posisi pertama dari 12 slot, tapi strategi tim hijau yang bikin jembatan tetap kosong bikin kaptennya bisa ngambil kunci lebih banyak dari siapa pun. Dia udah jalan lagi! Ya ampun, liat kelincahannya, keren banget.
Satu lagi, Tomer, kamu bisa! Kamu bisa! Dia udah tiga kali balik, kamu baru dua! Mantap, mantap! Kamu keluar, ayo keluar! Oke, lanjut!
Liat tuh, pinter banget mereka! Nunggu dulu, terus kaptennya jalan super cepat. Aku harus jalan atau nunggu? Udah, biarin Steve yang ngatur.
Oh, tim biru udah balik ke tengah, temennya nyusul dari belakang. Ayo! Gas! Gas! Gas! Gas! Tim biru berhasil amankan posisi pertama mereka!
Tim hijau semangat banget. Harus kerja keras buat bantu tim kalian. Udah gak ada kunci lagi. Udah gak ada kunci. Eh, tunggu, ada satu!
Kamu yakin mau terusin cara pasang papan kayak gitu? Liat jembatan tim oranye. Gak yakin deh kaptennya masih bisa pake itu. Papannya kejauhan! Apa? Papannya kejauhan!
Kayaknya dia gak niat buat balik lagi deh guys. Aku gak yakin kita bisa menang sekarang.
Ayo! Gas, Joseph! Gas! Aku bantuin kamu naik! Sembilan slot tersisa!
Tunggu, tim hijau udah buka semua temennya! Aku udah bilang, Abby, gas terus! Seluruh tim hijau sekarang menuju ke tengah. Slot-nya bakal cepet penuh!
Tim hijau, ayo, terus! Bagus! Cepet. Ayo jalan! Jangan jatuh! Hati-hati, serius deh, jangan jatuh! Wah ini goyang banget! Ayo jalan! Ayo jalan! Pegang tangan aku! Ayo, ayo!
Oh. Ayo semua, cepat! Buruan! Slot-nya udah mau habis! Harus ngapain nih? Ngapain nih? Borgolnya tinggal dikit. Gak usah mikir, langsung jalan aja! Aku gak mau ninggalin kalian.
Lompat aja! Lompat aja! Lompat! Lompat! Ashley! Lari, lari! Aku gak nyampe! Lompat aja! Lompat! Aku gak bisa! Bodo amat! Lari dan lompat aja! Lari dan lompat aja! Lari dan lompat aja! Tidak!
Dia jatuh! Aku kejauhan gak? Tenang, kita bantu. Beneran? Iya, kita bantuin. Makasih, guys. Mau nolongin temen terakhir kamu juga gak?
Woi aku bilang apa! Berhasil! Wah gila, dia berhasil nyebrangin semua tim hijau! Biru dan pink sama-sama dapet tiga. Tapi tim oranye cuma kaptennya doang yang nyampe. Dua hasil yang bener-bener beda.
Wah, gawat tuh bro. Iya, aku harus nebus ini buat tim aku, dan harus ngalahin kapten tim hijau. Dia ancaman nyata sekarang.
Tomer. Kamu emang terbaik. Tetap semangat yah! Bro, kamu nyelametin semua tim kamu! Wooo! Aku gak bohong kan! Aku gak pernah bohong!
Selamat datang di jebakan nomor empat. Ini apaan nih? Wah! Jangan bilang… Kali ini, daripada aku jelasin, mending aku tunjukin langsung. Nyalakan!
Di tantangan ini, setiap ronde, tiga orang harus nunduk dan lompat ngelawan lengan mesin pemutar raksasa ini. Kalau jatuh, langsung gugur. Yang terakhir berdiri, lanjut ke jebakan final.
Gila sih! Iya. Kita bisa nih.
Jadi, Lalo, coba kemari. Dia gak bisa ikut karena alasan medis, jadi kita kasih dia $5.000 dan dia harus mundur dari tantangan.
Makasih ya. Semoga berhasil. Aku percaya kalian bisa. Dah. Dah.
Sekali lagi, kalian semua harus pilih seorang kapten. Jangan liat aku. Iya, terakhir kali tim oranye gagal parah.
Papannya jauh, guys. Yo, tim pink udah nyebrang! Aku gak bisa lanjut lagi pake ini. Ayo!
Tomer yang mimpin tim hijau, dan dia nyelametin kami. Hijau berarti jalan!
Aku rencananya bakal ngatur biar pertandingannya adil buat semua orang. Aku suka idenya.
Kalau mau Tomer jadi kapten, angkat tanganmu. Oke, mayoritas milih Tomer. Karena mereka memilih kamu, aku perlu kamu naik ke platform itu.
Ayo. Boleh aku ke sana sekarang? Silakan! Ya ampun, apa ini!
Sekarang kamu harus mutusin mau main game yang mana. Kamu mau main game ketahanan, game keahlian, atau yang terakhir, game kekuatan?
Atau yang terakhir, game kekuatan? Abis kamu pilih jenis gamenya, kamu bakal pilih dua orang buat dilawan. Yang terakhir bertahan bakal lanjut. Keputusanmu bisa nentuin kamu menang piala seratus ribu dolar itu atau nggak.
Kekuatan, keahlian, atau ketahanan? Kekuatan.
Kamu pilih kekuatan, artinya buat tantangan ini kamu harus pakai rompi pemberat ini. Aku punya dua rompi, siapa yang harus aku kasih?
Aku pilih dua orang ini karena aku mau tantangan. Kalau aku bisa ngalahin mereka, mereka nggak ada di tantangan berikutnya.
Byan. Steven. Wah!
Jebakan ini bakal jalan empat ronde, jadi cuma empat orang yang bakal lanjut ke jebakan terakhir. Inilah peserta resmi ronde pertama.
Mereka jauh lebih muda dariku, tapi aku yakin banget, seratus persen, bahwa aku bakal menang.
Dia salah pilih aku kalau dia mau menang. Itu suara orang yang kurang pengalaman. Whoa!
Oke. Tiga! Dua! Satu! Putar!
Wah, hampir aja keluar di putaran pertama! Oke, mereka mulai. Sejauh ini belum ada yang jatuh. Kita terus main sampai tinggal satu orang bertahan! Ini membawa kita ke selangkah lebih dekat ke empat besar!
Kamu bisa, Tomer! Kamu bisa! Lebih susah dari kelihatannya, harus jaga keseimbangan! Nggak ada ruang buat salah di sini.
Ayo, kamu bisa. Tarik napas. Ayo! Ayo! Steven mulai capek! Steven mulai capek! Aduh. Ya ampun, bangun, bangun, bangun, bangun!
Kita dapet eliminasi pertama, ya ampun! Kamu bisa, Tomer! Ayo! Kamu bisa! Tomer, ayo fokus!
Tomer, kamu capek? Iya! Seberapa pengen kamu masuk ke empat besar?
Wah, wah, hampir aja! Ya ampun… Sekarang makin cepet! Rompi pemberat itu bikin tantangan makin susah banget. Byan kelihatan capek.
Tomer, kamu pemenangnya! Selamat! Kamu masuk ke empat besar! Untung kita milih dia. Ya, gak?
Sebelum kamu turun dari platform itu, aku perlu kamu tunjuk kapten selanjutnya. Terserah kamu.
Tomer. Kita bantuin! Iya, kita bantuin. Aku pilih Baylie.
Oke, dia kapten berikutnya! Kamu mau main apa nih? Ketahanan, kekuatan, atau keahlian? Keahlian.
Kalian masing-masing bakal dikasih satu mangkuk isi 75 bola ping pong. Kalian harus bertahan di jebakan yang muter sambil megang mangkuk itu. Yang paling banyak bolanya setelah dua menit, atau yang terakhir berdiri, bakal menang.
Kamu mau lawan siapa? T. Ruffin. Dia milih musuh teman-temannya.
Aku harus ngalahin kapten tim hijau. Dan… Julian.
Dan mantan temen satu timnya. Wah, ini bakal seru banget. Hei! Mulai rondenya!
Oh, oh! Ya ampun! T. Ruffin jatuh! Langsung jatuh! Serius? Wah, woah! Bangun! Ayo Baylie!
Wah, wah, dia menang! Kamu masuk empat besar. Selamat!
Baylie, kamu udah ngalahin kapten oranye dan temen satu tim hijau kamu. Tujuh pemain tersisa. Siapa yang kamu pilih jadi kapten berikutnya? Austin.
Keahlian, kekuatan, atau ketahanan? Aku pilih kekuatan. Kamu mau lawan siapa? Joseph dan Matt, ayo.
Kenapa nggak pilih dua yang ini? Penasaran aja.
Waktu yang lain lagi tanding, dari awal kami udah bilang ini yang pengen kami lakuin… Bakal ada dua cewek di final. Dan aku pegang kata-kataku.
Guys, kalian siap? Siap! Nggak. Mulai muter.
Ayo, Austin! Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oke! Dia cuma tahan sekitar lima detik.
Iya! Keren banget.
Soalnya kami pake Slack buat brainstorming dan nge-plot semua jebakan gila di video ini, kayak mesin muter raksasa ini. Wah, gila sih!
Sebenernya banyak ide gila kami itu direncanain dan diatur dulu di canvas Slack sebelum kami rekam.
Ini sih bisa seharian!
Bertahun-tahun kami rencanain semua video pake Slack. Ingat Beast Games, acara kompetisi terbesar di sejarah? Itu juga direncanain di Slack. Semua yang kami produksi, kami pakai Slack buat mewujudkannya.
Apapun kebutuhan tempat kerjamu, baik mengatur rapat, atur alur kerja, atau apa pun buat jalanin bisnis, Slack sempurna buat itu.
Terusin, terusin!
Dan biar makin seru, kami ngasih hadiah 100.000 dolar ke sepuluh orang secara random, masing-masing 10.000 dolar. Jadi, liat gimana kami pakai Slack buat bantu bikin video ini dan ikutan buat peluang menang 10.000 dolar! Kunjungi Slack.com/MrBeast atau scan kode QR.
Ayo! Ayo, kamu bisa! Kamu bisa! Matt bisa! Dia akan ambruk! Oh! Hei! Oke, wow! Selamat, kamu bisa lanjut!
Kalian berdua siap? Iya. Kalian masih harus pilih kapten nih.
Waktu di tim biru sama Kinsley, dia kaptennya. Dia bukain borgolku dan bantu aku nyebrang. Kinsley!
Oke, Kinsley jadi kaptennya, maju ke sini! Kinsley versus Abby. Game-nya apa nih, Kinsley?
Buat aku gampang pilihnya. Kita pilih ketahanan. Nyalain! Oke, mulai.
Wah, mereka fokus banget! Mereka pada diam, guys! Oke, Abby mulai dapet ritmenya. Siapa yang bakal ambil slot keempat di game final?
Oh! Dia hampir jatuh! Ini bisa jadi puncaknya, Kinsley! Hampir banget! Bangun, bangun, bangun, bangun!
Kamu menang! Selamat datang di empat besar! Yeah! Ayo ke jebakan final!
Lepas penutup mata! Ya ampun. Apa-apaan nih?
Selamat datang di jebakan final. Salah satu dari kalian bakal menangin piala 100.000 dolar ini di depan ratusan juta orang.
Aku gak tau harus mikir apa, bro.
Jebakan finalnya simpel banget. Di depan kalian ada tiga hati kaca. Kalian bergiliran turun ke sini dan nembakin meriam ini ke hati kaca siapa pun yang mau kalian targetin.
Aduh. Bro, itu kejam banget.
Begitu semua tiga hati kaca kamu hancur, kamu gugur. Yang terakhir bertahan, menang piala emas 100.000 dolar ini. Kamu bisa eliminasi orang lain, atau kamu yang akan tereliminasi. Ini kamu melawan mereka.
Itu kejam banget. Kita sebenernya gak musuhan. Semangat buat kalian. Semangat. Kalian juga semangat.
Tomer pemenang pertamanya. Karena itulah, dia menjadi orang pertama yang bakal menembak meriam ke hati seseorang.
Rencanaku jadi rusak. Sebenarnya aku cuma pengen seneng-seneng, sekarang aku harus nyakitin orang.
Strategi kamu apa nih di sini? Menurutku kami harus saling bantai aja. Karena situasinya begitu.
Whoa! Si cowok baik mau ngelakuin pembantaian! Kata dia, bantai aja, guys.
Kalau dia nembak salah satu hati kamu, Kinsley, kamu bakal nembak balik ke dia apa nggak? Kamu tenang aja, aku ini jago ngebidik! Kok yakin banget?
Aku suka berburu, dan itu keliatannya kayak senapan.
Ya ampun. Oke. Nyalain meriamnya! Oh, ya ampun! Coba geser. Apa?
Oke, semuanya liat ke sini. Oke. Kalian bakal liat meriamnya bekerja. Tunggu. Dia langsung geser ke kanan.
Kinsley, perasaan kamu gimana? Jangan, ke sana aja. Ke sana aja.
Aku harus ngeluarin Kinsley. Dia pemburu. Kenapa harus dibiarin? Dia ancaman. Ancaman buatku.
Dengerin aku, Tomer. Aku sebenernya gak jago banget nembak. Itu bukan senapan. Jujur, aku mungkin bakal meleset, dan aku bantu milih kamu buat posisi pertama itu. Aku bantu jadiin kamu kapten pertama kali.
Jangan ngelakuin ini!
Nggak mungkin! Ya ampun! Satu tembakan, satu hati pecah. Lakuin yang perlu aja.
Baylie, ayo kemari.
Aku lagi ngerasa takut banget. Aku ada di posisi bawah. Gak cuma karena terakhir, tapi karena satu hatiku udah hancur.
Ini meriam kamu. Kamu bisa geser ke sini, ke arah Tomer. Bisa geser ke arah Joseph atau Kinsley.
Oke. Tomer, kenapa aku harus nggak nembak kamu? Tahu sendiri lah! Boleh juga. Joseph.
Jujur, aku agak sakit hati. Kenapa nunjuk aku? Soalnya kamu gak mau commit ke rencana. Rencana dia supaya semua ngincer kamu. Kamu yakin? Iya.
Ini cuma game. Jangan… Kamu juga kepikiran kok. Gimana perasaanmu tentang itu? Yang bisa aku bilang, kata-kataku itu harga mati, sebagai pria sejati.
Tanpa ragu, dia geser ke kanan. Oke. Sedikit sejajar sama Joseph. Oke. Sekarang dia nargetin Tomer.
Ayolah, Baylie, kamu gak perlu ngelakuin ini! Oke, balik ke Joseph.
Oh, dan dia meleset! Dia nembak Joseph tapi meleset. Astaga! Tong kosong nyaring bunyinya.
Aku nembak di bawah hati Joseph yang paling bawah. Aku nembak ke tanah.
Jujur aja deh, kamu barusan meleset, kamu berencana ngeluarin dia? Oh, iya. Oke. Cuma mau pastiin aja. Iya. Iya. Oke. Sekarang mulai seru nih!
Saatnya wild card. Orang yang kayaknya susah buat ditebak. Joseph.
Ada pesan terakhir? Wah. Itu kedengeran benar-benar jahat, ya. Ya ampun. Aku gak nembak kamu! Atau cuma meleset? Apakah Joseph bakal ngebalas?
Oh! Ya ampun! Udah kubilang kan. Joseph nembak balik ke Baylie!
Dia kesel karena aku nunjuk dia. Dan Tomer itu ancaman terbesar. Tapi sekarang nggak lagi.
Aku nggak nyaman harus nembak Joseph. Rasanya kayak pengkhianatan.
Kinsley, giliranmu. Habisi dia.
Kita mulai dari sini. Oh, dia udah mulai narik. Aku gak sabar denger apa yang dia bilang.
Joseph, jujur aja ya. Ini nyakitin. Jangan ke aku! Aku harus mulai ambil keputusan lebih strategis. Sekarang aku nargetin kamu. Maaf, Joseph.
Oh, dia lagi ngebidik, guys.
Ya ampun, bro! Dia nembak salah satu hati Joseph. Entah gimana, semuanya kecuali Tomer udah kehilangan satu nyawa.
Strateginya sih, bukan keputusan terbaik. Tomer pasti bakal ngehabisin kita semua. Mulai ronde keduanya.
Kamu harus ngerti, bro. Aku harus mastiin kalau aku ngutamain aku, aku, dan diriku sendiri.
Baylie, ayo kemari.
Hai, Joseph. Makasih udah nembak aku tadi. Kamu bakal bayar lunas nanti.
Tomer itu target paling besar. Kalau aku keluar, gak ada yang bisa nahan dia. Dia satu-satunya yang masih punya tiga hati.
Ya, dia udah nembak. Dan sia-sia, lagi. Dia memang kena hati Joseph, tapi itu udah nggak berlaku lagi. Mereka coba ngeluarin Joseph. Sekarang dia dapat kesempatan.
Tunggu, kamu mau nembak siapa? Kayaknya kamu nargetin Tomer, ya. Gak tau bisa atau nggak.
Dia kena. Dia kena. Astaga! Sekarang semuanya udah kehilangan satu hati. Dan Kinsley lagi nargetin hati terakhir Joseph.
Oke, aku ada feeling bagus nih. Oke, mulai deh.
Waduh, awas, awas. Awas! Peluru mantul! Hampir aja kena kameramen kita. Tujuan kita tuh kena hati, bukan kameramen, kali.
Apakah Tomer yang akan nembak hati terakhir Joseph dan berlanjut ke tiga besar? Kamu mau bilang sesuatu, Joseph? Lakuin aja. Lakukan aja. Oh!
Joseph, kamu tereliminasi. Permainan seru.
Nggak, nggak, nggak, itu bukan cara kamu keluar. Nah, berdiri di tengah kandangmu. Jatuhin dia!
Ngomong-ngomong, Baylie, giliranmu. Baylie, ini mungkin tembakan paling penting dalam hidupmu.
Tunggu, sebelum kamu nembak, sebelum kamu nembak. Kalian mau nyobain Feastables Caramel Chocolate Bar terbaru kami, gak? Mau! Majd, kasih mereka. Masing-masing dapat satu. Makasih.
Bertahun-tahun kalian terus-terusan minta kami ngeluarin cokelat karamel. Nah, permintaan kalian akhirnya terkabul. Cokelat karamel baru ini udah tersedia di Walmart, Target, dan Albertsons.
Gila sih. Enak banget ini.
Aku sempet bikin survei rasa apa yang harus kita luncurin, dan lebih dari 250.000 orang milih karamel. Ya ampun. Dan mereka bener. Cokelat karamelnya udah tersedia. Cobain deh.
Kalau gitu, kembali ke game.
Baylie, jangan lakuin itu. Dengerin. Baylie. Kalau kamu nembak aku, aku keluar, Tomer bakal langsung ngalahin kamu. Kamu nggak mau lawan aku? Maksudku, kamu bisa di tahap ini berkat aku. Aku yang narik kamu dari jurang tadi. Kita bantu. Beneran?
Baylie, Baylie, Baylie, Baylie, Baylie. Baylie! Ayo, mikir dulu. Aku bakal cat merah rambutku. Baylie!
Oh, dia meleset! Dia meleset! Ini bakal malu banget pas videonya keluar. Gak ngerti sih gimana dia bisa gitu. Iya, itu lumayan menarik sih. Meriamnya ada di depan dia.
Aku cuma berharap Baylie nembaknya jelek, itu aja harapanku.
100.000 dolar taruhannya. Gak usah tegang ya. Setiap tembakan berharga. Aku gemetaran dikit nih.
Tomer, giliran kamu. Lho, kamu gak mau liat nih? Kayaknya aku gak mau ngeliat ini deh. Kamu aman. Mereka imbang. Kinsley, kamu gak mau liat?
Oh, dia kena! Dia kena! Ya ampun! Mantap. Wah, dia ngedominasi nih.
100.000 dolar gara-gara aku nembak jelek.
Awalnya ada 100 peserta di video ini. Kamu udah sampai tiga besar, dan dia bisa ngeluarin kamu sekarang juga. Baylie, keputusan di tanganmu.
Tapi jujur aja, menurutku sih ngelawan Tomer satu lawan satu kayaknya bukan ide bagus deh. Ya ampun, ini susah. Kamu harus lakuin yang perlu dilakuin.
Ya! Ya! Ya! Ya! Baylie, kalau kamu nembak dia, aku bakal cat jenggotku semerah bajumu.
Pastiin keputusanmu bener-bener yang kamu mau ya. Dia di sini buat 100.000 dolar, bukan buat ngecat jenggotmu. Yah, pacarku yang bakal ngecat jenggotku. Ayolah, bro.
Ayo! Suka-suka deh.
Ayo. Ayo.
Ya ampun! Kamu kenain hati kedua Tomer!
Dia geleng-geleng kepala. Kelihatannya kesel.
Yah, ini kan udah final. Aku harus lakuin yang terbaik buat diriku.
Dia meleset? Meleset! Meleset! Meleset! Meleset! Meleset!
Baylie, kamu tinggal tembak Tomer, dan aku juga nembak Tomer, oke?
Oh gitu? Baylie, yang bener aja. Baylie.
Oh! Tembakan pertama kamu yang kena!
Tomer, maaf banget!
Tomer, maaf ya, bro. Kamu tuh orang yang luar biasa dari awal. Serius. Senang banget bisa kenal dan main bareng kamu.
Tomer, maaf ya. Maaf banget. Ini cuma game.
Ada pesan terakhir, Tomer?
Panjang umur dan sejahtera.
Jatuhin dia!
Oh, dia masih jatuh tuh.
Tinggal Baylie dengan dua hati dan Kinsley dengan satu hati tersisa. Sekarang giliran Kinsley menembak.
Cuma game, Baylie.
Tenang aja. Aku ngerti ini cuma game.
Oh, langsung kena! Sekarang imbang!
Ayo!
Gimana rasanya? Deg-degan banget.
Sisa satu hati. Ini bener-bener game yang bikin tegang. Aku tuh bener-bener pengen banget punya kesempatan kali ini.
Apakah ini akhirnya?
Cuma game ya, Baylie, tapi kalau kamu meleset, aku bakal ngeluarin kamu.
Tembakan ini bisa nentuin apakah Baylie menang piala emas 100.000 dolar.
Semoga beruntung, Kinsley.
Aku gak sanggup liat kamu.
Nggak kena, nggak kena, nggak kena, nggak kena, nggak kena.
Ya ampun. Dia berhasil! Dia berhasil! Dia berhasil! Dia berhasil!
Kenapa aku pegang ini? Ini punya kamu. Selamat ya… Oh! Aku ucapin selamat!
Aah! Aah! Ya ampun!
Selamat! Mama, Papa! Aku berhasil nembak!
Ada pesan terakhir sebelum kamu dijatuhin?
Bangga sama kamu, Baylie. Kamu pantas menang dan dapetin itu.
Jatuhin dia!
Ya ampun, aku menang! Aaaah!
Kamu menang! Guys, jangan lupa subscribe kalau belum. Ya ampun! Sampai jumpa!
Jangan pingsan ya. Oke. Enggak, enggak. Aku gak pingsan kok. Aku baik-baik aja.
Artikel diterbitkan
