Tujuh Hari Terdampar di Rakit: Badai, Air Terkontaminasi, dan Seekor Burung Bernama Bryan

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Video ini merekam tantangan lima orang yang terdampar di sebuah rakit kayu di tengah laut selama tujuh hari. Kapal yang mengantar mereka langsung pergi, dan mereka hanya bisa mengandalkan perbekalan di atas rakit. Narator, yang dipanggil Jimmy oleh teman-temannya dan mengaku membiayai rakit itu, sejak awal menyebut tantangan ini "brutal". Teman-temannya yang muncul di video adalah Chris, Nolan, Tareq, dan Lazar (LazarBeam). Di sepanjang video, pertanyaan utamanya sederhana: apakah mereka sanggup bertahan sampai hari ketujuh? Jawabannya baru terlihat di akhir. Mereka berhasil, tetapi dengan susah payah.

11 menit baca
0:35

Hari pertama: tempat berteduh darurat dan kedatangan Bryan

Prioritas pertama adalah tempat berteduh. Menurut narator, tanpa naungan mereka akan terbakar matahari. Rakit sudah dilengkapi kayu, tali, dan alat lain untuk membangun tempat perlindungan. Hari itu juga tampak buruk sejak awal. Awan menandakan badai akan datang, sehingga mereka merasa memilih "hari terburuk" untuk memulai. Struktur pertama didirikan seperti tenda kerucut, dan proses membangunnya sudah diwarnai cedera kecil, yaitu jari yang terjepit.

Di tengah pekerjaan itu seekor burung mendarat di rakit. Mereka memberinya nama Bryan. Bryan kemudian menjadi semacam maskot sepanjang video, sampai ada candaan agar Bryan disuruh menangkap ikan. Tidak semua orang bekerja hari itu. Narator menyebut Tareq menghabiskan hari dengan membuat rekaman drone, dan narator mengaku tidak marah karenanya.

Perbekalan juga diperlihatkan. Ada satu peti berisi makanan untuk lima orang selama tujuh hari dan dua gentong air minum untuk mereka berlima. Airnya panas dan bahkan ada pasir di gelas. Peti bertuliskan "tidur" ternyata berisi alas tidur yang basah.

Malam pertama berjalan sangat buruk. Tempat berteduhnya panas, rakit terus bergoyang sampai ada yang mual, dan mereka berdesakan dengan sesama yang berkeringat. Ada yang bertanya-tanya, kalau baunya sudah separah ini di hari pertama, bagaimana nanti di hari ketujuh? Mereka menggambarkan tidur malam itu sebagai hal yang mustahil. Paginya, Bryan terbang meninggalkan mereka.

3:00

Hari kedua: hujan, pertengkaran, dan bangunan permanen

Target hari kedua adalah membangun tempat perlindungan permanen yang tahan cuaca. Narator mengatakan ia sudah meminta agar rakit diisi banyak kayu, dan menurut pihak penyedia jumlahnya cukup untuk membangun rumah, meski ia sendiri tidak yakin caranya. Begitu mereka mulai bekerja, hujan turun. Suasana memanas. Nolan dimarahi karena dianggap tidak mendengarkan, dan ada yang terang-terangan berteriak ingin memukul Nolan.

Masalah dasar juga mulai disadari, misalnya di mana mereka harus buang air besar. Mereka harus membuat semuanya sendiri, termasuk toilet, tempat berlindung, dan perapian. Setelah hujan reda, struktur pertama dibongkar untuk diganti yang lebih baik. Pekerjaan berjalan lambat karena beberapa orang mabuk laut. Chris butuh istirahat, ada yang mengaku menyerah karena mual, dan muncul keluhan bahwa ada "dua pemalas" yang hanya rebahan. Meski begitu, narator menegaskan semua harus ikut bekerja kalau bangunan ingin selesai.

Di sela pekerjaan mereka melihat seekor paus, momen yang bagi mereka "terasa tidak nyata". Seseorang juga membuat tangga dalam empat menit untuk memudahkan pembangunan. Setelah beberapa jam, kemah akhirnya tertata tepat saat matahari terbenam.

Pada titik ini narator mulai menyesal membuat tantangan tujuh hari, bukan tantangan 50 jam seperti video mereka yang lain, karena goyangan rakit terus membuatnya mual. Malam kedua dijalani dengan kasur yang masih rusak. Seseorang yang membuat vlog tidak sengaja membangunkan Lazar dan menyebut ini hal paling melelahkan yang pernah ia rasakan.

5:50

Hari ketiga: air menipis dan memancing yang gagal

Bangunan mereka tidak runtuh, dan itu dianggap sebagai kemenangan, walaupun suara derit bangunannya sempat membuat seseorang mimpi buruk. Mereka mulai menemukan ritme. Ada rutinitas pagi seperti buang air kecil di satu pojok rakit, sarapan, dan minum air panas dari gentong.

Perhitungan air mulai mengkhawatirkan. Dalam 36 jam, hampir setengah isi satu gentong sudah habis. Dengan laju itu, mereka memperkirakan air akan habis pada hari keenam. Kekurangan air dan makanan membuat mereka ingin melihat apa yang ada di bawah rakit. Ternyata di sana ada banyak sekali ikan, jadi mereka mencoba memancing untuk makan malam. Setelah berjam-jam mereka tidak mendapat apa-apa, dan seseorang menyimpulkan memancing jauh lebih sulit daripada yang terlihat di YouTube.

Karena lelah, haus, dan lapar, mereka terpaksa membuka ransum. Dengan kayu bakar dan panci dari perbekalan, mereka menyalakan api. Caranya adalah membelah kayu besar menjadi kecil, lalu menyalakan dari kayu kecil ke sedang hingga ke besar. Mereka memasak kacang merah kalengan dengan tomat. Itu makanan hangat pertama dalam beberapa hari, dan mereka menyambutnya dengan sangat antusias. Tetapi makan seperti itu mengurangi jatah ransum, jadi mereka harus benar-benar menikmatinya. Ada yang merasa dua hari pertama adalah yang terburuk dan mereka mulai terbiasa. Ada juga yang mengaku masih belum bisa buang air besar, sulit tidur karena goyangan rakit, dan merasa menderita.

8:13

Hari keempat: kerusakan, ketegangan, dan air yang terkontaminasi

Malam itu tidak ada yang bisa tidur, dan bagian belakang bangunan mereka hilang. Ketegangan pagi itu tinggi. Nolan kesal dan merusak ranjangnya sendiri. Petir mulai terlihat, dan seseorang berkata tidak akan tahan kalau hujan turun lagi.

Lalu terjadi insiden yang lebih serius. Sebuah sendok tidak sengaja jatuh ke air minum. Karena tidak ada yang mandi, mengambil sendok itu dengan tangan berarti mencemari airnya. Akibatnya, menurut narasi, sepertiga persediaan air mereka tidak bisa diminum lagi.

Di bagian ini narator juga berkomentar tentang kontennya sendiri. Entah mengapa, katanya, semakin ia menderita, semakin banyak yang menonton. Ia menyebut beberapa video mereka yang paling populer adalah saat ia dikubur hidup-hidup dan menghabiskan waktu di ruang isolasi. Dengan nada setengah bercanda ia berkata, "semoga kalian senang, aku menderita lagi."

Hari keempat juga diwarnai momen konyol. Setelah empat hari, Lazar akhirnya berhasil buang air besar, dan teman-temannya merayakannya dengan lagu.

9:20

Badai terbesar: 20 jam hujan tanpa henti

Awan gelap terlihat mendekat, dan mereka belum tahu bahwa itu adalah badai terbesar sepanjang tantangan. Mereka bersiap sebisanya. Tareq memperbaiki pinggiran bangunan, Chris memperbaiki atap, dan narator justru menjadi juru kamera. Angin makin kencang, rakit makin keras bergoyang, dan paku habis. Seseorang meminta Jimmy ikut membantu, dan Jimmy menjawab bahwa dialah yang membayar rakit itu.

Malam itu badai menguji tempat perlindungan mereka, dan hasilnya buruk. Atap bocor, air ada di mana-mana, dan seseorang menyebut tempat perlindungan itu "kebalikan dari antibocor". Sebuah lubang besar terbuka tepat di atas kasur salah satu dari mereka. Ada yang berkata mereka sebetulnya bisa saja merekam semua ini di studio, tetapi mereka memilih menjadi channel "yang tidak menipu". Ada juga yang meminta Jimmy mengakhiri video, sementara yang lain menyebutnya pengalaman terburuk dalam hidupnya.

Karena putus asa, mereka memakai kasur sebagai pelindung dari hujan. Narator mengaku saat itu ia tidak yakin mereka sanggup bertahan sampai tujuh hari penuh. Hujan disebut turun sekitar 20 jam nonstop. Mereka kedinginan, ada yang pusing, dan mereka berdiri semalaman dalam keadaan basah kuyup.

12:16

Setelah badai: memperbaiki kemah dan kehilangan makanan

Esoknya, dalam keadaan lelah, mereka harus mengeringkan perbekalan dan membangun ulang kemah. Seseorang menilai tantangan ini lebih berat daripada video di Antartika dan video di gurun pasir. Kayu perapian basah sehingga malam itu mereka tidak bisa menyalakan api dan tidak makan malam. Semua makanan juga basah, dan hanya sebagian yang masih bisa dimakan. Salah satu dari mereka merenung bahwa dulu mereka punya stabilitas, ada makanan dan kasur kering, tetapi semuanya dianggap remeh.

Supaya tidak mengulang malam sebelumnya, mereka membuat kemah tahan air dengan memotong dan mengikat plastik, sambil menyisakan jalur udara di pinggir. Muncul perdebatan kecil: lebih baik kepanasan tapi kering, atau dingin tapi basah? Mereka juga membuat semacam jemuran raksasa agar barang basah bisa kering dan besok mereka punya handuk kering. Setelah selesai, mereka begitu kelelahan sampai menghabiskan hari dengan tidur. Ketika bangun, Bryan kembali. Lima hari terkurung bersama teman-temannya membuat narator mengaku merindukan burung itu. Teman-temannya menimpali bahwa Bryan sudah "move on".

13:48

Hari keenam: sisa dua hari, panas terik, dan ubur-ubur

Dengan dua hari tersisa, situasinya mereka gambarkan sebagai makanan habis dan air terkontaminasi. Ada yang berkata ia "mulai gila" dan nyaris tumbang secara mental karena menggigil semalaman tanpa bisa tidur. Ember kotoran juga sangat bau. Narator kembali menyebut keputusan membuat tantangan tujuh hari sebagai keputusan buruk.

Ada kabar baik. Kemah tahan air yang mereka buat ternyata berhasil. Hujan sempat turun sekitar pukul 4 pagi, tetapi seseorang hanya kecipratan sedikit, sementara yang lain bahkan tidak sadar hujan turun dan menyebutnya tidur paling nyenyak. Narator menilai ini tantangan paling sulit yang pernah mereka lakukan. Menurutnya, menambah lima hari dibanding tantangan 50 jam benar-benar membuat semuanya jauh lebih berat, meski ia juga merasa mengarungi laut di atas rakit itu cukup luar biasa.

Setelah dua malam menggigil, cuaca berbalik menjadi panas terik. Sebagian dari mereka berenang untuk mendinginkan diri, sebagian lagi mencari cara lain untuk merasakan angin sejuk. Lalu seseorang disengat ubur-ubur dan kakinya meninggalkan memar serta bekas merah. Ada yang bertanya, "Kenapa laut begitu membenci kita?" Dek terlalu panas untuk diinjak, dan ada yang mengeluh sampai berkata tidak ingin hidup karena kepanasan.

15:46

Malam terakhir dan penjemputan

Saat matahari terbenam dengan sisa waktu kurang dari 24 jam, mereka mulai optimis. Narator berkata pengalaman ini membuatnya lebih menghargai hal-hal yang biasa dianggap remeh, seperti shower, makanan, dan toilet yang berfungsi, karena ia tidak mau lagi buang air besar di ember. Ada candaan soal kursi yang rusak dan kecurigaan bahwa Jimmy memakan semua ransum. Pada malam terakhir mereka saling menggoda soal tidur berdesakan, ada yang senang akhirnya bisa tidur sendiri, ada yang mengaku akan rindu.

Pagi hari terakhir, Bryan datang bersama burung-burung lain yang mereka sebut keluarganya, seolah untuk berpamitan. Mereka menanggapinya setengah haru, setengah bercanda. Ada yang bilang Bryan menjaga mereka saat kemah rusak, dan ada pula yang bilang mungkin ia hanya burung bodoh. Mereka sepakat punya banyak kenangan gila di rakit itu, tetapi dua orang berkata kenangan terbaik mereka adalah meninggalkan rakit.

Narator menyebut mereka menghabiskan lebih dari 150 jam di atas rakit. Menurutnya, meski itu hal tersulit yang pernah ia lakukan, ia dan teman-temannya tetap bersenang-senang. Video ditutup saat kapal penjemput akhirnya terlihat. Mereka berteriak memberi sinyal, mengeluhkan kapal yang bergerak lambat, lalu meninggalkan rakit.