Apakah "Biryani Supervisi Erick South" dari 7-Eleven Jadi Jauh Lebih Enak Jika Dipanaskan Terbalik?: Uji Rasa Ryuji dan Resep Versi Rumahan

Diterjemahkan dari 日本語

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Video ini menampilkan peneliti kuliner Ryuji yang mengulas biryani hasil supervisi Erick South yang sedang ramai dibicarakan di 7-Eleven. Ia menguji apakah "cara makan paling enak" yang diperkenalkan oleh sang supervisor, Inada, benar-benar berbeda dibandingkan cara memanaskan biasa. Setelah itu, dengan alasan bahwa biryani bisa dibuat dengan mudah di rumah asalkan tersedia beras basmati, ia memperagakan resep tiruannya. Belakangan ini Ryuji sedang keranjingan biryani dan membuatnya hampir setiap hari, dan penilaiannya kali ini pun bertolak dari pengalaman tersebut.

15 menit baca
1:24

Penilaian terhadap Supervisor Inada dan Pandangan tentang Penyedap Umami

Ryuji pernah memakan biryani 7-Eleven sebelumnya, dan menurutnya saat itu pun rasanya enak. Ia memperkenalkan Erick South, yang menjadi supervisor produk ini, sebagai restoran yang "terkenal banget" dan semacam batu loncatan dalam dunia kari. Meskipun Inada adalah koki kari rempah, ia sangat menyukai makanan minimarket dan makanan restoran berantai serta sering memakannya. Karena itu, menurut penilaian Ryuji, jika Inada diminta menyupervisi produk semacam ini, hasilnya pasti enak.

Inada berpandangan positif terhadap penyedap kimia, dan produk ini pun mengandung penyedap umami. Ryuji berkata, "Jadi ini bukan biryani yang sebenarnya, mungkin ya," tetapi ia menunjukkan pemahaman atas keputusan tersebut: jika dijual dalam ukuran seperti ini, tanpa penyedap umami rasanya tidak akan sampai dianggap enak sebagai produk minimarket. Soal harga, di bagian akhir Ryuji menyebut Rp—tepatnya 758 yen termasuk pajak, dan berkomentar bahwa harganya "lumayan juga".

2:32

Penilaian dengan Cara Memanaskan Biasa: Titik Kompromi "untuk Pemula Biryani"

Pertama, ia memanaskannya dengan microwave seperti biasa selama 3 menit lalu memakannya. Isinya berupa carrot rapée, rapée kubis ungu, kentang, dua potong ayam bertulang, dan sesuatu yang tampaknya bawang bombai tumis, sementara nasinya terasa pera dan terpisah-pisah. Ryuji menilai, "Untuk makanan minimarket, kesan basmatinya terasa." Tekstur nasinya yang panjang sangat enak, tetapi menurutnya agak terlalu berair. Pedasnya hanya sedikit menggigit, dan ayam bertulangnya cenderung agak kering. Kari yang disiramkan di atasnya cukup mirip kari biasa, dan ia menyebutnya bukan biryani autentik, melainkan "biryani untuk orang yang membeli di minimarket".

Seorang staf bertanya apakah biryani di restoran India juga disiram kari di atasnya. Ryuji menjawab bahwa cukup banyak restoran yang tidak menyiramkannya, dan gravy (saus kari) umumnya dicampurkan ke dalam nasi. Selain itu, ia juga menyinggung bahwa kalorinya sekitar 500 kkal untuk porsi sebanyak itu, dan rasa kapulaga serta rempah lainnya terasa jelas. Ia menyimpulkan bahwa untuk ukuran minimarket, kualitas ini sudah lebih dari cukup. Staf yang ikut mencicipi juga berpendapat bahwa rasanya tidak terlalu pedas tetapi aroma rempahnya terasa, seperti bubuk kari yang ditambah cabai.

Penilaian keseluruhan Ryuji adalah "biryani pemula". Karena dirinya sekarang sudah sedikit "tingkat menengah", ia merasa ada yang kurang, tetapi orang yang tidak tahu apa itu biryani pasti akan merasa ini sangat enak, dan karena kebanyakan orang belum terbiasa makan biryani, inilah jawaban yang tepat. Jika aromanya lebih khas, akan ada orang yang tidak bisa memakannya, sehingga menurut pandangannya Inada telah menemukan "titik kompromi yang sangat bagus".

6:10

"Kelezatan Biryani Hampir Seluruhnya Ada pada Beras Basmati"

Tentang mengapa ia bisa menilai sedetail ini, Ryuji menjelaskan bahwa itu karena ia sekarang membuat biryani setiap hari. Ia lalu mengatakan bahwa kelezatan biryani hampir seluruhnya ditentukan oleh beras basmati. Karena ia makan beras basmati setiap hari di rumah, tampaknya ia jadi menilai, "Oh, beras basmati versi minimarket seperti ini rupanya."

Ketika staf bertanya bagaimana jika hidangan yang sama dibuat dengan beras biasa, ia langsung menjawab, "Pasti nggak enak." Produk ini pun, menurutnya, lebih bersifat sebagai kari yang dimakan dengan beras basmati. Ia juga menambahkan bahwa beras basmati mudah dibeli di Amazon atau Kaldi, dan memberi bocoran bahwa "biryani ayam pemula" setingkat ini bisa dibuat dengan gampang banget, bahkan dengan bubuk kari biasa.

7:34

Dipanaskan Terbalik, Nilainya Naik Jadi A+

Berikutnya, ia mencoba metode yang diperkenalkan Inada. Caranya, wadah dibalik, bagian dasarnya dilubangi, lalu dipanaskan di microwave sedikit lebih lama; kali ini ia memanaskannya sekitar 3 menit pada 600W. Karena tertulis bahwa sebaiknya dimakan dalam keadaan terbalik, ia memakannya begitu saja sambil mengaduknya.

Pada suapan pertama, Ryuji terkejut dan berkata, "Beda banget," serta menyebut aromanya jauh lebih baik. Ia bahkan berkata, "Harusnya 7-Eleven merekomendasikan cara ini," dan "Yang ini jauh lebih enak," dan staf pun setuju, "Yang ini lebih enak," "Aromanya keluar."

Ryuji menjelaskan alasannya sebagai dugaan. Jika dipanaskan dengan kari di atas, mungkin aroma karinya justru menguap keluar. Jika karinya ada di bawah, aromanya ikut berpindah ke nasi bersama uap sehingga rasanya jadi lebih enak, begitu pikirnya. Ia menaikkan nilainya satu tingkat dari A untuk versi biasa menjadi A+, dan menegaskan bahwa perbedaan antara A dan A+ itu besar. Menurutnya, versi terbalik ini menghasilkan rasa yang dengan tegas menunjukkan bahwa rempah digunakan dengan berlimpah. Karena cara ini tidak bisa dilakukan dengan microwave di dalam toko, ia menyarankan untuk membawanya pulang dan mencobanya di rumah, lalu menyimpulkan, "Biryani 7-Eleven pas banget kalau dipanaskan dalam keadaan dibalik."

10:20

Arah Resep Tiruan: Bukan Tiruan Sempurna, melainkan Edisi Pengantar

Bagian kedua adalah resep tiruan ala Ryuji. Takarannya untuk 2–3 porsi. Ryuji mengatakan bahwa kalau mau dibuat sederhana, bisa disederhanakan sebanyak apa pun, tetapi ia meminta setidaknya beras basmati disiapkan. Ia sendiri sampai membeli dalam jumlah banyak secara daring karena terlalu keranjingan, dan menurutnya harganya tidak terlalu berbeda dengan beras biasa.

Menurutnya, produk 7-Eleven tidak disiram gravy terlalu banyak, dan kesannya justru nasinya yang sudah dibumbui. Kali ini ia berusaha mendekati hal itu, tetapi ia menegaskan bahwa ia tidak mengincar tiruan sempurna karena itu sulit.

Ryuji memosisikan dirinya sebagai "edisi pengantar". Sambil mengawali dengan, "Pasti bakal ada yang bilang ini bukan biryani," ia berpendapat bahwa dengan menurunkan rintangan, lebih banyak orang akan tertarik, dan yang ingin lebih serius silakan saja lebih serius. Ia juga mengatakan bahwa dalam masakan berempah, kerepotan di awal menjadi tembok di pintu masuk.

Ia juga berbicara tentang masa depan biryani. Karena biryani berasal dari masakan istana India, sejatinya hidangan ini memiliki gengsi, tetapi Ryuji memperkirakan bahwa di Jepang biryani akan berevolusi luar biasa, menyebar ke seluruh Jepang, dan masuk ke masakan rumahan. Ia juga berseloroh bahwa jika ia terjun ke dunia biryani, orang-orang di kalangan biryani pasti tidak senang.

12:28

Cara Membuat Gravy (Saus)

Bahannya adalah bawang putih dan jahe masing-masing sekitar 10 g serta bawang bombai sekitar 150 g, semuanya dicincang halus. Bawang putih efektif untuk memunculkan aroma, dan boleh juga menggunakan versi tube. Bawang bombai boleh diiris tipis, tetapi menurutnya dicincang halus membuatnya lebih menyatu dengan nasi. Ryuji sendiri biasanya mengirisnya tipis karena malas.

Tuang sekitar 2 sdm minyak ke wajan, lalu tumis bawang putih dan jahe sampai hampir gosong hingga aromanya keluar. Lanjutkan dengan menumis bawang bombai. Pada biryani yang sebenarnya, bawang bombai kadang digosongkan, dan produk 7-Eleven pun mengandung bawang bombai gosong. Kali ini ia hanya menumisnya sampai sedikit berwarna, tidak sampai benar-benar gosong.

Selanjutnya, masukkan 1 kotak jus tomat (200 cc). Menurut Ryuji, Erick South menggunakan puree tomat. Jika tidak ada puree di rumah, jus adalah yang paling mendekati, dan jika direbus hingga menyusut akan menjadi puree, begitu cara berpikirnya. Masukkan 8 potong drumstick sayap ayam (tebasaki moto) ke dalamnya lalu rebus. Ada momen ketika staf terkejut dan bertanya, "Di India ayamnya tidak dipanggang dulu?"—ayamnya memang langsung direbus tanpa dipanggang agar empuk.

Untuk bumbu, kali ini ia mengutamakan kepraktisan dengan menggunakan bubuk kari. "Indian Curry" dari S&B sebanyak 3 sdt (sekitar 1 sdm) dan garam 1 sdt. Seharusnya berbagai rempah diracik sendiri, tetapi karena racikan Indian Curry sangat beragam, ini saja sudah cukup. Jika ada garam masala untuk aroma, itu lebih baik lagi. Karena ayam bertulang mengeluarkan kaldu yang enak, rebus selama 15–20 menit. Di tengah proses, karena ingin merebus drumstick sedikit lebih lama, ia menambahkan sekitar 100 cc air.

Ryuji menekankan bahwa ia tidak menggunakan Ajinomoto maupun kaldu ayam konsome. Menurutnya, umami dari ayam saja sudah cukup, dan inilah biryani. Ia berpandangan bahwa produk 7-Eleven menggunakan sesuatu seperti asam amino dan ekstrak ayam karena memang jumlah dagingnya sedikit, jadi wajar saja.

Karena drumstick-nya besar dan bagian sekitar tulangnya masih merah dan setengah matang, ia menggunting sayatan di sepanjang tulang. Dengan cara ini, rasa lebih keluar, lebih mudah dimakan, dan waktu memasak pun lebih singkat. Sebenarnya cukup dengan memberi sayatan menggunakan pisau saat persiapan, tetapi ia memperkenalkan bahwa ini juga bisa dilakukan belakangan sebagai penanganan darurat.

Soal tingkat penyusutan, jika terlalu banyak cairan yang tersisa, nasinya akan lembek, jadi sebaiknya kondisinya kental. Yang penting akhirnya mencapai "kekentalan seperti lumpur" yang pas, dan tutup wajan tidak perlu dibuka. Ia juga menambahkan bahwa hasilnya bisa sangat berbeda tergantung wajan.

16:18

"Biryani Itu Pasta": Direbus Tanpa Direndam dan dengan Garam yang Cukup Banyak

Yang Ryuji tawarkan sebagai "temuan dari riset terbaru" adalah gagasan bahwa "biryani itu pasta". Artinya, beras basmati tidak ditanak, melainkan direbus dalam air yang banyak seperti pasta.

Karena beras basmati mengembang cukup banyak, kali ini ia menggunakan sekitar 200 g. Kadar garam air rebusannya cukup tinggi, sekitar 1,5%, dan menurutnya boleh seasin kuah ramen. Di lokasi, ia memasukkan sekitar 1 sdm garam ke dalam 1,5 L air. Ryuji menunjukkan bahwa nasi pada produk 7-Eleven pun terasa cukup asin.

Biasanya ada tahap merendam beras dalam air, tetapi Ryuji mengatakan, "Dari hasil riset terbaru ternyata itu tidak perlu," dan menyatakan bahwa tanpa direndam pun tetap enak. Waktu perebusannya sekitar 15 menit, dan menurutnya cara berpikirnya sama dengan merebus pasta yang agak tebal selama sekitar 15 menit. Rempah boleh dimasukkan ke sini sesuai selera, tetapi menurutnya tidak perlu.

19:01

Cara Memilih Garam Masala dan Jalan Menuju Versi Autentik

Bagi yang ingin hasil lebih autentik, ia menyarankan membeli garam masala. Namun, sebaiknya bukan produk S&B. Alasannya, garam masala S&B hanya akan menjadi pedas, sesuai dengan tulisan "rempah pedas" pada kemasannya. Yang Ryuji rekomendasikan adalah garam masala bergambar bapak-bapak yang dijual di Kaldi, yang sudah mengandung daun salam dan lainnya, sehingga aromanya lebih autentik dibanding bubuk kari biasa. Ia menjelaskan bahwa jika dibuat dengan bubuk kari, rasanya akan menjadi rasa untuk lidah orang Jepang, sedangkan jika dibuat dengan garam masala, rasanya akan menjadi "lebih seperti di sana".

Sebenarnya nasi direbus bersama rempah, tetapi karena itu membutuhkan rempah dalam jumlah yang cukup banyak, Ryuji jarang melakukannya.

Ryuji menunjukkan bahwa beras basmati tetap enak meskipun didiamkan, sehingga cocok untuk bento yang dipanaskan ulang. Menurutnya, 7-Eleven hebat karena jeli melihat hal itu, meskipun mungkin Inada yang mengusulkannya. Termasuk fakta bahwa produk ini bisa dijual dengan harga 758 yen termasuk pajak per porsi, ia memperkirakan beras basmati pasti akan naik daun ke depannya.

22:11

Sentuhan Akhir: Jangan Diaduk, Biarkan "Belang"

Tiriskan nasi yang sudah matang, taburi sekitar 1 sdt bubuk kari, lalu aduk ringan. Nasi pun akan memiliki warna kuning yang belang. Diganti dengan garam masala pun enak, tetapi kali ini ia tidak melakukannya. Letakkan nasi ini di atas gravy. Biasanya dari sini dikukus, tetapi menurutnya itu pun tidak perlu. Nasi dan saus juga tidak dicampur, karena jika dicampur "jadinya nasi pilaf ayam".

Karena daftar bahan pada produk 7-Eleven mencantumkan mentega, ia menyobek 10 g mentega dan menaburkannya. Menyobek pun dilakukan untuk menciptakan belang, dan Ryuji berulang kali mengatakan, "Biryani adalah estetika belang." Orang Jepang cenderung mengaduk semuanya, tetapi jika diaduk, hasilnya jadi tidak jelas. Saat menyajikan di piring pun, nasi diambil dan ditata dengan tetap mempertahankan belangnya. Sebenarnya tampilannya akan lebih cantik jika diberi daun ketumbar atau wortel, tetapi kali ini ia melewatkannya.

Ada banyak versi cara membuatnya, dan ada pula aliran-aliran seperti gaya ini atau gaya itu. Ryuji mengatakan bahwa jika ia berkata "inilah yang asli", ia akan diserbu kritik. Menurutnya, mengadopsi masakan luar negeri itu sulit, dan bahkan masakan Jepang pun cenderung memicu perdebatan soal mana yang benar dan mana yang asli. Ia juga menceritakan kisah lucu bahwa ketika ia berkata kepada Inada, "Apa aku belajar kari India saja ya," ia malah dijawab, "Jangan bikin kacau."

Karena tidak menggunakan penyedap umami, menurutnya ini biryani yang cukup autentik. Namun, karena ayam bertulang sulit mengeluarkan kaldu dibandingkan beratnya, ada kemungkinan rasanya sedikit kurang keluar. Ryuji mengatakan mungkin akan lebih enak jika ditambahkan 2–3 kali taburan Ajinomoto.

25:17

Mencicipi: "Kalau Punya 7-Eleven Bisa Diterima, yang Ini Juga Bisa"

Saat mencicipi, Ryuji dan staf berulang kali berkata "enak". Ayamnya terutama mendapat pujian "enak gila", dan muncul pendapat bahwa ayam bertulang pun boleh juga. Staf menilai rasa asinnya lebih mantap dibanding produk 7-Eleven, dan Ryuji menjelaskan bahwa itu karena kadar garam air rebusannya dibuat lebih tinggi. Menurutnya, sesuai selera boleh juga diperas lemon atau diberi daun ketumbar atau mint.

Ryuji sendiri mengatakan bahwa sepertinya tanpa penyedap umami pun sudah cukup. Aroma rempahnya memang lebih condong ke bubuk kari, tetapi menurutnya sama sekali tidak masalah. Jika ditambahkan garam masala atau rempah lainnya, aromanya akan berlapis dan menjadi lebih enak lagi, tetapi itu bisa dikejar masing-masing sesuai selera, dan ia sendiri merasa ini sudah cukup sebagai standar. Ia juga menyukai aroma samar mentega yang ditambahkan belakangan.

Sebagai penutup, Ryuji mengajak penonton untuk mencoba biryani 7-Eleven terlebih dahulu, dan jika sempat, mencoba juga membuat "biryani bubuk kari super gampang" miliknya. Klaim akhirnya adalah: jika biryani 7-Eleven bisa diterima sebagai biryani, biryani ini pun pasti bisa.