Mengunjungi Restoran Keluarga Sahabat yang Menyelamatkan Dirinya di Masa Hikikomori: Ryuji Kembali ke "Koryori Akari" di Kampung Halamannya, Chiba

Diterjemahkan dari 日本語

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Peneliti kuliner Ryuji pulang ke kampung halamannya di Chiba dan mengunjungi "Koryori Akari", restoran yang dikelola orang tua Miya, sahabatnya sejak SMP. Dulunya tempat ini adalah restoran sushi, dan kini beroperasi sebagai restoran koryori (masakan rumahan bergaya Jepang). Ryuji menyebut restoran ini sebagai tempat yang "paling banyak membantunya saat masih muda", dan mengatakan bahwa ia belajar sushi maupun memasak di sini. Episode ini memang tentang menikmati hidangan sambil minum sake, tetapi inti pembicaraannya adalah hubungan Ryuji dengan keluarga yang menjadi akar dirinya ini. Ryuji berbicara dengan keinginan untuk menyampaikan kepada penonton baik cita rasa restoran ini maupun orang-orang di dalamnya.

16 menit baca
1:01

Perayaan Kedewasaan hingga Sushi Antar ke Rumah, Semuanya dari Restoran Ini

Ryuji sering datang ke restoran ini saat berusia 20-an, dan perayaan kedewasaannya pun diadakan di sini. Seluruh keluarga Ryuji juga pernah datang ke restoran ini, dan saat masih menjadi restoran sushi, sang pemilik bahkan pernah datang ke rumah Ryuji untuk membuatkan sushi langsung di sana. Saat masih muda, Ryuji diajak sang pemilik ke pasar dan diajari tentang ikan. Dari pengalaman-pengalaman inilah, kata Ryuji, ia mempelajari dasar-dasar sushi di sini.

Syuting diputuskan pada siang hari itu, dan mereka mengunjungi restoran pada sore harinya. Ryuji menegaskan bahwa kali ini restoran beroperasi seperti biasa, "tanpa rekayasa", tanpa persiapan khusus maupun pengarahan. Sang pemilik tertawa dan berkata bahwa kalau diberi tahu sebelumnya, ia bisa menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu. Restoran ini juga memiliki ruang privat, dan Ryuji terkesan dengan kebersihan bagian dalamnya.

2:33

Aneka Sashimi: Tuna, Kanpachi, dan Gurita yang Diiris Bergerigi

Hidangan pertama yang disajikan adalah aneka sashimi. Ryuji mencicipi tuna terlebih dahulu dan menilainya segar tanpa bau amis sama sekali. Sambil menunjuk sudut-sudut sashimi yang tegak dan tajam, ia memuji keterampilan pisau sang pemilik yang dulu seorang koki sushi. Kanpachi pun membuat semua yang hadir serempak berseru "enak".

Reaksi paling besar muncul untuk gurita asal Hokkaido. Gurita itu diiris dengan torehan bergerigi seperti gelombang, dan Ryuji menjelaskan bahwa berkat cara iris ini kecap asin jadi lebih mudah menempel. Ia juga sangat memuji teksturnya yang kenyal, dan mengatakan bahwa rasa seperti ini lahir karena sang pemilik pandai memilih bahan sekaligus mahir menggunakan pisau.

23:10

Sake Chiba Ume Ichirin dan Seluk-Beluk Sake Lokal Chiba

Untuk minuman, mereka memesan sake lokal Chiba, "Ume Ichirin". Menurut Ryuji, kalau bicara sake di Chiba, pasti Ume Ichirin, dan hampir tidak ada orang yang tidak mengenalnya. Ketika rekan semejanya mengatakan baru pertama kali mendengar merek itu, Ryuji menjelaskan bahwa di Chiba ada banyak tempat pembuatan sake. Setelah meminumnya, Ryuji berkata, "Rasanya seperti benar-benar pulang."

Di bagian akhir, pembicaraan meluas ke seluk-beluk sake di Chiba. Menurut Ryuji, papan nama izakaya di Chiba sering bertuliskan "Ume Ichirin". Sepemahaman Ryuji, ada sistem di mana jika nama merek dicantumkan di papan nama, perusahaan pembuat sake akan menanggung biaya papan nama tersebut. Di sisi lain, ia juga menunjukkan bahwa meskipun tempat pembuatan sake di Chiba ternyata cukup banyak, kelemahannya adalah sedikitnya restoran yang menyediakan sake lokal Chiba. Ia menjelaskan alasannya dengan nada bercanda, "Orang Chiba itu benci Chiba", tetapi segera menambahkan bahwa anggap saja "ada banyak pendapat" soal itu.

5:06

"Selama Ini Bilang di Chiba Tidak Ada Restoran Enak", Tapi di Sini Ada

Ryuji menyinggung bahwa ia biasanya mengatakan "di Chiba tidak ada restoran yang enak", lalu menegaskan bahwa restoran ini enak. Rekan semejanya yang baru pertama kali datang juga mengatakan bahwa suasananya tenang dan terasa nyaman seperti pelanggan tetap, padahal baru pertama kali berkunjung.

Mengenai akses ke restoran, Ryuji menjelaskan bahwa lokasinya berada di sepanjang Jalur Sobu, kurang dari satu jam dari Stasiun Tokyo, dan sekitar 15 menit berjalan kaki dari stasiun. Ia juga khawatir sang pemilik tidak bisa beristirahat jika orang-orang dari jauh berbondong-bondong datang, sehingga berulang kali mengimbau agar siapa pun yang ingin datang wajib memesan tempat lewat telepon. Pihak restoran juga mengatakan bahwa dengan reservasi, mereka bisa mengatur jumlah tamu yang diterima.

8:05

Motsuni dan Udang Goreng, serta Masakan Rumit yang Dulu Dibuat Ryuji

Motsuni (rebusan jeroan) ternyata cukup populer. Ryuji mengenang bahwa mungkin itu masakan yang sejak dulu dibuat oleh ibu Miya.

Untuk udang goreng berikutnya, Ryuji berkata, "Ini udang goreng paling enak yang pernah saya makan seumur hidup." Ia terkejut karena di tengah banyaknya udang goreng yang isinya kebanyakan tepung, yang ini hampir seluruhnya udang, dan ia juga memuji saus tartar buatan sendiri. Reaksinya sampai membuat kru syuting terdiam karena saking antusiasnya.

Sang pemilik ingat bahwa dulu Ryuji di restoran ini biasa makan tempura, bukan udang goreng. Pembicaraan pun beralih ke masakan Ryuji sendiri. Saat muda, Ryuji sering membawa masakan buatannya dari rumah ke restoran untuk dicicipi, atau meminjam dapur restoran untuk memasak. Yang ia buat saat itu selalu masakan rumit yang memakan waktu berjam-jam, sampai-sampai sang pemilik berkata, "Kau masih masak juga?", dan pernah harus menunggu. Sang pemilik mengenang bahwa "waktu juga merupakan bumbu". Sementara itu, Ryuji mengatakan bahwa saat itu ia belum punya pengalaman, jadi hanya bisa memasak sesuai teori.

31:27

Alasan Menyukai Kohada

Ketika memesan sashimi ikan aji atas saran rekan semejanya, Ryuji bercerita tentang kohada. Ryuji memang sering mengaku menyukai kohada, dan menurutnya awal mulanya adalah kohada buatan pemilik restoran ini yang sangat enak. Ia juga mengungkapkan bahwa ia pernah sekali diajari cara membuatnya.

Menjelang akhir, kohada benar-benar disajikan. Ryuji senang dan berkata, "Enaknya tidak berubah", lalu menjelaskan cara persiapannya: direndam sebentar lalu ditaburi garam. Rekan semejanya menyindir bahwa kalau saja mereka menghubungi lebih dulu, mungkin sushi pun bisa disiapkan, jadi ini salah Ryuji yang memutuskan pada hari itu juga.

13:25

Buri Kama Bakar dan "Guru Pertama"

Mengenai buri kama (kepala ikan buri) bakar garam, Ryuji menilai cara memberi garamnya khas restoran sushi. Garam ditaburkan tipis di permukaan, dan jika kurang, bisa ditambah sendiri sedikit saat makan. Ia juga menyarankan agar buri kama diperas dengan lemon, dan mengatakan bahwa ini sedang musimnya ikan berlemak. Menurut Ryuji, kesukaannya pada ikan bakar pun berawal dari restoran ini.

Ketika rekan semejanya menggoda dengan memanggil sang pemilik "Mahaguru", Ryuji menyebut sang pemilik sebagai "guru pertamanya". Alasannya, ia banyak diajari soal dunia kuliner oleh sang pemilik. Contoh konkret yang ia sebutkan adalah soal penyedap umami. Sang pemilik adalah orang pertama yang memberitahunya bahwa ada restoran yang menggunakannya dalam jumlah sedikit, dan Ryuji mengatakan bahwa cerita ini juga ia tulis dalam bukunya.

Ketika ditanya tentang alasan restoran sempat tutup, sang pemilik hanya menjawab, "Banyak hal yang terjadi." Ryuji mengenang bahwa ketika ia mulai terkenal sebagai peneliti kuliner, restoran ini belum dibuka kembali.

14:40

Gunkan Telur Puyuh dan Negima Otoro: Rasa yang Tak Terlupakan

Hidangan yang sangat membekas di ingatan Ryuji adalah gunkan telur puyuh yang disajikan pada masa restoran sushi. Sang pemilik bertanya, "Pernah makan ini?" lalu menyajikan gunkan tanpa isi apa pun. Sang pemilik berbalik ke belakang, lalu meletakkan telur puyuh mentah di atasnya begitu saja dan menyuruhnya mencoba. Saat dimakan, rasanya luar biasa enak. Ryuji mengatakan bahwa hingga kini ia tidak tahu satu pun restoran lain yang menyajikan gunkan seperti ini.

Satu lagi yang ia sebutkan adalah otoro yang ditusuk seperti negima lalu dibakar. Meskipun menurutnya hidangan itu kini mungkin sudah tidak disajikan lagi, ia mengatakan bahwa ketika memakannya saat muda, ia berpikir, "Ternyata di dunia ini ada makanan seenak ini." Ryuji mengatakan bahwa semua yang ia makan di restoran ini ia ingat betul rasanya.

Hari itu ikan sarden juga disajikan. Ryuji dan yang lainnya berkali-kali heran karena parutan lobak pendampingnya terasa enak secara tidak biasa.

15:54

Kehadiran Sahabat Miya dan Kisah Masa Hikikomori

Di tengah acara, Miya ikut bergabung di restoran. Keduanya juga sempat bertemu pada Tahun Baru tahun ini. Sudah menjadi kebiasaan sejak lama bagi mereka untuk mengadakan acara minum bersama teman-teman SMP setiap tahun tanpa absen, dan grup LINE mereka pun masih aktif.

Di sini Ryuji menceritakan titik balik dalam hidupnya. Saat ia sedang menjalani masa hikikomori (mengurung diri), rumahnya habis terbakar, dan teman-teman sekelasnya mengira Ryuji sudah meninggal. Saat itu, satu-satunya yang menghubunginya adalah Miya, yang meneleponnya dari telepon restoran ini untuk bertanya, "Kamu baik-baik saja?" Ryuji yang merasa senang pun pergi menemuinya, dan berkumpul bersama Miya serta teman sekelas lainnya di Denny's setempat. Dari situlah pertemanan mereka terjalin kembali. Ryuji kemudian pergi berkeliling dunia pun karena diajak oleh Miya.

Ryuji berkata, "Mungkin kalau tidak ada Miya, aku tidak akan ada seperti sekarang." Menjelang akhir pun ia kembali ke cerita ini, mengatakan bahwa tanpa keluarga Miya, dirinya yang sekarang tidak akan ada, dan karena Miya berkata "Ayo keliling dunia", ia bisa sekali lagi terhubung dengan dunia luar. Ia lalu menyimpulkan bahwa hidup bisa berubah karena hal-hal kecil.

19:21

Sifat yang Tak Berubah Sejak Dulu dan Telepon di Malam Patah Hati

Ketika ditanya tentang sifat Ryuji di masa lalu, Miya dan yang lainnya menjawab bahwa ia sama sekali tidak berubah. Katanya, ia selalu mengatakan hal-hal yang tidak perlu dan tidak pernah mau mengalah lebih dulu. Ryuji sendiri juga mengakui bahwa sejak dulu ia memang suka banyak omong.

Sebagai kenangan memalukan, Miya mengungkapkan cerita berikut. Ketika Ryuji putus dengan pacarnya saat itu, ia menelepon sambil menangis tersedu-sedu. Setelah Miya mendengarkan seluruh ceritanya, kalimat terakhir yang diucapkan Ryuji bukanlah "Terima kasih sudah mendengarkan", melainkan "Ah, lega rasanya." Ryuji sendiri membantah bahwa ia menangis, dan rekan semejanya menertawakannya dengan berkata, "Parah banget."

Tentang hubungan mereka sekarang setelah Ryuji terkenal, Miya menjawab bahwa sebagai teman tidak ada yang berubah. Hanya saja, mereka tidak bisa sering bertemu seperti dulu. Alasannya karena sibuk sehingga waktunya sulit dicocokkan. Keduanya masih lajang, dan mereka saling bercanda bahwa kalau salah satu menikah, yang lain pasti akan panik. Menurut Ryuji, Miya juga mendapat kepercayaan penuh dari keluarga Ryuji. Tentang staf yang ikut hadir, Ryuji mengatakan bahwa biasanya mereka tidak terlalu bersemangat, tetapi kalau bersama Miya, semangatnya naik.

Tebak Hidangan: Karaage Urat Tuna

Ada satu hidangan yang disajikan keluarga pemilik restoran dengan tantangan untuk menebak apa masakannya. Ryuji dan rekan-rekannya semua menjawab ikan buntal, tetapi jawaban yang benar adalah urat tuna. Bagian ini biasanya dibuang. Ryuji menyerah sambil berkata, "Gagal sebagai peneliti kuliner", tetapi menilai rasanya sangat enak. Tampaknya hidangan itu diolah mirip tatsuta-age.

25:07

Tempura dan Tentsuyu Buatan Sang Ibu

Tepung tempura mekar dengan indah. Ryuji merekomendasikan untuk melarutkan parutan lobak dan jahe ke dalam tentsuyu, lalu mencelupkan tempura cumi ke dalamnya. Ryuji menilai tingkat kematangan cuminya juga sempurna. Tentsuyu itu dibuat oleh ibu Miya, dan menurut Ryuji aroma kaldunya benar-benar berbeda.

Menurut Ryuji, restoran ini sejak masa restoran sushi memang terkenal dengan hidangan pendampingnya yang enak. Restoran ini bukan hanya membuat sushi, tetapi juga menyajikan hidangan pendamping, dan kalau diminta, mereka juga bisa menyusun menu course.

27:04

Malam Saat Membawa Pacar Pertama

Ryuji mengungkapkan bahwa restoran ini juga menjadi tempat ia membawa pacar pertamanya. Meskipun saat itu ia tidak punya banyak uang, ia menghabiskan semua yang disajikan. Saat membayar, sang pemilik bertanya, "Sekarang kau pegang uang berapa?" lalu mengatakan bahwa sebenarnya harganya lebih mahal, tetapi karena ia datang membawa pacar, cukup bayar sesuai kemampuannya saja. Ryuji mengatakan bahwa hal seperti ini tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup, dan sekali lagi menyampaikan terima kasihnya. Ia juga terharu karena makanannya masih sangat enak hingga sekarang.

Saat menikmati karaage ikan buntal dengan highball, pembicaraan juga menyinggung bahwa Ryuji kini sudah berusia 40 tahun. Usianya sama dengan putra sang pemilik, yaitu Miya.

28:46

Salad Kesemek dan Teguran dari Ibu Miya

Menjelang akhir, disajikan salad kesemek. Hidangan ini dibuat setelah melihatnya di Instagram. Hidangan ini populer, dan Ryuji menilai bahwa mereka memahami selera para penikmat minuman.

Ibu Miya ingat bahwa dulu ia sering memarahi Ryuji saat masih muda. Salah satunya adalah karena Ryuji tidak menatap mata lawan bicaranya. Ia ditegur bahwa meskipun badannya kecil, kalau tidak menatap mata orang, ia akan terlihat sombong. Satu lagi adalah kebiasaan menggoyang-goyangkan kaki, yang juga disuruh untuk dihentikan. Ryuji memohon agar kebiasaan menggoyangkan kaki dimaklumi karena itu muncul justru saat ia sedang santai, dan sambil tertawa mengatakan bahwa akhirnya ia dimaafkan dengan susah payah.

32:28

Ajaran "Jangan Meminjamkan Uang, Berikan Saja"

Ryuji menyebut "jangan meminjamkan uang kepada orang" sebagai ajaran yang sering disampaikan oleh pasangan pemilik restoran. Kata-kata ini berasal dari sang pemilik. Jika ada orang yang meminta pinjaman uang, berikan saja jumlah yang bisa diberikan saat itu dan katakan, "Hanya ini yang bisa kuberikan, bawalah." Intinya, bukan meminjamkan, melainkan memberikan sebanyak yang mampu diberikan. Ryuji mengatakan bahwa ia masih mengingat ajaran ini dan cukup sering benar-benar menerapkannya.

Untuk chawanmushi sebagai hidangan penutup, Ryuji senang karena rasa kaldunya sangat terasa, dan mengatakan bahwa ia tidak menyangka bisa kembali menikmati masakan orang-orang ini. Sang pemilik merendah dengan berkata, "Masakan kami sederhana saja." Ryuji membalas bahwa karena dirinya yang sehari-hari makan begitu banyak makanan yang mengatakannya, berarti masakan ini memang benar-benar enak. Ia juga mengatakan bahwa keinginan agar orang menikmati makanan enak terlihat jelas dalam masakannya, dan dari restoran yang rapi dan bersih ini terlihat bahwa mereka menjalankan usaha kuliner dengan tulus.

35:20

Setelah Penutup

Dalam salam penutup, Ryuji sekali lagi meminta kepada penonton. Video ini akan dipublikasikan, tetapi kalau ingin datang, mohon lakukan reservasi. Pihak restoran juga mengatakan bahwa jika penuh mereka akan menolak, jadi mohon datang hanya saat ada tempat.

Setelah syuting ditutup pun, percakapan masih berlanjut. Ryuji mengatakan bahwa Miya termasuk "tiga besar orang yang memengaruhi hidupku", bahkan mungkin yang nomor satu. Keduanya pernah saling memarahi dan dimarahi, bahkan pernah berkelahi sampai bergumul. Meski begitu, keesokan harinya mereka saling meminta maaf, dan hingga kini masih minum bersama. Sambil saling meneguhkan hubungan seperti itu, keduanya kembali bersulang.