Membandingkan Mi Cup "Hokkyoku Ramen" dari Mōko Tanmen Nakamoto dan Mengkreasikannya dengan Natto serta Kari Keju

Diterjemahkan dari 日本語

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Episode ini menampilkan peneliti kuliner Ryuji yang, dalam proyek mi cup pertamanya setelah sekian lama, bersama para staf membandingkan dua jenis mi cup "Mōko Tanmen Nakamoto" yang dijual di Seven-Eleven dan toko lainnya. Mereka mencicipi varian standar rasa miso pedas-gurih yang biasa ia sukai dan "Hokkyoku Ramen" yang superpedas, membahas kesan saat memakannya apa adanya, lalu mengkreasikan Hokkyoku dengan natto dan kari keju, hingga akhirnya menutupnya dengan memasukkan nasi.

11 menit baca
0:23

Apa itu Hokkyoku Ramen, dan kesan awal Ryuji

Kalau bicara soal mi cup Mōko Tanmen Nakamoto, varian standarnya adalah rasa miso pedas-gurih, tetapi bintang kali ini adalah Hokkyoku Ramen. Dengan awalan "kalau tidak salah", Ryuji menjelaskan bahwa ini adalah menu paling pedas di Nakamoto. Di Chiba juga ada gerai Nakamoto, dan ia semestinya pernah makan Hokkyoku lewat Uber dan sejenisnya, tetapi jujur saja ia tidak terlalu ingat. Di sisi lain, salah satu staf pernah mencicipi keduanya di gerai, dan mengenang bahwa Hokkyoku "pedas banget".

Menurut staf, mi cup ini tampaknya dirilis setiap tahun sebagai produk edisi terbatas. Ryuji mengatakan bahwa rasanya semestinya sedikit berubah setiap tahun, dan ia mendengar produk ini cukup sering mengalami perubahan kecil. Berdasarkan pengalamannya sendiri saat merilis mi cup, ia juga menjelaskan bahwa mi cup diproduksi sekaligus dalam satu lot berisi ratusan ribu hingga jutaan buah, lalu dijual. Harga keduanya sama, 240 yen per buah.

Ryuji mengatakan bahwa Mōko Tanmen Nakamoto versi standar termasuk dua teratas di antara semua mi cup yang ia sukai, dan dalam video sebelumnya ia sudah memperkenalkan kreasi dengan menambahkan natto. Namun, untuk Hokkyoku, ia mulai mencicipi dengan sikap "entah bagaimana nanti". Ada juga momen ketika ia bercanda bahwa jangankan bilang "nggak enak", bilang "kurang enak" saja bisa bikin heboh di internet, jadi ia hanya bisa bilang "nggak cocok di lidah saya".

2:41

Mencicipi kembali varian standar rasa miso pedas-gurih

Pertama, untuk perbandingan, mereka membuat varian standar rasa miso pedas-gurih. Hal yang Ryuji sebut sebagai keunggulannya adalah isian tahunya; tahunya banyak sehingga terasa seperti ramen mapo. Waktu tunggunya 5 menit. Di antara para staf juga muncul obrolan bahwa orang yang kuat makan pedas pun bisa tumbang, dan tampaknya disarankan maksimal 2 buah per hari. Ryuji menanggapi bahwa wajar saja kalau melihat kalori dan kadar garamnya, sambil menyinggung bahwa kadar garam yang tertera adalah 6,2.

Setelah mencicipinya, Ryuji bereaksi "enak ya" dan "ini dia", dan staf pun mengatakan bahwa mereka paham kenapa produk ini disebut enak. Sayurannya juga cukup banyak, dan penilaiannya adalah bahwa kepuasan sebesar ini dengan harga segini merupakan nilai plus.

4:47

Hokkyoku Ramen: isiannya berbeda, bawang putih dan cabai lebih menonjol

Selanjutnya, saat Hokkyoku dibuka, tidak ada tahu di dalamnya; isiannya hanya sebatas daging babi berbumbu dan tauge. Di kemasannya tertulis "superpedas". Setelah ditunggu 5 menit dan tutupnya dibuka, ternyata ada banyak bawang putih goreng sehingga aroma bawang putihnya menyeruak, dan ketika minyak pedasnya dimasukkan lalu diaduk, aroma cabainya pun keluar dengan kuat.

Persepsi soal tingkat pedasnya berbeda-beda. Ada yang bilang "nggak segitunya", sementara ada juga yang bereaksi "nggak, ini pedas" dan "pedas banget", bahkan salah satu staf sampai berlinang air mata. Ryuji mengakui bahwa kuahnya lebih pedas daripada miso pedas-gurih sebelumnya, tetapi tekstur renyah tauge-nya juga enak, dan menurutnya rasanya ternyata benar-benar enak, lebih dari yang ia kira. Staf juga berkomentar bahwa ini mungkin termasuk yang teratas di antara produk pedas yang dijual di minimarket.

Untuk staf yang kepedasan, muncul obrolan bahwa minum air justru kontraproduktif, dan susu lebih baik. Staf yang benar-benar meminum susu pun terkejut karena rasa perih di mulutnya mereda.

6:49

Arah kreasi: natto, serta bubuk kari + keju

Ryuji mengatakan bahwa saat memakan Hokkyoku apa adanya, ia menemukan bahwa menambahkan bubuk kari dan keju untuk membuatnya menjadi seperti kari keju yang lembut ternyata enak. Idenya adalah orang memakannya apa adanya terlebih dulu, lalu menambahkan keju dan bubuk kari ke dalamnya agar jadi enak. Karena kurang pantas menyuruh orang memakan sisa makanan yang sudah dimakan, mereka memutuskan untuk membuat dua jenis lagi dari awal. Satu versi dengan natto, dan satu lagi versi kari keju. Dalam resep di kolom deskripsi, kreasi natto menggunakan 1 cup Hokkyoku dan 1 bungkus natto, sedangkan kreasi kari menggunakan 1 cup Hokkyoku, 30–35 g keju pizza, dan bubuk kari sedikit kurang dari 1 sendok teh, dan keduanya ditutup dengan memasukkan nasi di akhir.

8:25

Selingan: "Shirane-san" yang terlihat di gerai

Sambil membuat kreasi tersebut, staf bercerita tentang pengalamannya makan di gerai di Chiba. Saat itu, "Shirane-san" datang ke gerai seperti sedang melakukan inspeksi, dan suasananya berubah menjadi seperti sesi foto bersama. Ketika Ryuji menanggapi "Dia kan dewa", staf mengatakan bahwa ia terkesan karena beliau benar-benar menyempatkan datang ke gerai di daerah.

8:55

Kreasi natto: pedasnya mereda, kuahnya jadi kental

Menurut Ryuji, kreasi menambahkan natto ke Nakamoto tampaknya pertama kali dilakukan oleh staf bernama "Taka-kun". Ryuji sendiri mengatakan bahwa kombinasi Nakamoto dan natto sangat enak. Saat natto dimasukkan dan diaduk, natto tersebar merata, dan pada titik ini sudah ada yang berkata "pengin masukin nasi ke sini".

Saat dicicipi, staf berturut-turut bereaksi "nggak pedas sama sekali" dan "enak banget". Rasa kedelainya yang tetap terasa dan kuahnya yang menjadi kental disebut sebagai kelebihannya, dan rasanya jelas lebih lembut dibanding sebelumnya. Staf yang tadinya kewalahan dengan rasa pedas versi aslinya pun bisa menghabiskannya dengan kreasi ini. Staf merekomendasikan kreasi natto sebagai "cara wajib", dan obrolan mengarah pada kesimpulan bahwa alur terbaik adalah memakan minya terlebih dulu, lalu memasukkan nasi setelah minya habis.

10:32

"Saya hanya bilang enak kalau memang benar-benar enak": analisis diri soal kehebohan di internet

Sebelum beralih ke kreasi kari keju, Ryuji berbicara tentang sikapnya dalam berkomentar. Belakangan ada tren bahwa semua hal harus disebut enak, tetapi ia hanya mengatakan enak kalau memang benar-benar enak. Ia sendiri mengakui bahwa karena terlalu tidak sungkan, ia jadi sering memicu kehebohan, cara bicaranya juga buruk, dan kebiasaannya mengatakan segala sesuatu dengan blak-blakan itulah yang salah. Ia bilang ia sendiri sangat sadar bahwa sudah berusia 40 tahun tetapi masih kekanak-kanakan.

Lebih lanjut, Ryuji mengatakan bahwa ia memang harus memicu kehebohan secara berkala. Ketika staf menyebutnya "kecanduan dopamin", ia sendiri tertawa dan menanggapi bahwa dirinya adalah "Dopa-oji" (om dopamin). Saat dihujat, ia berada dalam situasi seolah seluruh masyarakat menjadi musuhnya, dan dari situ ia bisa berusaha sangat keras untuk membalikkan keadaan. Ia tidak suka keadaan ketika dipuji semua orang, dan katanya ia tidak akan termotivasi kalau sesekali tidak dikritik habis-habisan. Sebagai latar belakangnya, ia menjelaskan bahwa dulu, saat bekerja sebagai karyawan hotel, ia setiap hari ditendang bokongnya dan disebut "sampah", sehingga ia tidak bisa berusaha keras kecuali saat dirinya berada dalam kondisi "sampah". Ia juga mengatakan bahwa ia adalah peneliti kuliner yang payah dengan bahasa yang tidak sopan, sehingga bisa diajak berkolaborasi oleh perusahaan adalah sebuah keajaiban. Ada juga cerita bahwa belakangan ini ia menerima sekitar 10 balasan dari orang Nagoya yang berbunyi semacam "jangan kira kamu bisa jalan-jalan di Nagoya dengan aman".

12:08

Kreasi kari keju: momen lupa memasukkan minyak pedas

Ryuji dengan percaya diri mengatakan bahwa kari keju "menurut saya kreasi yang paling enak". Staf heran apakah bubuk kari tidak akan membuatnya jadi lebih pedas, tetapi Ryuji menjawab bahwa tidak akan jadi pedas. Bubuk kari yang ia gunakan adalah jenis yang tingkat pedasnya dikurangi. Saat bubuk kari dimasukkan, aromanya menyeruak sangat kuat, dan kari itu cocok dengan kuah yang pedas. Selain itu, kuahnya juga menjadi kental, dan keju yang meleleh membuatnya lebih lembut. Ryuji mengaku saat mencobanya sebelumnya, ia sempat berpikir kreasi ini mungkin bisa jadi tren.

Saat dicicipi, tanggapannya positif: "enak banget", "cukup gampang dimakan", "paling gampang dimakan". Namun, ketika obrolan beralih ke pertanyaan ke mana perginya rasa pedas, setelah dicek ternyata minyak pedasnya lupa dimasukkan. Ryuji minta maaf karena terlalu lembut dan nyaris jadi curang. Tanpa minyak, rasanya cukup mendekati mi kari.

Setelah minyak pedas dimasukkan dan dicicipi lagi, rasanya pedas tetapi tetap enak, dan kesimpulannya lebih enak dengan minyak. Muncul juga obrolan bahwa kejunya boleh dimasukkan lebih banyak, dan keju lembaran pun tidak masalah. Kali ini Ryuji menggunakan keju pizza, dan ia mengatakan bahwa memasukkan sekitar 30–35 g mungkin akan enak. Di sisi lain, ada juga yang bilang tetap saja pedas. Karena itu, muncul usulan bahwa cara makan dengan tidak memasukkan seluruh minyak pedas sejak awal, melainkan menambahkannya sedikit demi sedikit, juga boleh. Faktanya, saat pertama kali memakannya hanya dengan keju dan kari pun mereka sudah bilang enak, jadi minyaknya boleh saja diposisikan sekadar sebagai pengubah rasa.

14:58

Penilaian akhir: lebih suka versi standar, tetapi Hokkyoku cocok untuk dikreasikan

Penilaian Ryuji adalah bahwa secara pribadi ia lebih menyukai Mōko Tanmen versi standar, tetapi Hokkyoku punya kelezatan yang berbeda. Karena rasa Hokkyoku lebih tajam, menambahkan bahan yang lembut seperti natto atau keju, atau menambahkan bubuk kari, membuat karakter rasanya lebih jelas dan menjadi sangat enak. Karena itu, ia mengatakan bahwa Hokkyoku mungkin sebaiknya dimakan dengan dikreasikan secara serius. Ia juga mengajak penonton untuk memberi tahu kalau punya cara makan yang direkomendasikan.

15:31

Penutup dengan nasi: paling enak dibuat ala bubur atau risotto

Terakhir, sekitar setengah mangkuk nasi dimasukkan ke dalam sisa kuah masing-masing. Menurut Ryuji, banyak orang yang memakan Nakamoto dengan menambahkan nasi. Sesuai perkiraan bahwa versi keju akan menjadi seperti risotto, kejunya meleleh dan hasilnya menjadi ala risotto.

Staf yang memakan versi natto berkata "yang ini mungkin lebih enak", dan ada juga yang bilang ingin memakannya setiap hari. Obrolan pun berlanjut bahwa mereka ingin bubur Mōko Tanmen dijual sebagai produk, dan Nissin pasti bisa membuatnya. Nasi dengan kari keju juga enak, dan Ryuji mengatakan bahwa kalau Nakamoto merilis bumbu kuahnya, pasti laku. Di akhir, Ryuji menyarankan kepada penonton bahwa dengan memasukkan nasi setelah selesai makan, kenikmatannya bisa jadi dua kali lipat, lalu menutup sesi mencicipi.