Ramen Shio 10 Menit dengan Kecap Ikan Noto "Ishiri" dan Namerou Hagatsuo ala Taisho

Diterjemahkan dari 日本語

Buka di YouTube ↗
Ringkasan

Ryuji, yang berkunjung ke Noto, memperagakan cara membuat ramen shio menggunakan "ishiri", bumbu khas Noto. Menurut Ryuji, ramen ini bisa dibuat dalam waktu sekitar 10 menit dan rasanya autentik. Di bagian kedua, Taisho dari sebuah restoran lokal memperagakan masakan secara spontan dengan ikan yang ada di kulkas. Sambil membimbing seorang perempuan muda yang belum pernah memotong ikan, Taisho menyelesaikan namerou hagatsuo dan sashimi. Dalam kedua peragaan itu, ishiri menjadi inti rasanya.

9 menit baca
2:02

Bumbu Seperti Apa Ishiri Itu?

Ryuji pertama-tama menjelaskannya kepada penonton yang belum mengenal ishiri. Ishiri adalah kecap ikan dari cumi, dengan rasa umami cumi yang sangat kuat. Katanya, jika dipakai untuk membuat pasta, rasanya begitu pekat sampai tidak perlu penyedap rasa. Ada orang yang langsung teringat nam pla begitu mendengar kata kecap ikan, tetapi Ryuji menyebut rasanya "sama sekali berbeda" dan menilainya sebagai bumbu yang khas Noto.

1:06

"Chashu Ishiri" yang Dibuat Hanya dengan Microwave

Agar bisa dibuat di rumah, chashu-nya dibuat dengan cara yang sederhana. Cukup siram satu lembar daging has babi Noto dengan setengah sendok makan ishiri, lalu panaskan di microwave 600 W selama tiga setengah menit. Daging babinya matang dan hasilnya menyerupai chashu.

Setelah dipanaskan, Ryuji berkata, "Babinya enak, jadi segini saja sudah cukup." Tanpa olahan tambahan, daging itu diiris miring tipis. Menurut Ryuji, asalkan ada ishiri, tidak perlu repot membuat chashu secara terpisah. Mereka yang mencicipinya pun terkejut karena daging babi yang hanya dipanaskan tiga setengah menit di microwave itu terasa empuk.

2:26

Kuah yang Tinggal Dididihkan

Untuk kuahnya, masukkan sekitar 300 cc air panas ke dalam panci, tambahkan bahan-bahan berikut, lalu panaskan.

  • Ishiri 1 sendok makan ditambah 1 sendok teh
  • Kaldu konbu bubuk setengah sendok teh
  • Kaldu tulang ayam instan setengah sendok teh (produk pasaran pun boleh)
  • Lemak babi 1 sendok makan (katanya, jika tidak ada, minyak sayur atau minyak zaitun pun tetap enak)
  • Bawang putih bubuk 4 kali tabur
  • Merica meja 4 kali tabur

Ryuji menjelaskan bahwa bawang putih bubuk dimasukkan karena lebih baik jika ada rempahnya. Caranya tinggal memasukkan bahan dan mendidihkannya, dan Ryuji sendiri berulang kali berkata, "Gampang banget, kan?" Meski begitu, katanya rasanya cukup mirip ramen restoran. Karena kuah ini sendiri sudah enak, ia juga memperkenalkan variasinya: jika lemak babinya dihilangkan, kuah ini bisa dipakai sebagai kaldu yosenabe.

4:09

Bumbu Pelengkap, Mi, dan Penyelesaian

Sebagai bumbu pelengkap, digunakan daun bawang dan bawang bombai. Ryuji berkata bahwa taburan bawang bombai sangat cocok untuk ramen. Mi yang disarankan adalah mi tipis, dengan waktu rebus 1 menit. Jika mangkuk diisi air panas untuk dihangatkan selagi merebus mi, ramen tidak cepat dingin.

Tuang kuah ke mangkuk, masukkan mi, lalu taburi bawang bombai, daun bawang, dan chashu ishiri sebanyak yang disukai, dan ramen pun siap. Ryuji menyebut ramen ini sebagai "ramen paling gampang dan paling enak" sejauh yang ia tahu. Ia juga mengatakan bahwa ini adalah ramen tercepat sepanjang sejarahnya.

6:07

Reaksi Saat Mencicipi

Yang pertama mencicipi adalah putri Taisho, yang terus makan tanpa berhenti sambil berkata, "Enak banget." Ryuji menambahkan bahwa meski ia juga memakai sedikit kaldu tulang ayam dan kaldu konbu, rasanya hampir seluruhnya rasa ishiri. Lalu ia menegaskan, "Ishiri itu luar biasa, lho."

Selanjutnya, Yusha-san, VTuber lokal dari wilayah Noto, Prefektur Ishikawa, juga mencicipinya. Yusha-san mengatakan rasanya seperti "ramen dari kedai ramen" dan berkomentar bahwa sulit dipercaya ramen ini dibuat dalam waktu kurang dari 10 menit. Ia juga berkata, "Ishiri seharusnya lebih dihargai." Ryuji setuju dan menanggapi bahwa karena ishiri adalah bumbu yang bisa dipakai untuk apa saja, resep bisa dibuat sebanyak apa pun kalau mau.

8:12

Peragaan Spontan Taisho: Persiapan Memotong Ikan

Bagian kedua adalah peragaan Taisho. Taisho berkata, "Aku sendiri juga tidak tahu apa yang bakal jadi," lalu memutuskan untuk memakai bahan sisa dan ikan dari kulkas. Untuk misonya, ia meminjam miso buatan sendiri milik "Sensei" yang ada di sana. Sebagai asisten, dipanggillah Yama-chan, yang katanya belum pernah memotong ikan.

Ikan yang digunakan adalah hagatsuo, yang juga menjadi gambar mini episode ini. Yama-chan belum pernah mendengar tentang hagatsuo. Taisho pertama-tama menyarankan untuk meletakkan sesuatu sebagai alas di atas talenan. Katanya, praktis karena setelah selesai memotong, alas itu bisa langsung dibuang. Ia juga berpesan agar area sekitar tangan dijaga sebersih mungkin.

Ia juga menjelaskan cara membuang sisik. Hagatsuo tidak bersisik, tetapi ikan pada umumnya bersisik, jadi ia hanya menunjukkan caranya. Taisho mengajarkan bahwa pekerjaan akan lebih mudah jika badan sendiri sebisa mungkin tidak digerakkan, dan tanganlah yang digerakkan untuk mengubah arah ikan.

10:21

Membersihkan Kepala dan Darah

Berikutnya, kepala dipotong dan bagian dalam perut dibersihkan. Bagian darah di sepanjang tulang diiris dengan pisau, lalu digosok dengan sikat gigi di bawah air mengalir. Yama-chan pun mencobanya sendiri. Taisho menginstruksikan agar sebanyak mungkin dibuang dulu dengan tangan, lalu sisanya dibersihkan dengan sikat gigi. Katanya, bagian ini penting karena darah yang tersisa bisa menimbulkan bau amis. Setelah dicuci, dagingnya pun menjadi bersih.

Di tengah-tengah, perbedaan antara hagatsuo dan cakalang biasa juga dibahas. Daging hagatsuo agak keputihan, sedangkan cakalang biasa dagingnya lebih merah. Muncul pula cerita bahwa, berbeda dengan orang Tokyo, katanya banyak orang Noto yang bisa memotong ikan. Taisho mengenang bahwa pengisi acara tahun sebelumnya konon bisa memotong ikan setara dengan dirinya.

12:41

Cara Memfilet dan Membuang Tulang Perut

Ia juga memperagakan cara memfilet daging. Yama-chan mencoba tetapi tidak berhasil, sehingga Taisho memberi contoh. Pertama, pisau dimasukkan sedikit, lalu didorong sampai ke ujung seolah meluncur di atas tulang. Ia menjelaskan bahwa yang penting adalah adanya bunyi "krak-krak" saat pisau mengenai tulang.

Ada pula saran untuk rumah tangga mengenai cara membuang tulang perut. Tulang perut lebih pendek dari yang dibayangkan dan hanya sampai setengah jalan. Karena sulit dibuang jika pisau dimiringkan, katanya di rumah tulang itu boleh dipotong buang saja. Taisho menunjuk bagian perut dan berkata, "Bagian ini yang paling enak," sambil menyebut bahwa bagian itu berlemak.

Pada tahap mengiris sashimi, ia mengganti pisaunya dengan pisau sashimi. Ia menjelaskan bahwa bagian ujung yang terpotong bisa dipakai untuk namerou. Ini juga diperkenalkan sebagai kiat yang mudah ditiru di rumah. Terakhir, ia menunjukkan gigi yang menjadi asal-usul nama hagatsuo. Giginya begitu tajam sampai Yama-chan berteriak "Sakit banget!" saat menyentuhnya.

15:45

Namerou dengan Lapisan Makanan Fermentasi Noto

Untuk namerou, hagatsuo yang dicincang dengan pisau dicampur dengan miso dan daun bawang. Menurut Taisho, teksturnya lebih enak jika tidak dicincang terlalu halus. Ke dalamnya ditambahkan ishiri dan minyak wijen. Taisho mengaku belum pernah mencoba kombinasi ishiri dan minyak wijen dan melakukannya berdasarkan insting.

Taisho kemudian menambahkan sedikit sekali heshiko. Heshiko adalah ikan yang diasinkan dalam dedak beras, yang juga muncul di bagian pertama hari itu. Taisho berkata ide itu baru saja terlintas, dan jadilah hidangan yang memadukan berlapis-lapis bahan Noto. Ia juga membuat sashimi kanpachi dan secara spontan memperagakan penataan dengan cara menggulung dagingnya. Taisho mengatakan bahwa semuanya adalah masakan yang masih bisa dibuat di rumah.

18:03

Mencicipi dan Penutup

Orang yang memakan sashimi hagatsuo menilai dagingnya sangat lembut dan ringan, serta mengatakan bahwa kecap asin juga sangat cocok. Taisho menyarankan agar ikan itu juga bisa direndam dalam bumbu dan dijadikan donburi. Taisho sendiri berulang kali mengatakan bahwa ia hanya memotongnya, dan bahan-bahannyalah yang enak.

Kanpachi mendapat pujian karena kadar lemaknya yang pas dan rasa umami yang keluar semakin lama dikunyah. Mengenai namerou, muncul komentar bahwa aroma minyak wijen dan umami ishiri terasa kuat dan enak.

Terakhir, Ryuji mengajak penonton dengan mengatakan bahwa Noto memiliki ikan yang lezat dan bumbu yang luar biasa, dan karena bisa dipesan dari jauh, ia berharap penonton mau mencobanya. Taisho berkata bahwa ia akan langsung lanjut memasak bahkan setelah kamera berhenti, dan peragaan pun berakhir di situ.